Mencari Kehendak-Nya (II) – Menghadapi Kekecewaan

Khotbah Bpk. Paul Zacharia untuk GBI Diaspora, 22 April 2007 –  17.00
Kekecewaan – adalah bagian masalah kehidupan yang tidak mudah untuk diatasi. Tantangan sering berupa kendala-kendala fisik, sosial, ekonomis, politis, hukum dll.
Tapi kekecewaan dalam konteks ini berupa kendala emosional, – yang pasti disebabkan manusia – yang terasa lebih berat daripada kendala yang tak disebabkan manusia.
Kekecewaan bisa sampai pada tahap kepahitan yang disebabkan oleh pengkhianatan. Nampaknya pemazmur punya pengalaman-pengalaman yang membuatnya menulis:
Maz 35:12 (BIS)  Kebaikanku mereka balas dengan kejahatan; aku tenggelam dalam keputusasaan.

TB:  Mereka membalas kebaikanku dengan kejahatan; perasaan bulus mencekam aku.
Maz 41:9  My most trusted friend has turned against me, though he ate at my table.
Maz 41-10 Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.
Masalahnya kita sebagai umat tidak pernah bisa menang secara sejati sebelum kita mampu mengalahkan kekecewaan.

Kisah kekecewaan-pengkhianatan

 

I Sam. 23:1  Diberitahukanlah kepada Daud, begini: “Ketahuilah, orang Filistin berperang melawan kota Kehila dan menjarah tempat-tempat pengirikan.”

I Sam. 23:2  Lalu bertanyalah Daud kepada TUHAN: “Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?”
Jawab TUHAN kepada Daud: “Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila.”

I Sam. 23:3  Tetapi orang-orang Daud berkata kepadanya: “Ingatlah, sedangkan di sini di Yehuda kita sudah dalam ketakutan, apalagi kalau kita pergi ke Kehila, melawan barisan perang orang Filistin.”

I Sam. 23:4  Lalu bertanya pulalah Daud kepada TUHAN, maka TUHAN menjawab dia, firman-Nya: “Bersiaplah, pergilah ke Kehila, sebab Aku akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.”

I Sam. 23:5  Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila; ia berperang melawan orang Filistin itu, dihalaunya ternak mereka dan ditimbulkannya kekalahan besar di antara mereka. Demikianlah Daud menyelamatkan penduduk Kehila.

I Sam. 23:6  Ketika Abyatar bin Ahimelekh melarikan diri kepada Daud ke Kehila, ia turun dengan membawa efod di tangannya.

I Sam. 23:7  Kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah masuk Kehila. Lalu berkatalah Saul: “Allah telah menyerahkan dia ke dalam tanganku, sebab dengan masuk ke dalam kota yang berpintu dan berpalang ia telah mengurung dirinya.”

I Sam. 23:8  Maka Saul memanggil seluruh rakyat pergi berperang ke Kehila dan mengepung Daud dengan orang-orangnya.

I Sam. 23:9  Ketika diketahui Daud, bahwa Saul berniat jahat terhadap dia, berkatalah ia kepada imam Abyatar: “Bawalah efod itu ke mari.”

I Sam. 23:10  Berkatalah Daud: “TUHAN, Allah Israel, hamba-Mu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku.

I Sam. 23:11  Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hamba-Mu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hamba-Mu ini.”

Jawab TUHAN: “Ia akan datang.”

I Sam. 23:12  Kemudian bertanyalah Daud: “Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku dengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?” Firman TUHAN: “Akan mereka serahkan.”

I Sam. 23:13  Lalu bersiaplah Daud dan orang-orangnya, kira-kira enam ratus orang banyaknya, mereka keluar dari Kehila dan pergi ke mana saja mereka dapat pergi.

Apabila kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah meluputkan diri dari Kehila, maka tidak jadilah ia maju berperang.

I Sam. 23:14  Maka Daud tinggal di padang gurun, di tempat-tempat perlindungan. Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif. Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangannya.

Mengenal Profil Kekecewaan

1. Dapat terjadi setiap waktu: Daud mungkin tak terlalu menduga kemenangannya di Kehila justru membuatnya ada dalam sasaran mudah dari kejaran Saul. Tak ada yang dapat memprediksi kapan akan terjadi. Semua situasi dapat berkembang menjadi kekecewaan.

2. Dapat terjadi oleh siapa saja: Daud juga tak akan menduga jasanya akan ditanggapi seperti itu. Ia sudah mengalahkan Goliat, musuh bangsa. Ia menunjukkan baktinya kepada Saul tanpa reserve, dan masih setia walau sudah dicoba untuk dibunuh dua kali. Daud pasti masih kaget-kaget menyadari betapa Saul samasekali melupakan relasi mereka. Tak ada yang terkecuali dapat mengecewakan kita. Bahkan banyak orang jadi terhilang justru karena kecewa terhadap pemimpinnya. Karena itu para gembala memiliki sanksi terlebih berat.

3. Tidak tergantung pengorbanan/ harapan: Bukankah Daud melakukan tugas pengamanan nasional – yang seharusnya dikerjakan oleh Saul sebagai Raja yang resmi? Bukankah Daud dapat mengharapkan tindakan heroiknya mungkin justru dihargai sehingga membuatnya diterima kembali di istana Saul? Tak peduli berapa besarnyapun pengorbanan yang telah diberikan, atau besarnya ekspektasi yang diberikan seseorang, pengecewaan itu dapat saja terjadi. Justru makin besar pengorbanan atau harapan, makin besar pula pengecewaan dapat terjadi.

4. Tidak mendapat dukungan mitra: Daud ternyata tidak sepenuhnya didukung oleh anakbuahnya. Dia harus mengambil keputusan sendiri yang tidak populer di antara mereka. Tak peduli seberapa dekat seseorang kepada kita, belum tentu dia dapat memahami dan meringankan beban kekecewaan kita.

5. Makin dekat yang mengecewakan – makin berat kepahitan/ penderitaan: Daud pasti menderita karena kepahitan dari Saul datang susul menyusul – bahkan melewati serangkaian kesempatan ia nyaris membalas dendam dengan membunuh Saul. (1 Sam 24:5, 16-23) Namun ‘kedekatan’ dan ‘pertobatan’ yang Saul tunjukkan sebenarnya menambah kepahitan. Tak ada yang lebih menyedihkan, saat tau ‘mereka yang makan semeja dengan kita justru adalah orang yang jadi Yudas untuk kita.

4 Kiat Mengatasi Kekecewaan:

 

1. Bergantung Suara/ kehendak Tuhan

•      (1Sa 23:4)  Lalu bertanya pulalah Daud kepada TUHAN, maka TUHAN menjawab dia, firman-Nya: “Bersiaplah, pergilah ke Kehila, sebab Aku akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.”

Ketergantungan Daud kepada Tuhan memberinya kemantapan dalam bertindak. Dia memiliki jaminan kemenangan yang membuatnya berani. Semua kekecewaan dapat kita hadapi bila kita bergantung penuh pada kehendak Tuhan.

2. Lebih taat suara Tuhan daripada suara manusia

•      (1Sa 23:3)  Tetapi orang-orang Daud berkata kepadanya: “Ingatlah, sedangkan di sini di Yehuda kita sudah dalam ketakutan, apalagi kalau kita pergi ke Kehila, melawan barisan perang orang Filistin.”

Sebenarnya Daud punya banyak alasan untuk tidak ikut campur urusan Kehila, karena mereka sedang dalam status buron. Sikon mereka sendiri adalah darurat! Mereka masih harus survive dengan urusan sendiri. Menerjunkan diri membela kepentingan orang lain biasanya dilakukan bila sendiri sudah beres. Namun Daud justru taat pada suara hatinya dan Tuhan sehingga dalam keadaan beratpun dia lebih mengutamakan suara Tuhan. Semua kekecewaan harus terus dihadapi dengan tidak memandang diri sebagai fokus utama.

3. Siap berkorban extra demi kepentingan lebih besar.

1 Sam 23:10 – Berkatalah Daud: “TUHAN, Allah Israel, hamba-Mu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku.

Daud melihat bahwa keberadaannya di Kehila menimbulkan ancaman terhadap penduduknya. Ia tidak memikirkan keputusannya atas dasar kepentingannya, tapi terhadap penduduk Kehila. Kita perlu lebih arif daripada kekecewaan kita dengan mendahulukan kepentingan orang lain.

4. Siap Menerima Keterbatasan

I Sam. 23:14  Maka Daud tinggal di padang gurun, di tempat-tempat perlindungan. Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif. Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangannya.

Daud sempat terlunta-lunta sebagai buron di gurun dengan pengikutnya. Setelah sukses mengalahkan orang Filistin, tentu ia mendapat sambutan dan naungan di Kehila. Berakhir masa pengembaraan yang serba darurat. Tapi dengan kenyataan bahwa ia dikhianati penduduk Kehila, ia memilih untuk mengundurkan diri dengan tenang. Ia tidak membalas kekecewaan dengan kekerasan kepada penduduk Kehila. Mungkin saja mereka lebih memikirkan keselamatan dirinya, setelah menerima teror dari intel-atau panglima Saul yang mengepung mereka. Daud siap kembali ke pengembaraannya di padang gurun dan pegunungan. Kitapun tidak perlu memaksakan emosi kita saat menghadapi kekecewaan. Lebih baik kita mengutamakan kepentingan yang lebih besar dengan mengasingkan diri ke gurun. Dimana kita akan ‘menikmati manna surga dan air segar dari bukit batu’

Yesus hadapi  Kekecewaan

Yoh 10:32  Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Kalian sudah melihat Aku melakukan banyak pekerjaan baik, yang ditugaskan Bapa kepada-Ku. Dari semua pekerjaan itu, manakah yang menyebabkan kalian mau melempari Aku?”

Perhatikan betapa Yesus sendiri sering kecewa – mendapat perlakuan tidak adil dan sebaginya – sehingga melontarkan pertanyaan yang sangat telak dan tak terjawab. Bila Dia pernah mengalami kekecewaan, pastilah Dia mampu mendampingi kita yang kecewa.

Kecewa Jangan Sampai Kehilangan IMAN

Yohanes Pembaptis dianggap salah satu nabi terakhir yang terbesar.

(Mat 11:11)  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.

Namun saat ia dimasukkan penjara, imannya goyah. Bagaimana mungkin Yesus membiarkan dia menderita? Ia membaptis Yesus, bahkan menjadi proklamator kehadiran Yesus sebagai ‘anak Domba Allah yang menyelamatkan isi dunia’.

Pada saat ia dipenjarakan, Yesus cuma menikmati suksesnya sendiri dengan menjadi populer karena kuasa kesembuhanNya??

YOHANES PEMBAPTIS yang perkasa itu masih bisa goyah dalam imannya.

(Luk 7:18)  Ketika Yohanes mendapat kabar tentang segala peristiwa itu dari murid-muridnya,

(Luk 7:19)  ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?”

(Luk 7:20)  Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus, mereka berkata: “Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?”

(Luk 7:21)  Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta.

(Luk 7:22)  Dan Yesus menjawab mereka: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.

(Luk 7:23)  Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

Kita yang mengalami kekecewaan perlu percaya: walau sepertinya Yesus melupakan kita, melalaikan kita, sesungguhnya Ia sedang menolong orang lain yang lebih membutuhkan (‘…katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik…’

PENYERTAAN  TUHAN LEBIH  PENTING  DARI SEMUA  KEKECEWAAN!

•     selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi ALLAH TIDAK MENYERAHKAN DIA KE DALAM TANGANNYA. 1 Sam.23:14

Perhatikan, bahwa sekalipun Daud terpaksa mengembara kembali di padang gurun, ia tidak tertangkap oleh Saul. Kita bisa saja menderita karena kekecewaan kita menggiring pada suatu pengalaman spartan yang tidak nyaman. Namun ada jaminan, di dalam pengembaraan padang gurun itu kita tidak akan diserahkan Tuhan kepada kuasa jahat apapun! Ia menjamin keselamatan dan kesejahteraan kita.

Maz 118:8  Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.

118:9)  Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada para bangsawan.

Maz 73:26  Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.
Apa yang Daud lakukan tepat seperti isi doa dari St.Franciscus dari Assissi:

‘Tuhan, Berikan KEBERANIAN untuk MERUBAH yang bisa kurubah

Berikan KERENDAHAN HATI untuk MENERIMA apa yang tidak

Dan hikmat untuk membedakan keduanya.’

Saat Daud merebut Kehila dari penjajahan orang Filistin, ia memakai keberanian untuk merubah nasib para penduduk kota itu.

Namun ketika ia harus dengan rendah hati mundur dari Kehila, adalah karena ia tidak bisa merubah rencana Saul membinasakan kota itu demi dia, dan ia tidak bisa merubah rencana orang kehila untuk menyerahkannya.

Kita perlu mencari kehendak Tuhan dalam menetapkan bagaimana kita harus mengatasi kekecewaan. Kita eprlu meminta keberanian dan kekuatan untuk masih bisa merubah yang dapat dirubah. Tapi bila tiba saatnya kita sudah sampai di akhir kemampuan kita, kitapun perlu mampu mundur dengan jiwa besar. Kerendahan hati dan penguasaan diri sangat dibutuhkan, karena pengalaman di padang gurun dan pegunungan akan memperkuat kita. Seperti itu menguatkan Daud dan menyiapkannya untuk kembali dengan gemilang ke istana, pengalaman itu juga menyiapkan kita menjadi makin serupa denganNya!

Mari kita mencari kehendakNya selalu untuk memiliki hikmat dalam membedakan kedua situasi ini. Dengan pimpinan Roh Kudus niscaya hal itu akan terjadi.

Penghiburan Pasti Kita Terima:

Biarlah pengecewaan itu kita lewatkan dengan kepastian janji Allah untuk menghapus duka kita semua.

•     Wah 7:17  Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah Akan Menghapus Segala Air Mata Dari Mata Mereka.”

Atas kasih karunia-Nya untuk hamba-Nya:

Paul Zacharia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *