Garam dan Makanan

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

PhotobucketJika anda makan sebuah hidangan dan tiba-tiba didalam mulut anda merasakan ada sepotong kecil garam yang sangat asin, bagaimana perasaan anda? Tentu kecewa dengan makanan tersebut bukan? Semenarik apapun makanan, tetapi jika garam yang dicampurkan di dalamnya tidak larut dan membaur bersama bahan-bahan yang lain, maka makanan itu tidak terasa sedap.

Hal ini serupa dengan orang percaya, kita ditentukan untuk menjadi garam di dunia ini. Keberadaan kita bertujuan untuk mengasinkan, sehingga kehidupan ini terasa sedap bagi orang-orang disekitar kita. Namun jika kita tidak mau kehilangan identitas kita sebagai garam – larut dan membaur – maka kita hanya akan menjadi sepotong garam yang akan dimuntahkan. Apalagi jika sebagai garam anda hanya berkumpul dengan gerombolan garam lainnya, anda akan menjadi garam yang berada dalam sebuah botol, tidak bisa dirasakan dampaknya.

PhotobucketIngatlah tujuan adanya garam, yaitu mengasinkan sekelilingnya, tidak peduli dia kehilangan eksistensinya. Sama seperti sepotong lilin, tujuannya adalah untuk menerangi, tidak peduli bahwa hal tersebut membutuhkan pengorbanan, yaitu melelehnya lilin tersebut.

Hari ini, apakah anda masih jadi sepotong garam di botol, atau garam yang telah membaur dan larut dalam makanan sehingga menjadi berkat bagi sekeliling anda? Jadilah garam dan terang dimanapun anda berada, karena itulah tujuan hidup anda.

Untuk bisa berdampak anda harus rela kehilangan eksistensi anda, seperti garam anda harus larut dan membaur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *