Bila Roh Kudus Bekerja

Oleh Alm.Eka Darmaputera

Ini adalah kisah tentang seorang pendeta di hari Pentakosta yang ingin menyajikan khotbah yang benar-benar mengesankan di hati pendengarnya. Lalu ia mengaturnya begini. Nanti pada waktu ia berkhotbah, tepat pada saat ia mengatakan, “Maka turunlah RohKudus seperti burung merpati.” Seorang dari belakang podium akan melepaskan seekor burung merpati. Bukankah disamping api, Roh Kudus dilambangkan pula sebagai burung merpati? Ia membayangkan, betapa kagetnya jemaat nanti. Yang mengantuk pasti akan tersentak bangun bila burung merpati beterbangan di atas kepala mereka. Ide cemerlang, bukan?

Begitulah, ia mulai berkotbah, beberapa orang mulai mengangguk-angguk diserang kantuk, nah, inilah saatnya. Dengan mantap ia berkata, ”Maka turunlah Roh Kudus seperti burung merpati. ”Namun tak ada yang terjadi. Ia menanti. Tak ada burung merpati. Yang muncul justru orang yang ia tugaskan tadi. Ia berbisik setengah panic, “Pak Pendeta, burungnya dimakan kucing. Apa kucingnya saja yang saya lemparkan?”

Roh Kudus, Saudara, tentu saja tidak bisa dimakan kucing. Akan tetapi ada “kucing-kucing” lain yang bisa membuat Roh Kudus “mati”, tak bisa bekerja lagi. Maksud saya, bukan Roh Kudusnya yang mati, karena Roh Kudus tidak dapat mati. Yang mati adalah gereja atau orang kristiani, bila Roh Kudus tak ada pada mereka, bila roh-roh lain menguasai mereka.

“Kucing” yang pertama adalah roh sinisme, yang mengejek apapun yang bersangkut paut dengan Roh Kudus. Orang-orang yang menggantungkan diri kepada Roh Kudus dianggap sebagai orang-orang yang fanatic, picik, kurang waras. Tidak punya akal sehat.

Memang ada orang-orang yang terlampau melebih-lebihkan peranan Roh Kudus sehingga menjadi fanatic, ekstrem dan picik kehilangan akal waras. Ini adalah orang-orang yang menurut Paulus hanya membangun diri sendiri, tetapi menjadi batu sandungan bagi orang-orang lain. Namun demikian, perlu saya tekankan: Gereja yang cuma mementingkan akal sehat dan mengukur segala sesuatu dari sudut akal, tidak dapat dipimpin oleh Roh Kudus. Ia akan menjadi gereja yang formal, kering dan dingin. Tidak terbuka pada kemungkinan-kemungkinan yang melampaui akal.

Roh Kudus tidak dapat dikuasai oleh akal. Sebaliknya, akal itulah yang mesti dikuasai oleh Roh Kudus. Maka kita akan mengalami hal-hal yang tak terpahami oleh akal.

“Kucing” yang kedua adalah roh materialism. Bila gereja telah dikuasai oleh uang, harta dan kuasa, maka segala sesuatu akan diukur dari sudut itu. Lalu menguap pergilah Roh Kudus dari sana. Ia dapat menjadi besar, kaya dan berpengaruh, tetapi bukan lagi gereja sebab telah kehilangan jiwa. Roh Kudus tak boleh dikuasai oleh birokrasi dan anggaran belanja karena keduanya tidak boleh dianggap sebagai penentu akhir yang paling penting.

Gereja yang dikuasai oleh Roh Kudus adalah organism, bukan organisasi. Ada spontanitas disitu. Ada kehidupan di situ, Bukan sekedar kerapian dan keteraturan se-mata2.

Dan “kucing” yang ketiga adalah roh defactisme, perasaan kalah, perasaan kecil dan tak berdaya. Tak berani mencoba dan berupaya apa-apa kecuali bertahan hidup dan meneruskan apa-apa yang sudah ada. Gereja yang sudah dikuasai oleh roh defeatism adalah gereja yang hanya melakukan apa yang bias, bukan apa yang harus. Gereja yang pandai berdalih, pandai mencari alibi bagi ketidaktaatannya di balik keterbatasan dan ketidakmampuannya.

Kita tidak percaya Roh Kudus sanggup memberi kemampuan kepada kita untuk mengerjakan apa yang harus, bahkan hal2 yang secara obyektif berada di luar kemampuan kita.

Lalu, apa ciri gereja yang dikuasai Roh Kudus itu?

Yang pasti, gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus tidaklah ditentukan oleh berapa kali setahun ia menyelenggarakan KKR. Bukan juga oleh kemampuan nya melalukan kesembuhan ilahi. Atau apakah jemaatnya mampu ber-glosolali (bahasa lidah).

Terhadap yang saya sebut di atas, saya sedikit pun tidak menaruh antipasti, Yang ingin saya tekankan hanyalah, jangan itu kita pandang sebagai bukti penampakan karya Roh Kudus yang paling hakiki. Sebab ada ciri ciri lain yang jauh lebih asasi.

Pertama, gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah gereja yang bersaksi. Ia bersaksi, tidak terutama karena mau, tetapi karena mau-tak mau, karena harus. Roh Kudus menjadi suatu kekuatan yang mendesak-desak dan tak tertahankan dari  dalam. Bila Roh Kudus bekerja, maka hati kita akan dipenuhi oleh suka cita yang luar biasa. Dan bila benar-benar sukacita, maka dengan sendirinya kita akan terdorong untuk membagikan dan menceritakan tentang Dia kepada orang-orang lain.

Kedua, gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah gereja yang beriman, berharap dan mengasihi. Inilah 3 karunia Roh Kudus yang paling utama. “Demikian tinggal ketiga hal ini yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya adalah kasih (IKor 13:13).

Beriman berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Dan inilah yang justru memberikan kepada gereja sikap yang tak kenal menyerah. Beriman berarti gereja mempercayakan diri seutuhnya kepada Allah. Dan inilah yang kemudian memberikan sikap percaya diri yang tak kenal  lelah.

Berharap berarti berani berjalan di depan., tidak hanya terus menoleh ke belakang. Berharap berarti gereja berani terus maju ke depan dan tidak tertelan oleh kenyataan. Terus mencari kemungkinan-kemungkinan baru, tidak hanya meneruskan kebiasaan – kebiasaan lama.

Mengasihi berarti menterjemahkan baik iman maupun pengharapannya itu dalam sikap dan tindakan nyata terhadap sesama. Sikap kesetiakawanan yang penuh. Kepedulian yang tulus. Membuka hati dan mengulurkan tangan. Saling berbagi dan membagi.

Kalau gereja dan orang kristiani benar-benar mengasihi, ah , mungkin Komisi Pengabaran Injil tak perlu lagi ada. Kasih itu sendiri yang akan menjadi saksi yang paling otentik. Dan paling efektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *