Apakah Persepuluhan itu? (Pro dan Kontra)

Pernahkah anda menemui ada orang Kristen yang takut akan Tuhan tapi mereka sangat tidak setuju dengan hal-hal yang menurut kita sangat penting seperti “perpuluhan”?

Photobucket

Para pendukung perpuluhan mengutip Maleakhi dan mengatakan bahwa tingkap-tingkap langit akan dibuka untuk mencurahkan berkatNya.

Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. (Maleakhi 3:10)

Mereka tegas menetapkan prinsip seperti Abram yang memberikan perpuluhan kepada Melkisedek (Kejadian 14: 18-20). Kebanyakan kelompok ini akan menilai anda merampok Allah jika anda tidak memberikan perpuluhan.

Para penentang persepuluhan akan memberi tahu Anda bahwa Abraham, versi baru dari Abram dan pasca perjanjian dengan Allah, tidak pernah memberikan perpuluhan. Paling tidak hal itu tidak tercatat. Juga tidak Israel, yaitu Yakub setelah pertemuannya dengan Allah. Beberapa penentang juga menyatakan dan menunjukkan bahwa menurut hukum Musa, persepuluhan hanya sebagai persepuluhan jika diberikan ke bait Allah dan perpuluhan hanya dituntut jika ada peningkatan pada hasil pertanian … dengan kata lain, bukan merupakan keuangan tetapi peningkatan hasil tanah. Bahkan, karena tidak ada lagi sebuah bait Allah, apa pun yang diberikan kepada gereja secara teknis bukan merupakan persepuluhan.

Sedangkan bagi saya, saya sudah tidak mempermasalahkan mengenai hal ini. Saya benar-benar tidak peduli. Saya akan memberikan 10% pertama dari apa yang Allah telah dipercayakan kepada saya untuk mengelola sebagai simbol bahwa Allah yang pertama dalam hidup saya. Apakah saya tahu bahwa 100% dari apa yang saya miliki adalah milik Tuhan? Tentu saja. Saya juga telah menjadi korban yang hidup. Tapi tak ada yang dapat melihatnya, kecuali melalui tindakan saya. Jadi ya saya berikan saja.

Tapi saya tidak menganjurkan memberi untuk meredakan rasa bersalah. Tuhan tidak mempersalahkan. Dia tidak perlu mempersalahkan orang-orang, agar supaya mereka memberikan “Dia” uang. Ingat, Ia yang memiliki dunia ini.

Hal ini kadang juga mengganggu pikiran saya ketika saya melihat begitu banyak kehidupan Kristen yang bergelimang harta, kaya raya, berpenghasilan lebih, dll. Tetapi untuk anda ketahui bahwa hal ini bukan masalah saya dan bahkan bukan wewenang saya untuk menilai mereka, darimana mereka dapat harta itu, dan apakah mereka memberikan perpuluhan atau tidak. Saya tidak hidup bersama mereka. Dan saya juga tidak berdiri mewakili mereka ketika nanti waktunya mereka berhadapan dengan Yesus. Allah begitu besar sehingga jika ada manusia yang menyalahgunakan uangNya, Dia pasti bisa mengatasinya.

Selain itu, Allah tidak menyebut sebagai dosa untuk seorang menjadi kaya. Dia memberkati Abraham sangat berlimpah. Dan itu adalah takdir Abraham dan banyak juga orang-orang yang seperti itu dalam hidup ini. Siapakah saya, sehingga saya berhak mengatakan bahwa orang-orang Kristen kaya tidak memberikan kekayaannya untuk kemuliaan-Nya dan tujuan-Nya.

(Dan saya akui, beberapa sikap saya sudah dikotori oleh iri hati, kecemburuan dan arogansi berpikir bahwa interpretasi saya soal Alkitab adalah lebih akurat daripada mereka. Tapi saya cukup yakin bahwa tidak ada satu orang hiduppun yang 100% sempurna pada interpretasi, pemahaman, aplikasi atau pembacaan Alkitab kita)

Saya pikir mereka yang tidak memberi adalah benar-benar kehilangan salah satu pengalaman terbesar menjadi seorang Kristen. Tidak diragukan lagi salah satu ayat yang banyak dikutip dalam Alkitab adalah “Karena Allah begitu mengasihi dunia, Ia MEMBERI …”

Persepuluhan bukan merupakan prasyarat untuk masuk surga. Persepuluhan tidak merupakan persyaratan untuk membuktikan kekudusan. Persepuluhan tentu bukanlah suatu isu yang penting yang menjadikan Alkitab harus didedikasikan sebagian besar untuk membahas itu.

Namun, Alkitab berbicara tentang memberi dari hati ceria, untuk memberikan seperti untuk Tuhan, untuk menghormati Tuhan dengan segenap sumber daya kita. Alkitab juga memiliki banyak ayat yang berbicara tentang uang, hubungan kita dengan uang dan manajemen kita tentang uang. Alkitab juga berulang kali memberitahu kita untuk memberikan seluruh hidup kita kepada Tuhan.

Saya percaya Tuhan ingin kita mengasihi dengan memberi kepada orang lain. Apakah itu secara langsung (atau diam-diam) kepada seseorang yang membutuhkan, untuk mendukung pelayanan /gereja yang bekerja untuk Tuhan atau bahkan orang asing yang tiba-tiba Tuhan tempatkan di depan Anda untuk melihat apakah Anda mematuhi suara-Nya yang pelan yang muncul dihati Anda.

 

Jadi ketika menyebut “persepuluhan”, sebut saja itu “memberi”. Sebut saja “tindakan kebaikan acak,” sebut saja “membangun harta di surga.” Sebut saja dengan apa pun yang Anda inginkan, tetapi yang terpenting adalah sikap dalam melakukannya – menjadi sungai berkat dan saluran pada apa yang Allah telah percayakan kepada Anda untuk memberkati mereka yang Allah telah tunjuk untuk menerima. Lakukan itu dengan senang hati. Lakukanlah dengan sukarela. Kita semua akan mendapatkan giliran kita.

Saya sudah menulis untuk meringankan rasa sakit saya, saya telah menulis dengan mendengar suara hati saya, saya juga sudah menulis untuk kesombongan saya, saya telah menulis untuk kewarasan, saya sudah menulis untuk bersenang-senang, saya telah menulis untuk bahan tertawaan, saya juga telah menulis untuk uang. Tapi sebelum saya menulis untuk Tuhan, bakat menulis ini adalah sia-sia. Sama halnya seperti uang kita bukan?

Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *