Rancangan Tuhan Dalam Pernikahan Kristen | Pernikahan Kristen adalah Permanen

Bagaimana rancangan Tuhan dalam pernikahan kristen? Tuhan merancang pernikahan untuk menjadi permanen. Terlebih lagi dalam pernikahan kristen, karena didalam pengajaran kekristenan, kita mengetahui bahwa hubungan antara Tuhan dan jemaatnya dianalogikan atau digambarkan dengan hubungan pernikahan. Dia tidak merubah hukumnya sendiri dan mengijinkan perceraian.

Hal ini tentu kelihatannya lucu dan bertentangan dengan hukum Musa. Musa mengubah hukum karena hati orang Israel yang keras. Kembali pada jaman Musa, para suami membuang istri mereka ke jalanan ketika mereka ketahuan diperkosa. Untuk menolong para wanita agar tidak dibuang seperti binatang, Musa merasa perlu untuk membuat hukum baru. Hukum yang baru adalah para pria harus membuat surat resmi penceraian dan mengesahkan ke peradilan Musa agar bisa menceraikan istrinya, mereka akhirnya tidak bisa lagi semena-mena membuang istri mereka ke jalanan yang seperti biasa mereka lakukan. (Ulangan 24:1-4) Hukum baru ini menghalangi para suami menceraikan istri mereka.

Pernikahan adalah permanen sesuai rancangan awal dari Allah. Terlebih lagi pernikahan kristen.

Sekarang, mari kita kembali pada kejadian awal. Allah menyatukan dua manusia (pria dan wanita) menjadi satu daging, dimana menjadikan juga kesatuan seorang pria dan seorang wanita dalam pernikahan. Tidak ada seorangpun atau apapun yang bisa memisahkan apa yang sudah disatukan Allah.


Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang sudah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. (Matius 19:6)

 

Tetapi orang Farisi hendak mencobai Yesus, dan selalu dengan mengutip ayat ayat Firman Tuhan. Mereka coba memutarbalikkan bahwa Tuhan berkata apa yang sudah disatukan Allah tidak bisa dipisahkan oleh manusia, dan sekarang dihadapan mereka ada pria yang menggunakan hukum Musa untuk berusaha menceraikan istrinya.

Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” ( Matius 19:7)


Sebelum kita baca jawaban Yesus, ketahuilah bahwa Yesus tidak mengijinkan kita menceraikan pasangan kita, kecuali karena ketidaksetiaan dalam pernikahan atau karena perbuatan zinah. Dia hanya menjelaskan bahwa Musa membuat hukum baru karena kedegilan hati kaumnya. Sekarang, ketika anda baca ayat dibawah ini maka anda akan dapat pengertian yang lebih.

 

Kata Yesus kepada mereka: “Karena KETEGARAN HATIMU Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi SEJAK SEMULA TIDAKLAH DEMIKIAN (Matius 19:8).

Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” (Matius 19:9)

 

Pada paragraf kedua tidak dimaksudkan hanya karena pasangan telah tidak setia selama satu kali maka Tuhan mengijinkan perceraian. Maksud Yesus untuk frasa“kecuali karena zinah”, adalah bagi seorang pria atau wanita yang tidak mau mengakui dosanya (hati degil/tetap melakukan dosa yang sama) dan memang orang tersebut yang mau keluar dari pernikahan.

Kata zinah menurut Strong’s Exhaustive Concordasi untuk Alkitab, berarti persetubuhan diluar nikah, seorang wanita di prostitusi, pria atau wanita yang terus menerus melakukan dosa sexual.

Hal ini tidak berarti untuk seorang suami atau istri yang mengakui dosa dan kesalahan mereka dan berbalik dari kehidupan yang lama serta mencari pengampunan. Sekarang baca lagi ayatnya untuk mendapatkan arti yang sesungguhnya.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” (Matius 19: 9)

 

Tetapi…. bagaimana jika seorang suami atau istri memang menginginkan untuk meninggalkan pernikahan kristen dan menginginkan perceraian karena mereka terlalu mementingkan dirinya sendiri, … apa yang bisa anda lakukan?? Biarkan mereka pergi!

Jika seseorang tidak percaya tetap mau bercerai, ya biarkan saja mereka. Orang-orang percaya tidak perlu terlalu terlibat dalam situasi yang mereka buat. Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam perdamaian.

Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.

(I Korintus 7:15)


Jangan salah mengerti terhadap ayat tersebut. Itu tidak mengatakan bahwa anda bisa bercerai sekarang dan menikah lagi. Ayat tersebut hanya bilang “tidak terikat”. Silahkan saja jika orang yang tidak percaya itu meninggalkan anda, jika memang mereka ingin. Ayat itu juga tidak mengatakan bahwa anda boleh bercerai atau menikah lagi dengan seseorang yang lain.

 

Kepada orang-orang yang telah kawin aku–tidak, bukan aku, tetapi Tuhan–perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.

Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya. (I Korintus 7:10-11)

Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain. (Roma 7:2-3)

Pernikahan Kristen adalah Permanent

Tuhan ingin agar pasangan yang menikah berhenti untuk mencari-cari alasan untuk bercerai. Dia ingin agar kita konsentrasi agar tetap bersama. Pernikahan adalah sampai maut memisahkan satu dengan yang lain. Tetapi jika pasangan anda sudah sakit secara rohani dan hatinya degil, anda tidak bisa mencegah dia untuk tidak menceraikan anda.

Meskipun perceraian kelihatannya legal dimata manusia, karena Musa mengijinkannya, tetapi di Mata Tuhan pasangan tetap dalam pernikahan sampai maut memisahkan mereka. Inilah mengapa Tuhan mengatakan bahwa jika seseorang menikah lagi padahal pasangannya masih hidup, berarti dia berbuat zinah.

Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.

Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain. (Roma 7:2-3)

 

Save

Save

Save

Save

84 tanggapan untuk “Rancangan Tuhan Dalam Pernikahan Kristen | Pernikahan Kristen adalah Permanen

  • 26/07/2010 pada 16:44
    Permalink

    istriku tak pernah mau mengakui kesalahannya(bukan berjinah), tetapi tipe tak pernah mau mengalah. segala yg di kehendaki harus dilakukan dan tidak segan-segan membantah suami di depan umum. Kalau yg dia mauin tak dilaksanakan dengan caranya, maka sanggup tak ngomong dengan suami berminggu-minggu. kami berumah tangga sdh 13 tahun. selama itu saya merasa menderita bathin dan saya berupaya mengajaknya berdialog, selalu tdk nyambung. saudara2nya juga mengakui bahwa istr iku ini tipe “keras kepala”, cerewet, cepat marah dan marah2 sama anak dan suami, tidak menghargai suami. Pendek kata ingin mendominasi dan menguasai…bahkan pikiran suami juga dia merasa tahu. saya banyak mengalah demi anak2, tapi sekarang rasanya …berat sekali. sampai berapa lamakah saya bersabar. ( saya blm pernah selingkuh, tapi dituduh selingkuh sering sekali ).Bolehkah saya ceraikan istriku…???

    Balas
    • 27/07/2010 pada 11:55
      Permalink

      Segala sesuatu akan menjadi sangat berat jika kita terus menghidupi pengalaman yang seakan-akan selalu terlihat pahit. Atau enak di dia gak enak di saya. satu hal pengampunan itu sesuatu yang harus di lepaskan. memang sangat membutuhkan kedewasaan dan kacamata dari sisi yang berbeda dengan yang 13 tahun telah dijalani. Kemarahan istri anda saya yakin pasti memiliki alasan tersendiri yang bahkan sudah tak lagi terbaca oleh anda selaku suami karena sudah terlalu sering mengalami hal yang sama berulang kali. Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup, Allah yang mempunyai sebuah rancangan yang istimewa dibalik pernikahan anda dan istri. artikel ini dapat saja menjadi sebuah alat komunikasi, lampirkan sedikit tulisan bahwa anda ingin tetap mempertahankan pernikahan ini, coba untuk ambil jam doa yang sama walau tak berdoa bersama, biarkan Allah melayani masing-masing pribadi anda dengan caranya yang ajaib karena kita melibatkan Dia dalam masalah yang telah menyita waktu dan perhatian anda selama ini.jadilah pelaku Firman, imani bahwa pernikahan anda juga dapat dipulihkan bahkan dijadikan lebih indah, lebih manis dari apa yang anda dapat bayangkan, dan itulah yang Allah akan lakukan pada orang-orang yang setia dan berharap kepada pertolonganNya. Hapuskan kosakata cerai dari kamus pernikahan anda. Jangan pikirkan hal-hal yang instant tetaplah setia pada pengharapanmu. Semangat!

      Balas
      • 28/07/2010 pada 11:55
        Permalink

        thanks advicenya. ok, kosa kata cerai di hapus. kami pernah sebulan tidak ngomongan,,,aku menangis di hadapannya ( walaupun itu bukan salahku,,,,) dan kembali baikan.terakhir dua bulan lalu, aku yg minta maaf dan kembali baikan. Permasalahan dua bulan yg lalu sekarang dia ungkit, dan kembali tidak ngomongan.
        cerita dua bulan yg lalu sbb: istriku minta password FB ku.( dia sendiri gatek ) dan menuduh ngak pantas berteman dengan gadis2 walau di FB. Aku tidak mau memberikan password ku. Kenapa? menurutku ini memasuki ruang privasi dan ia berusaha mengendalikanku lagi (roh izebel), selama ini aku tak setuju dompetku dia buka tanpa seiijinku, karena aku juga ngak pernah mau buka dompetnya/tasnya tanpa seiijin dia. Tetapi dia ngotot kenapa tidak boleh buka dompetmu???katanya. Ku katakan bahwa suami istri memang terbuka,,tetapi bukan mengendalikan 100 persen pribadi pasangannya. (kebetulan hobbiku membaca, hobbinya nonton sinetron). Seluruh penghasilanku , kuserahkan padanya…dan bila aku butuh,,,aku minta. Waktu memberi,,,sepertinya ada kepuasan pada dia..karena harus kujelaskan untuk apa,,sambil memberi pasti ada komentn yg ngak enak darinya,,sialnya waktu kuajak dialog,,tentang perasaanku,,,jawabnya..itu kan perasaanmu.!!! Seluruh pengorbananku waktu dia sakit ( kanker payudara,,kutemani 3 minggu di Penang dengan modal pinjam sana-pinjam sini..) menurutnya ,,itu kewajibanmu. Yang ku mahu darinya adalah hanya…JANGAN MEMAKSAKAN KEHENDAK..Thanks admin..sudah mau repot2 baca keluhanku Gbu.

        Balas
        • 06/08/2010 pada 11:59
          Permalink

          Maaf Pak, karena saya ada tugas keluar kota sehingga tidak sempat bales bapak.
          Terlepas dari seperti apa latar belakang pernikahan anda, apa yang sudah bapak lakukan tidak ada yang salah. Berikan terus pengampunan dan kasih, saya tahu memang tidak gampang, tapi tidak ada yang mustahil buat Tuhan.
          Tetap berdoa pak, saya juga akan masukkan dalam daftar doa saya dan istri untuk bapak dan keluarga. Hanya Tuhan yang menjadi jawaban untuk semua permasalahan kita. Tuhan memberkati keluarga bapak.

          Balas
        • 03/10/2014 pada 12:03
          Permalink

          Pak Besler,

          Kami baru menikah skitar 1bulan stengah, hanya info.

          Sebelumnya saya mengucapkan terima ksih pak besler uda jadi berkat buat sya.
          Bpk sudah luar biasa bertahan sampai 13thun, sedangkan saya bru sperti benih yg baru ditanam.
          Dari cerita bpk, sya merasakan hal yg sama (persis) meskipun situasi dan kondsi nya berbeda.
          Saya yakin bpk adalah org yg taat trhdap FirTu.

          Pak Admin,

          Saya setuju sekali dgn apa yg bpk katakan : “Berikan terus pengampunan dan kasih, saya tahu memang tidak gampang, tapi tidak ada yang mustahil buat Tuhan.”

          Thanks all.
          Gbu

          Balas
          • 17/11/2015 pada 15:20
            Permalink

            Saya sudah menikah 10tahun. suami saya selingkuh sejak belum genap 1 th pernikahan. selingkuhannya sudah pernah datang ke rumah dan marah2 tapi suami pura2 tidak kenal. bahkan ada foto2 yang dikirim cewek itu dimana suami saya sedang tidur dan hanya pakai celana dalam disamping cewek itu tapi suami tetap pura2 tidak tau dan tidak mau mengakui. saat anak kami yg besar berumur 3,5th pernah diajak makan dengan cewek itu…suami jawabannya tdk pernah sama tapi akhirnya memang cewek itu cuma suami bilang ketemu di tmpt makan tanpa sengaja padahal pengakuan anak kami itu cewek dijemput baru sama2 pergi makan. saya ingin bercerai tapi saya merasa gak sanggup biayai 2 anak saya jika bercerai dan ada kasian juga dengan anak2 kalau harus menanggung akibat ortu cerai wlpn suami pulang kerja gak tiap hari.

  • 22/01/2015 pada 19:17
    Permalink

    Saya suka takut sendiri melihat teman / saudara yang baru pacaran sudah buru-buru menikah. Adaptasi itu membutuhkan proses dan umumnya 1 tahun tidaklah cukup untuk cukup mengenal seseorang, apalagi masih tinggal dirumah masing-masing.

    Balas
  • 14/09/2015 pada 08:16
    Permalink

    Syalom…stlh membaca renungan ini..sy teringat pd pernikahan sy..suami sy tlh meninggalkan sy 2 thn yll dan ingin menceraikan sy. Alasannya krn ketidakcocokan karakter dan budaya. Dibalik itu semua dia ternyata kembali pd mantannya dan tlh memiliki anak. Dia tlh meminta maaf kpd sy..tp ttp ingin bercerai. Apakah suami termasuk berhati degil krn sampai saat ini mrk sdh tinggal bersama tanpa menikah? Dan apakah sy hrs bercerai dgn dia?

    Balas
    • 14/09/2015 pada 12:06
      Permalink

      Syalooom…Terima kasih atas respon yg telah diberikan. Menurut pendapat saya pernikahan dilakukan dihadapan Allah, perjanjian yg kita buat bukan hanya antara suami istri namun juga dengan Allah. Allah rindu pernikahan ini menjadi benih yg baik bagi kehidupan keluarga. Apakah sungguh benih itu telah diusahakan berdasarkan kasih dan keteguhan iman diantara kalian? Jika semua yg berlalu telah menjadi benih2 yang pahit, hanya membawa duka dan hilangnya damai sejahtera, terlebih sudah ada perzinahan, maka sebaiknya usahakanlah pengampunan dan hilangkan semua rasa yg membelenggu.
      Lepaskanlah janjimu dihadapan Allah dan berdamailah dengan Dia. itu yg paling penting. Jika suami merasa tdk nyaman dengan status kalian, lepaskanlah dia.
      Mulailah kehidupan yang baru, seperti yg firman Tuhan katakan.
      2 tahun adalah waktu yg cukup panjang untuk tak lagi menghabiskan waktu memikirkan hal ini. Mari maju bersama Tuhan melakukan hal hal yang luar biasa yang Ia rancangkan dlm kehidupanmu.
      Bersekutulah dengan Tuhan dan Dia akan menunjukkan jalan yang terbaik untuk anda. Percayalah Dia sangat mengasihi Anda.
      Tuhan memberkati kehidupan saudara. Amin.

      Balas
  • 15/09/2015 pada 17:07
    Permalink

    Syaloom.. Saya punya kakak perempuan. Dua tahun setelah pernikahan kakak saya, kakak saya menemukan bahwa suaminya selingkuh. Saya tidak heran karena gelagat suaminya sudah saya tahu sebelum dia menikah dengan kakak saya. Setelah ketahuan selingkuh, suami kakak saya malah yang justru marah dan berniat menceraikan kakak saya. Laki2 itu beralasan kalau oernikahan mereka akibat perjodohan yang dilakukan antara ayah nya dan ibu kami. Jadi setelah ayahnya meninggal dia menjadi semakin semena2 kepada kakak saya. Kakak saya kebetulan tinggal di kota yg berbeda dg suaminya, krn suaminya yg tidak mengijinkan kakak saya mengikuti dirinya. Dan ibu mertua kakak saya pun mulai jahat kepada kakak saya. Kakak saya akhirnya tinggal sementara di rumah suami an mertuanya itu, namun tidak diperlakukan baik oleh keduanya. Dan akhirnya kakak saya pulang ke rumah kami. Tidak terasa sudah 5 tahun pernikahan mereka, ibu mertua kakak saya pun meninggal. Dan tidak lama setelah itu, suami kakak saya menggugat cerai karena mau menikah dg selingkuhannya. Pada gugatan pertama dg saksi2 palsu yg dibawa dan lawyer yg dibayar mahal untuk mereka ternyata tidak bisa dipenuhi. Kakak saya berjuang seorang diri dalam persidangannya. Selang berapa lama gugatan dilancarkan lagi dan akhirnya dipenuhi. Kakak saya telah berusaha memperjuangkan perkawinannya dg sungguh2, tetapi hasilnya memang tidak seperti yg diharapkan. Padahal kakak saya mau mengampuni kesalahan suaminya. Karena bagi dia perkawinan hanya sekali dan ada Tuhan di dalamnya. Suaminya dg enteng bilang mau bertanggung jawab di hadapan Tuhan untuk menceraikannya. Saya sebagai adik ikut terpukul, karena kakak saya blm punya anak sampai saat ini sebagai teman . Akan tetapi bbrp keluarga berfikir kakak saya masih muda dan masih bisa menikah lagi, bahkan pendeta pun ada yg menyarankan seperti itu, tetapi ada jg pendeta yg tidak mengijinkan. Dan setelah saya membaca ini, berarti kakak saya dipanggil hidup dalam damai sejahtera. Tapi bagaimana damai sejahtera ini diwujudkan karena kakak saya jd sering dihina oleh teman2nya dan dia menjalani hidup yg keras…

    Balas
    • 16/09/2015 pada 12:08
      Permalink

      Shalooom, saya mau memberikan pandangan kepada saudara anonim (yang kakaknya sudah ditinggalkan oleh suaminya).
      Semoga Tuhan bekerja kepada kita semua dan membuka mata hati kita semua, karena hanya Tuhan yang mampu memberika jawaban dan solusi. Kami dari Artikel Kristen hanya menjadi alatNya saja.
      Jika dari pandangan kami berdasarkan Firman Tuhan yang juga kami cuplik di Artikel diatas, jelas dikatakan bahwa jika pasangan masih hidup, sebaiknya istri tetap tinggal dalam keadaannya sekarang.
      ” Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.
      Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain. (Roma 7:2-3)”
      Sebaiknya kakak anda tetap tidak menikah. Ini lah kesempatan kakak anda mendapatkan damai sejahtera dari Tuhan sendiri, inilah kesempatan kakak anda mendekatkan diri kepada Tuhan dan merasakan kasihNya, dan yang terlebih penting adalah TAAT terhadap perintah Tuhan. Jika kita TAAT sepenuhnya kepadaNYA, saya yakin Tuhan akan turut bekerja mendatangkan kebaikkan (Roma 8:28).
      Pertanyaan anda adalah : Tapi bagaimana damai sejahtera ini diwujudkan karena kakak saya jd sering dihina oleh teman2nya dan dia menjalani hidup yg keras…?
      Damai sejahtera kita seharusnya tidak dipengaruhi oleh kondisi diluar kita, seharusnya damai sejahtera dalam kita datangnya adalah dari rasa mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Biarkanlah orang lain menghina kita, oleh kondisi ini kita belajar lebih sabar lagi, lebih rendah hati lagi.
      Renungkan hal ini, ketika anda berdoa meminta agar Tuhan memberikan kepada anda kesabaran, apakah Tuhan akan “langsung” meniupkan sifat sabar kepada Anda? Atau Dia akan membawa anda kepada kondisi-kondisi yang menuntut anda sabar? Saya yakin Dia akan membawa anda ke kondisi yang kedua, yang mana anda akan belajar sabar disitu, disitulah anda menang.
      Jadi soal Damai Sejahtera adalah hal yang sama. Ketika anda dekat dan berserah penuh kepada Tuhan, anda akan merasakan damai sejahtera itu muncul sendiri dalam diri anda apapun kondisinya.
      Saya berdoa semoga Tuhan memberikan wahyu, hikmat kepada kakak anda, dan percayalah bahwa Tuhan akan turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Amin.

      Balas
  • 16/09/2015 pada 09:09
    Permalink

    Syalom…terimakasih atas artikelnya yang sangat ‘menembak’ saya karena saya saat ini sudah putus asa dengan pernikahan saya..
    Saya baru menikah setahun dan belum dikaruni anak…pada awalnya pernikahan saya tidak direstui keluarga suami tapi karena perjuangan suamilah akhirnya kami bisa menikah walau dengan cucuran air mata dan halangan di sana sini… namun walaupun sudah menikah penolakan keluarga suami menjadi bibit di sakit hati saya dan saya berusaha untuk menghilangkan walaupun belum menerima sepenuhnya.
    Karena itulah akhirnya kami sering bertengkar di tambah suami saya tidak pernah mempercayakan penghasilannya sama saya sejak kami menikah, saya dibesarkan di keluarga bahwa istri yang seharusnya mengelola keuangan rumah tangga walau penghasilan ayah saya minim dan ibu saya juga mencari nafkah sendiri…namun suami saya berpikir bahwa saya juga bekerja dan dia sudah membayar sewa rumah, listrik, dll jadi saya tidak perlu dikasih lagi…padahal saya hanya ingin dipercaya mengelola keuangan walau menurut suami penghasilan dia pas2an.. saya akui kami sama2 keras kepala..waktu bertengkar kami sering sama2 mengancam pisah karena emosi namun biasanya kami kembali rujuk dan akur.
    Singkat cerita semua itu menjadi latar belakang konflik kami..sekarang hampir 5 bulan suami saya meninggalkan saya dan pulang ke rumah ortunya tanpa niat menyelesaikan konflik sama sekali..sudah ditemui oleh keluarga saya yang ada malah sakit hati kami dipermalukan dan direndahkan mereka..kami benar-benar sakit hati…suami saya ngotot tidak ingin rujuk kembali dan menyuruh saya mengurus perceraian dengan alasan surat nikah ada di saya..tentu saya menolak… saya yang awalnya tidak ingin berpisah sekarang sudah putus asa dengan pernikahan. saya sudah lelah memohon agar dia kembali ditambah perlakukan dia dan keluarganya yang mempermalukan saya dan orang tua saya ketika kami datang baik2.
    Saya mencintai suami saya tapi saya benar-benar SAKIT HATI dengan kelakukan mereka. Saya merasa seperti habis manis sepah dibuang. Sekarang saya dan keluarga saya pasrah…surat nikah saya titip ortu dan saya harap kalau suami saya ingin pisah biar dia yang ambil di ortu saya…tapi dia sampai saat ini tidak datang. (mungkin takut/malu)
    Kalaupun akhirnya kami berpisah.. saya sebenarnya tidak berniat menikah lagi karena saya sudah pernah mengetahui ayat2 di atas. tapi posisinya saya belum punya anak dan ingin punya anak yang bisa saya perjuangkan..saya kesepian tidak tau untuk apa saya hidup dan bekerja ..saya seperti mesin yang berusaha menghabiskan rutinitas….karena itulah saya berpikir kalau sampai dua tahun suami saya tidak kembali saya akan mulai buka hati.. Mohon arahan

    Balas
    • 16/09/2015 pada 12:10
      Permalink

      Syaloom saudari Angel, terima kasih karena sudah sharing di ArtikelKristen.com.
      Sebelumnya saya mau cerita sedikit mengenai keluarga kami, saya dan istri sudah 9 tahun menikah dan dikaruniai 2 anak-anak yang luar biasa, kehidupan kami bukannya tanpa masalah, tentu banyak juga masalah yang muncul. Tetapi oleh kasih karunia Tuhan, kami yakin bahwa pernikahan kami ini selain karena dipersatukan oleh Tuhan, kami memandang pernikahan kami ini adalah sebuah “bengkel” karakter bagi masing-masing kami. Dimana oleh permasalahan yang kami hadapi, karakter kami dirubahkan semakin lama semakin sempurna seperti Kristus.
      Dikehidupan pernikahanlah anda belajar SABAR, RENDAH HATI, MENGAMPUNI dan lain sebagainya. Semuanya didasarkan oleh KASIH. Anda sendiri mengatakan bahwa Anda menCINTAi suami anda (MENGASIHI suami anda), jadi tidak ada alasan anda harus sakit hati. Bukankah kasih itu mengampuni.
      1 Korintus 13:4 “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

      Saudari Angel, anda masih setahun menikah, masih sangat panjang jalannya, seharusnya ini adalah saat saat bulan madu dengan Suami anda.
      Saya berikan tips untuk anda. Berikan “RESPEK” kepada Suami anda, Respek meliputi banyak hal; Kasih, Hormat, Kepercayaan, biarkan dia memegang tanggung jawab sebagai kepala keluarga, anda sebagai penolongnya.
      Saya sebagai seorang suami, sebagai laki-laki, ketika istri saya respek sama saya, saya akan merasa benar-benar menjadi laki-laki yang utuh.
      Berikan kasih anda kepadanya, jika saat ini berpisah dari suami, doakan dia, ketika anda mulai berdoa untuk suami, anda akan merasakan bahwa anda mengasihi dia. Dasarnya adalah Kasih.
      Berikan Hormat dan kepercayaan kepada suami, jadikan dia bener-benar seorang Laki-laki yang bertanggung jawab. Jika dia yang mau memegang keuangan, biarkanlah. Anda tidak bisa memaksakan kondisi seperti anda dibesarkan dahulu. Jadikan ini kesempatan anda bisa fokus kepada hal yang lain, lebih fokus melayani sang suami, lebih fokus mempersiapkan kehamilan, dll. Biar suami bertanggung jawab.

      Sekali-kali ada saat anda harus memandang pernikahan anda sebagai sebagai sebuah bengkel/laboratorium untuk karakter anda. Jika sudah dikatakan oleh Firman Tuhan tentang KASIH, anda harus bisa menjalaninya. Dan jika anda berhasil taat melakukan perintah Tuhan, saya yakin Tuhan akan turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Dia akan turut bekerja memulihkan keluarga anda, syaratnya hanya satu : Mengasihi Tuhan dan TAAT akan Dia. Saya pikir tidak ada cara yang lain. Tetap semangat.

      Aminnn. Tuhan mengasihi dan memberkati Anda.

      Balas
      • 17/09/2015 pada 12:11
        Permalink

        terimakasihnya pak..mohon doanya…sebenarnya saya sendiri tidak ingin berpisah tapi saya putus asa..suami saya minta digugat karena saya menolak akhirnya dia malah minta surat nikah untuk menggugat saya…apa saya hanya berdoa saja selama masa pisah ini karena saya juga lelah meminta dia kembali..yang ada saya stalking medsosnya..statusnya malah tidak mungkin Tuhan pisahkan kalau diberikan yang lebih baik..gak ngerti juga maksudnya apa.

        Balas
        • 18/09/2015 pada 12:12
          Permalink

          Ibu Angel, kami akan turut berdoa doakan. Tetaplah berdoa terus bu. Lepaskan pengampunan dan mohon ampun kepada Tuhan, dan percaya bahwa Tuhan memberikan hikmat dan jalan keluar bagi keluarga Ibu. Amien.

          Balas
  • 18/09/2015 pada 10:14
    Permalink

    pagi.. saya mempunyai calon yg sudah bercerai mereka bercerai karena seperti kasus yg di alami pak Besler, dan bahkan calon tidak di ijinkan bekerja mencari uang yang banyak karna takut kehilangan jika banyak uang akan mencari wanita lain. ( puncaknya mantan istri malah memukul / menjambak rekan kerja calon saya ). padahal calon saya tidak pernah selingkuh dan calon adalah seorang WL. tapi karena tekanan yang di alaminya tidak sanggup lagi sudah 4 th selalu mengampuni karena itu adalah istri tetapi mantannya mengangap dirinya tidak akan berani menceraikan karna calon seorang yg sangat taat FT semakin mantan nya melunjak, seenaknya ( maaf .. mantannya agak sakit terlalu negatif dan mengada-ada dengan hal yg tidak pernah terjadi — contoh ” saat calon dinas keluar kota mantannya update status di bbm dengan ” tidak jijik apa tidur bareng psk ” bayangkan perasaan calon.
    mereka berpisah sudah 4 th dan saya kenal dan berpacaran 2 th dengan calon dan sudah ingin menikah karna calon sudah merasa cacat telah bercerai dan dia ingin hidup normal punya keluarga bahagia. dan kembali deket bersekutu dengan Tuhan. begitu juga dengan saya , saya sudah putus asa dan ketika saya berserah Tuhan kirimkan calon kepada saya sesuai dengan yg saya mau. saya percaya calon saya adalah bener” kado dari Tuhan karna saya bawa dalam doa untuk hubungan kami sampai hari ini. dan yang menjadi pergumulan saya, saya takut Tuhan tidak mengijinkan saya menikah dengan calon karna dia telah bercerai dan mantan masi hidup. tapi bagaimana dengan saya, yang sudah di pertemukan dan bersama calon saya merasa sangat sempurna. Tujuan saya hanya satu karna saya memang membutuhkan seorang suami seperti calon saya sekarang. saya memang harus siap jika pernikahan itu akan batal karna waktunya 2 bulan lagi . dan saya memang percaya Tuhan Yesus yg bekerja dalam hidup saya, entah apa yg saya jalani sekarang salah atau benar. yang jelas saat bersama calon 2 tahun saya sangat damai sejahterah, bertengkar aja jarang sekali. sangat damai hubungan kami selama ini. thanks sudah mau membaca dan kiranya bisa beri sedikit pendapat apa saya salah atau benar, posisi saya sangat sulit. calon tidak mungkin akan kembali ke mantan karna mantan tidak dalam Tuhan dan hatinya selalu jahat berlawan dengan Firman Tuhan. dan calon juga ingin menikah lagi masi 35th tidak mungkin dia hidup sendiri. bantu doa ya ! Tuhan ampuni kami berdua dan ijinkan kami hidup bahagia untuk kemuliaan nama Tuhan.

    Balas
    • 18/09/2015 pada 12:15
      Permalink

      Terima kasih atas sharing yang Saudari Ledied berikan. Mohon maaf agak lama balasnya karena saya musti diskusi dahulu sama Istri, bagaimana menanggapi kondisi yang anda ceritakan. Dan kami juga harus berdoa dahulu agar apa yang kami sampaikan sesuai dengan tuntunan Roh Kudus dalam hati kami, agar Dia turut bekerja dalam kehidupan setiap pribadi yang membacanya.
      Sungguh bukan suatu pengalaman yang mudah untuk dijalani. KASIH dalam sebuah pernikahan haruslah seimbang, jika terjadi ketidakseimbangan maka yang ada adalah permasalahan, dan jika sudah tidak ada KASIH lagi maka sebuah permasalahan berat ataupun ringan tak akan dapat lagi diselesaikan.
      Sebuah pernikahan tak menjanjikan sebuah kebahagiaan selama-lamanya. Namun kebahagiaan dapat dicapai ketika kalian mampu menghadapi setiap masalah bersama-sama berdasarkan kasih. Dilain pihak Anda membutuhkan seorang suami idaman, dipihak lain ada wanita yang sangat kecewa dengan mantan suaminya.
      Disisi lain calon suami tampak begitu baik namun disisi lain ada mantan istri yang menganggap suaminya orang terburuk yang tak dapat dipercaya. Mari mencari hikmat dan nasehat lebih lagi dari para penatua gereja bahkan gembala dan orang tua, karena apa yang akan Ibu hadapi adalah sesuatu yang akan berlangsung seumur hidup, kalian harus punya orang-orang yang dekat sebagai penasehat sebagai keluarga yang saling menopang. Jika Anda sungguh yakin dia adalah jodoh dari Tuhan maka dia adalah seseorang yang terbaik apapun masa lalunya, Anda juga harus siap menerima masa lalunya sebagai bagian dari kehidupan Anda dan calon suami kelak (Kasih tak menyimpan kesalahan orang lain).
      Anda harus mampu menopang menolong calon suami untuk mampu menjadi kepala keluarga yang berhasil mengasihi ibu dan anak-anak dengan kasih yang seimbang.
      Calon suami Anda adalah milik kepunyaan Tuhan juga dan Tuhan pasti menyiapkan masa depan yang penuh harapan. Jalani semua dengan kasih karena kasih menutupi banyak sekali dosa.
      Kami tidak bisa mengatakan apakah tindakan anda salah atau benar dalam berhubungan dengan calon suami anda. Yang menilai adalah Tuhan melalui Roh Kudus yang akan memberikan damai sejahtera di hati Anda berdua.
      Tapi maksud saya adalah seperti ini; sebuah hubungan diuji ketika ada masalah, jika anda jarang bertengkar dengan calon anda, bagaimana anda menguji hubungan anda. Pertimbangan Anda harus sangat dalam akan hal ini, karena akan anda jalani seumur hidup. Tentu Anda tidak ingin membayangkan sang suami nanti gagal lagi seperti pernikahannya yang dulu kan.
      Seperti artikel kami disini : https://artikelkristen.com/apakah-aku-menikah-dengan-orang-yang-benar.html
      bahwa jatuh cinta itu mudah, tetapi yang sulit adalah BANGUN CINTA. BANGUN CINTA yang harus anda jalani ketika sudah masuk dalam rumah tangga.
      Kami akan mendoakan Ibu, tetap yakin jika Tuhan berkenan maka semua ini akan menjadi indah dan melimpah damai sejahtera.

      Balas
  • 18/09/2015 pada 10:57
    Permalink

    Syalom,
    selamat pagi pak,
    saya menikah sudah berjalan 3 tahun 7 Bulan, tetapi sampai saat ini kami belum dikarunia anak.
    Dalam perjalanan pernikahan kami ini, kami sering bertengkar. dengan sifat saya yang mudah emosi dan ringan tangan.
    Karena saya punya pengalaman yang buruk semasa saya masih lajang dan masih menyimpan rasa cinta saya terhadap mantan pacara saya yang sekarang sudah menikah dan memiliki anak,sementara saya tidak mencintai istri saya.saya merasa menyesal menikahi istri saya. wlupun dia baik tetapi saya belum bisa menirima dirinya karena tidak seperti yang saya inginkan.
    Saya setiap bertengkar selalu melontarkan kata – kata cerai pada istri saya, bahkan sering memaki – maki istri saya sampai mertua dan semua keluarga nya. saya menginginkan istri saya untuk sempurna namun dia tidak pernah bisa mengikuti apa yang saya inginkan agar saya bisa melupakan mantan saya.ditambah kami tidak memiliki anak sampai saat ini, dan setiap kami bertengkar juga saya selalu mengutuk diri saya sndri dan istri saya agar saya/ rmh tangga kami tidak memiliki keturunan.itu selalu saya kutuk.
    saya sekarang menyesal pak, saya rindu memiliki keturunan, apa yang saya perbuat sekarang? saya jd tidak punya arah dan tujuan. saya juga hampir tidak pernah memijak gereja,istri saya selalu ibadah sendiri. terkadang saya sedih dan menangis dalam hati saya. saya sering menyessal knp saya tidak menikahi mantan saya…
    mohon pak bantu saya dalam doa dan berikan saya penjelasan untuk semua ini juga ayat2 yang dapat saya pegang agar saya bisa menerima segala kekurangan istri saya,agar saya bisa menjadi suami yang takut akan Tuhan..Amin

    Trimakasih Pak,,

    Balas
    • 18/09/2015 pada 12:17
      Permalink

      Selamat malam Pak Leo
      Terima kasih atas kesediaan Bapak mensharingkan pergumulan yang Anda hadapi. Saya mohon maaf karena lambat balas, karena saya mendiskusikan dahulu dengan istri, sebagai partner hidup saya, saya juga meminta pandangan istri saya, bagaimana sebagai wanita menghadapi hal seperti yang bapak ceritakan. Dan tentu kami juga berdoa agar apa yang kami sampaikan adalah murni dari Roh Kudus yang membimbing agar dapat menjadi berkat untuk pribadi yang membacanya.
      Saya melihat Bapak jujur dalam mengungkapkan masalah bapak di halaman web ini, dan ini adalah sebuah keberanian sebagai laki-laki dan inilah yang Tuhan mau bahwa Bapak sadar atas apa sudah terjadi dan menginginkan sebuah perbaikan dalam hidup rumah tangga Anda. Hal ini sudah menjadi modal yang sangat besar untuk sebuah perubahan yang baik.
      Saya juga merasa hal-hal seperti cerita bapak merupakan hal-hal yang masih bisa kita perbaiki.
      Jika Bapak terus menerus memendam kekecewaan terhadap pengharapan pribadi Bapak akan mantan maka selamanya yang Bapak miliki hanyalah kekecewan dalam kehidupan sehari-hari Bapak, yang tentu akan terus memperburuk keadaan yang baik yang Allah persiapkan kehidupan yang baru melalui pernikahan ini. Padahal Bapak telah memiliki istri yang masih setia dan tabah menghadapi Bapak, bahkan ia harus memikul upah kekecewaan Bapak.
      Sudah pak, sebagai sesama laki-laki dan seorang suami, saya mengajak Anda untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab terhadap istri Anda, terhadap janji pernikahan yang sudah kita ikrarkan dihadapan Allah.
      1Kor 16:13
      Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!

      Mari Pak sadari kesalahanmu dan datang pada istrimu meminta maaf. Dihadapan Allah Anda berjanji mengasihi dia dalam suka dan duka maka sudah selayaknya Andapun meminta ampun pada Tuhan karena belum dapat melakukannya.
      Mulailah kehidupan yang baru, temani istrimu ke gereja, doa bersama, doakan pengharapanmu untuk memiliki keturunan Ilahi, gandeng tangannya, peluk dan miliki kasihi dia seutuhnya dan mulailah menikmati benih benih kasih yang baru diantara kalian, maka hal ini akan menjadi titik awal dimana kalian bisa menghidupi rencana Tuhan.
      Kasih itu menutupi banyak sekali dosa, kasih tak menyimpan kesalahan orang lain. Mari rendah hati melakukannya, maka semua akan menjadi lebih baik.
      Bisa jadi juga Anda sampai membaca artikel ini dan berani sharing dengan kami adalah berkat doa dari istri anda yang tekun berdoa untuk anda, renungkanlah pak, mungkin saja kan hal ini terjadi.
      Mengenai ayat Firman Tuhan, mungkin beberapa ayat bisa dijadikan pegangan dan semoga menjadi Rhema, bukan sekedar Logos. Bapak bisa renungkan satu bacaan di Kolose 3, bapak boleh baca berkali-kali dan renungkan agar Firman Tuhan hidup dalam hati bapak dan mengubah setiap pemikiran-pemikiran dan logika manusia.
      Ketika saya menulis komentar ini, saya merasakan dalam hati saya, ada titik terang dan harapan dalam rumah tangga bapak, saat bapak sadar dan hati bapak berbalik kepada Allah. Saya berdoa agar hubungan bapak dan istri dipulihkan, libatkan Yesus dalam rumah tangga, karena hanya Dia yang mampu mengubah air menjadi anggur seperti di pesta perkawinan di Kana.
      Selamat Anda akan menjadi suami terbaik yang ia miliki Tuhan berkati. Amien.

      Balas
  • 20/09/2015 pada 21:44
    Permalink

    Syalom..saya sangat diberkati dengan sharing dari saudara2..
    Saya mohon saran..
    saya sudah 5 tahun menikah,profesi suami saya Hamba Tuhan..dari awal mau menikah saya sudah siap menjalani hidup dengan profesi hamba Tuhan yang benar2 hidup berdasarkan kasih karunia Tuhan/tidak punya penghasilan tetap..karena saya juga bekerja..saya pikir bisa cukup..namun yang membuat saya tidak nyaman suami saya tidak pernah memberikan semua pendapatannya pada saya..bahkan sering ketauan bohong..dia pakai untuk keperluan dia sendiri bahkan ditengah2 kami harus bayar kewajjban2 kami..
    akhirnya semua kebutuhan rumah dan sekolah anak saya TK saya yang handle..selain itu..saya jadi sering dijadikan kambing hitam untuk.setiap masalah yg dia hadapi..selalu salahin saya..saat saya dikantor pun kalau dia bilang harus pulang..saya harus nurut katanya itu perintah suami..hrs prioritas..padahal saya hanya kerja sama orang sumber penghasilan satu2nya untuk kebutuhan kami..jujur saya capek..bjngung bgm lagi..saat saya ingetin dia..dia bilang dia sudah tau semuanya..sudah tau apa yang firman bilang..tapi dia tidak praktekan.
    saya tidak enak dengan kantor tempat saya bekerja..karena kalau sy tidak nurut..saya pasti diancam akan telp kekantor..ngomong sm bos saya..mohon arahanya saya harus bgm..
    thanks..Tuhan memberkati

    Balas
    • 05/10/2015 pada 12:19
      Permalink

      Selamat malam Ibu Tine, terima kasih atas kesediaan Ibu membagikan pengalaman Ibu yang sungguh tak mudah untuk dihadapi. Jika menelusuri kembali maka sejak awal ada hal-hal yang tidak lagi sehati sepikir dalam menjalankan kehidupan dalam pernikahan. Hal tersebut yang terus berlanjut hingga saat ini membuat apa yang seharusnya dibangun didalam kasih berbalik membuahkan hal-hal yang bertentangan dengan kasih.
      Kenyataan memang harus dihadapi Bu, satu hal yang tetap dapat kita andalkan adalah kita terus berharap kepada Tuhan yang sanggup melakukan segala perkara, terus doakan suami Ibu dan harapkan sesuatu yang baru yang terbaik demi pernikahan ini. Mazmur 119:154 “Perjuangkanlah perkaraku dan tebuslah aku, hidupkanlah aku sesuai dengan janji-Mu.”
      Janganlah jemu berbuat baik selagi kita mampu melakukannya. Jika hal ini sudah meluas ke area pekerjaan yang melibatkan orang lain, maka kitapun harus jujur pada atasan kita mengenai kenyatan yang sesungguhnya. Saya kok tidak melihat suami ibu punya alasan yang tepat untuk ngomong ke atasan ibu, jangan takut bu, biarkan saja mengalir kalau memang dia mau ngomong ke atasan ibu. Ibu sudah menunjukkan sikap tanggung jawab yang baik kepada kantor tempat ibu bekerja, pasti orang kantor akan membela ibu. Ini bukan sikap yang mau mengadu domba suami dan orang kantor bu, tapi kita bisa menilai sikap suami jika memang dia mau melapor ke kantor, agaknya suami tidak bisa berpikir panjang (ini hanya dugaan saya juga ya bu, sebagai seorang laki-laki). Tetap semangat, tetap cintai suamimu, Tuhan yang sanggup merubah seseorang, tidak kita hanya tidak jemu-jemu berbuat baik.
      Kita harus mencoba mengurangi beban-beban yang membuat kehidupan kita merosot dan memberatkan kita untuk bertahan ataupun melangkah maju. Jika Ibu berkenan, maka Ibu dapat menceritakan hal tersebut kepada seseorang yang mampu menjadi penengah diantara kalian berdua. Terus semangat Bu,karena kita memiliki pengharapan di dalam Tuhan, doa kami biarlah masalah ini segera bisa diatasi dan kehidupan pernikahan selanjutnya merupakan kehidupan yang indah karena ada kasih yang diperbaharui.
      Tuhan memberkati

      Balas
  • 23/09/2015 pada 06:00
    Permalink

    Shalom..
    disini sy juga sdg mempunyai masalah kel. Khususny dgn suami sy. Singkat cerita sy brantem besar saat 5bulan lalu saat mlm itu sy pun lgsg pulang k rmh papa sy dan sy mengucapkan kt cerai d depan suami sy dan sy meninggalkan anak sy dn suami sy… stlh sy plg k rmh pp sy 4bln lamanya dlm hati sy ingin pulang k rmh.. sy kangen dgn ank sy.. sy blg sm suami kl saya mw pulamh dan minta maaf dan sy ingin membenahi rt sy.. tetapi suami menolak.dia blg sdh tdk bs sam sama lg. Akhirnya sy branikan diri pulang sy mntbmaaf sm mertua sm anak.. mereka welcome..tetapi sampai saat ini suami pun tdk pulang.. dan tidak mau membiayai keperluan anak mulai dr susu dan sekolah..

    sy hy berharap kpd Tuhan dan mnt d bri kekuatan..
    sampai saat ini sy bingung,jikalau suami ingin bercerai
    apakah harus sy laalui juga? Trimakasi GBU

    Balas
    • 05/10/2015 pada 12:20
      Permalink

      Terima kasih atas sharing yang Ibu Herlina bagikan melalui Artikel Kristen ini. Saya turut bersyukur Ibu memiliki keinginan bahkan kerendahan hati untuk memperbaiki situasi ini. Yang saya dapat pahami ada masalah yang besar yang membuat Ibu dan suami terpisah tanpa komunikasi yang intens selama 4 bulan, bahkan saat ini hal serupa pun terjadi kembali. Mari Bu terus perjuangkan pernikahan ini selagi masih ada kesempatan untuk memperbaikinya di dalam kasih karena kasih menutupi banyak sekali dosa. I Petrus 3:1. “Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya.”
      Ayat ini mungkin dapat menjadi masukan dimana Ibu dapat memulai kembali mempraktekan kasih dan melakukan kewajiban sebagai Istri seturut Firman Tuhan, maka Tuhan pasti memberi kekuatan dan pemulihan bagi keluarga ibu. Artinya selama ibu melakukan peran dan tanggung jawab ibu sebagai seorang istri, orang akan melihat hal yang baik ini, dan akan dimenangkan, termasuk suami ibu, dan percaya Tuhan akan juga turut bekerja. Tugas ibu hanya melakukan bagian ibu.
      Saya teringat akan ayat ini II Timotius 1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Janganlah kita dikuasai oleh ketakutan, bangun kehidupan kita dengan hal-hal yang membangkitkan kekuatan dan kasih. Kami akan mendoakan Ibu dan suami agar pemulihan rumah tangga ini dapat menjadi kesaksian yang indah di dalam Tuhan.
      Salam Tuhan Yesus memberkati

      Balas
  • 04/10/2015 pada 07:55
    Permalink

    Syaloom,,
    Puji Tuhan ada berkat luar biasa dari artikel ini. Saya adalah anak k-2 dr 5 bersaudara dlm rumah tangga mama n papa. Tapi saya yang paling tau keadaan kehidupan orang tua saya krn kakak saya ikut oma n opa sejak bayi juga adik saya yang k-3 tinggal bersama keluarga mama. Saya mau bercerita bagaimana orang tua saya menjalani hidup rumah tangga yg tidak akur selama kurang lebih seumuran adik saya paling bungsu, sudah 20 tahun lebih tinggal dibawah atap yg sama menginjak lantai yg sama tapi tidak terjadi komunikasi yg akur bahkan saling acuh satu sama lain. Pergi ibadah sendiri-sendiri, duduk digereja juga berjauhan, saat puji-pujian pasangan suami istri mereka tdk ambil bagian. Sudah banyak pengajaran dan konseling dari hamba-hamba Tuhan tpi tidak merubah pribadi keduanya. Saat ini saya sedang mempersiapkan pernikahan saya dgn pacar saya yg usia pacaran kami tdk singkat, hampir 12tahun, tpi dari saya sendiri kadang datang takut dgn perubahan status dari pacaran ke pernikahan akan merubah kebiasaan indah yg saya lalui bersama pacar saya ketika harus menengok pengalaman rumah tangga orang tua saya. Saya butuh banak saran penguatan untuk pernikahan saya. Trima kasih. Tuhan berkati admin n pelayanannya

    Balas
    • 05/10/2015 pada 12:22
      Permalink

      Syaloom Saudara Lia, terima kasih sudah sharing dengan kami di Artikel Kristen ini.
      Hidup dalam pernikahan memang sangat tidak mudah, banyak berkat, banyak kebahagiaan, tetapi tidak sedikit juga permasalahan yang muncul di kehidupan rumah tangga. Yang pertama harus anda yakini dan pahami adalah cara anda memandang pernikahan itu sendiri, apakah arti pernikahan bagi anda? Apalagi anda sudah berpacaran selama 12 tahun, pasti sudah mengetahui sisi baik dan buruk dari pasangan, harusnya tidak sulit untuk masuk ke dalam gerbang pernikahan.
      Saran kami, anda harus menyelidiki lagi apa maksud anda menikah? Apa tujuan Anda menikah? Anda harus murnikan lagi mengenai hal ini, ikutlah bimbingan pra nikah di gereja tempat anda berjemaat.
      Sekedar sharing, saya dan istri dalam memandang pernikahan kami adalah :
      1. Untuk saling tolong menolong dan mendukung dalam penggenapan rencana Allah dalam kehidupan masing-masing kami. Mungkin Allah punya tujuan spesifik yang berbeda untuk masing-masing kami, mungkin juga Dia punya tujuan yang sama untuk masing-masing kami, tapi yang terpenting adalah kita berdua saling mendukung untuk penggenapan ini. Masing-masing kita sadar bahwa pasangan kita adalah penolong kita, sehingga dengan sendirinya kita akan mencintai dan mengasihi pasangan kita seperti diri kita sendiri.
      2. Menghayati status kita sebagai jemaat Allah (mempelai wanita) dalam memandang Tuhan Yesus sebagai Mempelai Pria.
      3. Menganggap pernikahan sebagai sebuah bengkel karakter bagi masing-masing kita, dimana Tuhan akan memakai wahana pernikahan ini untuk memproses kita, mengubah karakter kita, sehingga bertumbuh dewasa dan sempurna seperti Kristus. Setiap permasalahan yang ada dalam pernikahan hendaklah kita pandang sebagai bagian dalam pemrosesan karakter masing-masing pasangan. Jika misal, pasangan kita tidak menyenangkan, berarti Tuhan sedang membentuk kita agar kita lebih sabar, mungkin juga ada bagian dari diri kita yang membuat pasangan kita menjadi tidak menyenangkan, kita harus menyadari dan merubahnya.

      Hendaknya saudara Lya mengambil pelajaran dari keadaan pernikahan orang tua, mengapa mereka bisa menjalani pernikahan seperti itu, dan tentunya juga mendoakan mereka agar pernikahan mereka bisa dipulihkan.

      Mungkin dua artikel mengenai peran suami dan istri dalam pernikahan kristen dibawah ini bisa menjadi sudut pandang yang mencerahkan sebelum memasuki pernikahan, agar kita tahu peran masing-masing kita dalam pernikahan :
      https://artikelkristen.com/peran-suami-dalam-pernikahan.html
      https://artikelkristen.com/peran-istri-dalam-pernikahan.html

      Terima kasih, semoga saudara diberkati dengan keberadaan Artikel Kristen ini, doakan kami dalam pelayanan kami ini. Kami berdoa, Tuhan memberkati persiapan pernikahan saudara dan sekali lagi Selamat!

      Balas
  • 07/10/2015 pada 13:46
    Permalink

    Biarlah Tuhan memberkati masing-masing kita yang terus merindukan hal-ha yang baik yang indah dan yang berkenan bagi Allah dalam pernikahan yang Allah anugerahkan. Jangan lelah untuk berdoa dan berharap. Tuhan Yesus memberkati.

    Balas
  • 04/11/2015 pada 16:17
    Permalink

    Terimakasih buat artikelnya krn saya sungguh sangat tersentuh.
    Saya menikah di Desember 2012 dan seminggu setelah itu saya mengetahui bahwa suami saya punya wanita idaman lain yang ternyata adalah teman kerjanya. Saya merasa dibohongi,,,knapa dia ttp menikahi saya kalo termyata hatinya mendua. Sejak saat itu kami selalu bertengkar. Dan ternyata Tuhan kasih saya rejeki dengan saya dinyatakan positif hamil. Seluruh keluarga bergembira n hanya suami saya yg bilang kita belum siap secara materi n kita juga selalu bertengkar. Saya terus selidiki mereka yg masih juga berhubungan tapi saya gk tau apakah mereka sudah berjinah apa tidak. Singkat cerita bulan Maret suami saya resign dr kerjaan bersamaan dgn prempuan tu mungkin krn mreka malu d kantor n sejak saat itu saya tidak pernah d nafkai. Dia juga selalu pulang pagi n kami selalu aja bertengkar. Singkat cerita hanya krn masalah hp kami jd bertengkar hebat n saling memukul saat saya hamil 6 bulan pas d bulan Juli. Dia mengatakan kpd saya “kalo kau gk suka ama ku ama rumah ini, keluar kau dr sini” ini bukan kali pertama dia mengatakan itu kpdku n buatku dia sudah mengusirku. Maka ak kumpulin semua barang dan pergi pulang ke rumah orangtuaku. Sampai anakku lahir SC n sampai dia usia 2 thn dia n keluarganya tidak pernah dtg utk melihat atw pun menjemput kami n ak terus tinggal d rmh bpk yg kebetulan bpk sudah sakit2an. Kurang lebih sebulan yg lalu untuk pertama x dia menghubugi ak untuk minta ttd surat pernyataan cerai. Aku sudah bilang demi anak aku bisa kesampingkan egoku utk kembali lg. Tp jawabnya hanya “sudah terlalu jauh ta n sdh terlalu lama”. Akhirnya surat itu ak ttd yg ktnya surat itu akan jd tambahan utk mebgajukan ke pengadilan tp sudah sebulan ini no nya juga gk bs d hub lg n ak juga gk tau apakah dia sudah daftarkan ke pengadilan atw tidak.
    Klo mengikuti egoku ak mmng mau cerai agar statusku juga jelas krn 2thn lebih ak d gantung. Tapi ak juga rindu punya keluarga kecil bahagia krn hanya 7bln kami berrumahtangga n itu pun penuh dengan amarah. Ak selalu berdoa agar Tuhan membukakan mata hati suami hamba krn bagi Tuhan tidak ada yg mustahil buat ku kembali krn dia suami ku yang sah. Tapi ak juga siap kalo harus jadi single mom krn 2thn lbh juga ak sendiri membesarkan anakku. Mohon masukan n tentu doanya buat rumahtangga hamba. Amin.
    Terimakasih.

    Balas
    • 08/11/2015 pada 21:10
      Permalink

      Syaloom Mom Davine (Lista), terima kasih karena sudah sharing ditempat ini.
      Saya yakin tidak mudah bagi anda meghadapi masalah ini. Agak sulit memang memberikan pertimbangan untuk masalah ibu ini, tapi saya dan istri berdoa agar Roh Kudus bimbing kami untuk bisa memberikan pandangan yang terbaik.
      Melihat sikap dari suami ibu yang menikahi anda disaat berhubungan dengan wanita lain sungguh sikap seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Apalagi akhirnya sampai meninggalkan istri dalam keadaan hamil. Namun kami yakin bahwa Tuhan akan bekerja tersendiri dengan suami ibu, berdoalah buat suami ibu dan biarkanlah Tuhan yang menggarap dan berperkara dengan suami ibu. Serahkanlah urusan suami Ibu kepada Tuhan.
      Saat ini yang terpenting adalah Ibu dan pertumbuhan anak ibu, tetaplah dalam keadaan seperti sekarang artinya tidak menikah lagi. Fokuslah dalam hubungan ibu dengan Tuhan dan fokuslah kepada perkembangan anak ibu, bawalah juga dia dekat dan mengenal Tuhan. Percayalah bahwa hidup anda dan anak dan keluarga anda ada dalam tangan Tuhan. Tetaplah bekerja dan berkarya untuk menghidupi anak ibu. Jadikanlah masalah ini adalah sebuah pelajaran dalam hidup anda. Mohon ampun kepada Tuhan jika anda merasa ada kesalahan dan dosa kepadanya, dan lanjutkanlah hidup anda, the live must go on.
      Bersiaplah secara mental dan penuh kasih, jika suatu saat suami anda kembali lagi kepada anda, tetapi janganlah terlalu berharap, serahkanlah kepada Tuhan hal tersebut. Tetapi jika memang anda sudah diceraikan secara hukum negara oleh suami anda, terimalah dengan lapang dada, dan lanjutkan hidup anda bersama anak anda. Jika anda dekat dengan Tuhan, anda tidak akan kawatir akan apapun.
      Semoga pandangan dari kami ini memberkati saudara. Dan Tuhan memberkati ibu dan sang anak. Salam buat Davine (semoga kami benar nama anak anda).

      Balas
  • 05/11/2015 pada 01:25
    Permalink

    Slmt pagi. Sy sdh menikah dengan suami 10 thn. Selama kehidupan pernikahan, banyak sekali persoalan yg kami hadapi, tetapi berhasil dilalui krn kami hadapi bersama-sama. Setahun terakhir, sy harus melanjutkan pendidikan d luar negeri. Krn persoalan beasiswa yg kurang baik, sy berharap, dia sebagai suami sy bisa membantu sy, walaupun sampai harus pinjam kemana, toh akan di bayar ketika beasiswa cair. Tp itu menjadi awal permasalahan kami, komunikasi semakin memburuk, bahkan bbrp minggu yg lalu suami meninggalkan anak2 d rumah mamaku. (Anak kami 2 org, mama skrg sendiri d rmh karena papa baru meninggal bln mei yg lalu). Sy berusaha menjalin komunikasi dgn suami, tp dia malah menghindar. Ketika dia mengaktifkan internet utk komunikasi dengan sy, ternyata hanya utk minta anak bungsu kami utk ikut dengan dia, yg skrg tinggal d rmh ortunya. Semalam dia hub saya lg, senang dia mengawali kata2 dengan minta maaf, tetapi kalimat selanjutnya sungguh menyakitkan. Dia dengan yakin blg klo sdh tdk bisa kembali bersama sy, spt dl. Katanya dia sdh mengajukan pindah alamat, dan akan segera ke kota lain. Hati saya hancur, sy yg tersiksa menahan rindu kpd suami dan anak2, terpisah sangat jauh, tanpa menunggu sy plg 5 bln ke dpn, dia memutuskan utk meninggalkan sy dan anak2. Sy sadar diri ketika kemarahan menguasai kami, banyak kata yg buruk terungkap. Intervensi keluarganya jg sungguh mengganggu hati sy slm pernikahan kami, dan sy yakin, ketika dia tinggal bersama keluarganya, keputusan dia ke kota lain jg bagian dr dorongan keluarganya, yg sdh terang2an blg saya segera mengurus perceraian kami. Sy membaca satu persatu curhatan di atas dan solusi yang Anda berikan. Sy merasa itu jg d tujukan buat sy. Sy mohon dukungan doa, spy hati sy dikuatkan di negeri org ini, anak2 sehat selalu, mama sy juga bisa sehat dan kuat merawat anak2 saya. Sy mencoba utk tegar, tapi ada saat sy tak bisa menahan tangis dlm kesendirian sy d sini. Terima kasih..

    Balas
    • 08/11/2015 pada 22:03
      Permalink

      Selamat malam lsfp, kami mohon maaf karena terlambat balas karena kesibukan kami berdua.
      Saya sering berdiskusi dengan istri dalam memberikan pandangan kepada pembaca artikel kristen yang mengajukan pertanyaan dan sharing. Dan kami berdoa agar hanya Roh Kudus yang membimbing kami dalam memberikan pandangan kepada pembaca.
      10 tahun sungguh waktu yang cukup untuk mengerti masing-masing pasangan, tetapi juga rentang waktu yang belum lama untuk mengarungi kehidupan pernikahan. Saya tidak mengerti latar belakang saudara untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, tentu anda adalah seorang yang sangat terpelajar dan mempunyai posisi penting jika bekerja di Indonesia. Dalam hidup memang banyak pilihan yang harus kita pilih, dan masing-masing akan menimbulkan konsekuensi yang berbeda-beda. Keputusan sekolah di luar negeri tentunya adalah keputusan yang sangat besar dan harus disepakati bersama antara istri dan suami, karena dampaknya adalah juga kepada anak2 anda.
      Pertama tama kami mohon maaf dulu, saran dan pertimbangan dari kami ini mungkin akan sangat tidak enak didengar oleh anda. Anda harus membuat pilihan antara keluarga dan sekolah anda. Kita tidak bisa mengharapkan semua akan baik-baik saja di Indonesia, keluarga anda butuh campur tangan anda langsung, anak-anak anda butuh anda. Keluarga anda bukan tanggung jawab suami sendiri, tetapi anda dan suami juga bertanggung jawab, dua-duanya juga bertanggung jawab.
      Sekali lagi kami mohon maaf jika tidak enak didengar, tetapi hal ini yang kami rasakan tentang anda. Anda adalah sang penolong bagi suami, suami yang bekerja di Indonesia sangat membutuhkan dukungan dan pertolongan istri. Suami juga ingin mempunyai peran yang utuh dalam rumah tangga. Saya tidak mengatakan bahwa anda tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan suami dalam hubunga jarak jauh, tapi suami istri butuh kedekatan secara fisik juga. Mungkin dalam hati suami dulu ada ketidak setujuan ketika anda akan berangkat ke luar negeri, tetapi sebagai lelaki mungkin dia memendamnya.
      Peran orang tua/mertua dalam keluarga kita juga sangat besar dan berpengaruh, bisa positif bisa negatif, untuk itulah kita harus pegang tanggung jawab keluarga kita sendiri dalam tangan suami istri.
      Saya sarankan anda berdoa lebih lagi dalam Tuhan, minta hikmat dariNya, doa bukanlah kita minta ini dan itu, minta agar permasalahan kita diselesaikan oleh Tuhan. Tetapi doa adalah berdialog dengan Tuhan, tanyakan apa yang saya harus lakukan terhadap keluarga saya.
      Pertimbangkan nilainya dan pentingnya dalam hidup anda, keluarga anda (suami dan anak-anak) atau sekolah anda? Jangan tuntut suami anda harus mengerti kondisi ini, itu urusannya sendiri dengan Tuhan, Tuhan akan meminta pertanggung jawabannya sendiri terhadap keluarganya. Sekarang anda harus bertanya dalam hati sendiri, anda harus bertanggung jawab akan keluarga anda juga.
      Berdoalah minta petunjuk kepada Tuhan Yesus, percayalah bahwa Dia adalah BAPA yang penuh kasih yang akan memberikan petunjuk kepada anak-anakNya, dan jika anak-anakNya taat Dia akan turut bekerja mendatangkan kebaikkan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28)
      Salam sejahtera, Tuhan memberkati. kami akan doakan juga anda dan keluarga akan mendapatkan jalan terbaik dari Tuhan. Amin.

      Balas
      • 10/11/2015 pada 20:22
        Permalink

        Terima kasih sdh memberikan masukan buat sy. Hal yg sama selalu sy pertanyakan pd diri sy, dlm keadaan spt ini, apa yg menjadi prioritas. Sy blg k suami, sy plg saja, tdk terasa indah artinya lg sy sklh d sini, klo rmh tangga kami hancur. Tetapi suami sdh memastikan diri utk meninggalkan kami. Suami sdh resmi pindah alamat, dan tinggal di pulau yg berbeda dgn anak2, dan tidak mau dihubungi lg. Sy dlm dilema, antara tanggung jawab trhp keluarga, ataupun tugas sy di sini. Sy diskusi dgn mama sy, dgn bbrp org yg mengerti persoalan kami. Mama menguatkan sy utk tetap melanjutkan studi krn memang sdh di penghujungnya, anak2 biar sama mama dl. Itu sungguh membuat sy sedih, krn terlihat sy begitu egois dgn keputusan ini. Mrk menyarankan sy utk memberikan waktu spy suami bisa menenangkan diri. Mrk meyakinkan sy bhw suami sy akan punya waktu berpikir dan kembali utk anak2 dan keluarga. Sy tdk bisa menyalahkan suami, walaupun dia adl org yg paling menunjukkan antusias ketika sy ditugaskan utk bljr disini. Sy tdk menomorduakan keluarga dengan keputusan ini, tetapi sy minta pertolongan Tuhan, spy kami semua dikuatkan, dimampukan melewati hari2 yg terasa begitu sulit. Sy sangat mencintai suami dan anak2, sy rapuh jauh dari mereka, dan sy akan memperjuangkan keutuhan keluarga kami, sebagaimana sblm sy ke sini. Sy percaya, Tuhan akan menolong kami semua. Amin.

        Balas
        • 10/11/2015 pada 23:01
          Permalink

          Selamat malam lsfp, memang keputusan yang sangat sulit. Tetapi satu hal bahwa Allah sangat mengasihi Anda dan keluarga Anda, tanyakan kepadaNya apa yang harus Anda lakukan, saya sangat percaya bahwa Dia akan menunjukkan jalannya. Jawabannya memang bisa datang dari mana saja (keluarga anda mungkin), tetapi jika itu JalanNya, anda akan merasakan damai sejahtera dalam hati Anda. Tetaplah jaga hubungan dekat Anda dengan Tuhan.
          Usahakan juga mencari cara berkomunikasi dengan suami sesering mungkin (email, facebook, sms, bbm, melalui teman) tunjukkan kepadanya Anda juga berusaha memperbaiki kondisi.
          Jaga hubungan terus dengan anak-anak anda, tenangkan mereka agar mereka merasa aman dan sejahtera, mereka mungkin bisa jadi alat Tuhan untuk mempersatukan anda dan suami. Tuhan bisa pakai segala cara yang terbaik untuk keluarga Anda.
          Kami berdoa agar Tuhan memberikan Anda hikmat untuk yang terbaik baik keluarga Anda.
          Salam. Tuhan memberkati.

          Balas
  • 06/11/2015 pada 14:46
    Permalink

    saya menikah dengan suami 2 bulan, bln september saya diusir sm mertua dan keluarga suami saya, saya tinggal bersama orang tua, 2 bulan saya ditelantarkan tidak dinafkahi suami saya, suami saya selalu menghina saya, mau menikam saya, saya mengandung anaknya, mertua saya pihak ketiga dalam rumah tangga kami saya binggung hrs gmn??? saya tny kebagian lsm tentang permasalahan dalam rumah tangga kami sulit tidak ada bukti untuk bw kepengadilan, saya minta saran harus gmn ????

    Balas
    • 10/11/2015 pada 23:04
      Permalink

      Selamat malam Melva, salah satu jalan adalah Anda tenang dulu, duduk dibawah kaki Tuhan, mendekat dan merendahkan diri dihadapanNya. Umur pernikahan 2 bulan sangat pendek sekali, saya tidak tahu latar belakang masalahnya, tetapi pertimbangan apa yang membuat kalian berdua menikah 2 bulan yang lalu. Saran kami saat ini, anda tenang dulu, mintalah hikmat dari Tuhan, berdoa mohon pimpinanNya.
      Tuhan memberkati. Terima kasih.

      Balas
  • 07/11/2015 pada 03:55
    Permalink

    Mau belajar tentang pengorbanan? Jika seorang memintamu entah dgn baik2 atau dgn paksa, untuk berjalan 1 mil, berjalanlah DENGANNYA 2 mil. Saya yakin kita semua yg sudah menikah merasa sudah berjalan ribuan mil demi pasangan. Itu tidak apa2. Selama berjalannya berbarengan, bukan disuruh berjalan sendirian bbrp mil, itu namanya mengusir 🙂 dan satu lagi, kalau anda melakukan semua demi pernikahan anda, anda akan mengalami keletihan/exhausted. Tetapi lakukanlah segala sesuatu seperti utk Tuhan dan bukan utk manusia, maka anda akan tahu bahwa Tuhan menghargai semua yg sudah anda lakukan, semua yg disia2kan oranglain, semua yg dicemooh orang, Tuhan yg melihatnya dan menghargainya. Sampai disinj seharusnya anda sudah dapat merasa nyaman. Seterpuruk apapun pernikahan atau hubungan anda, Tuhan ada disana…

    Balas
    • 08/11/2015 pada 22:10
      Permalink

      Terima kasih Pak Paul atas sharingnya dalam artikel kristen ini. Sering-sering ya Pak. 🙂 Tuhan memberkati Bapak dan keluarga. Amin.

      Balas
  • 12/11/2015 pada 20:27
    Permalink

    Shaloom, bagus bgt artikelnya

    Apakah kondisi tidak menyadari bahwa sang kepala keluarga salah(tidak mampu bertanggung jawab secara materi dan rohani thdp keluarga sejak lama, karena tengantung keluarga/ mudah terhasut kehidupan masa mudanya) itu termasuk zinah?
    kepala keluarga sama sekali tidak mau memampukan dirinya untuk memanggul tanggung jawab dlm keluarga. Atau, mungkin bisa dikatakan jiwanya sakit(rohani-jasmani).
    Apakah sang istri boleh menceraikan suaminya itu? ikatan pernikahan bertahan sampai 22 tahun, namun, selama lima tahun telah berpisah. dan sekarang mencoba untuk kembali satu atap lagi. i mean, they are complicated.

    Balas
    • 17/11/2015 pada 12:11
      Permalink

      Shaloom Michelle
      Tidak ada yang tidak bisa diperbaiki didalam Tuhan, semuanya bisa dipulihkan termasuk keluarga juga.
      Kepala keluarga yang tidak memanggul tanggung jawab memang terasa sangat menyebalkan, hal ini bisa dikarenakan karena dia terlalu nyaman dengan keadaannya sekarang. Segala sesuatunya terpenuhi, mungkin di supply keluarga yang lain, dan hal ini bukanlah kondisi yang bagus. Jika si kepala keluarga (suami) masih muda dan kuat untuk bekerja, seharusnya dialah yang memikul beban keluarga, memberikan penghidupan untuk istri dan anak-anaknya. Ratapan 3:27, Mazmur 128.
      Sang suami harus sadar akan hal ini, dia yang harus bertanggung jawab terhadap keluarga.
      Apakah sang istri boleh menceraikan suaminya, tidak boleh, yang boleh adalah memberikan tantangan kepada sang suami, coba limpahkan tanggung jawab keluarga kepada suami, dan biarlah bagaimana cara suami dalam menyelesaikannya. Jika sudah anak-anak maka akan lebih mudah lagi dalam melimpahkan tanggung jawab kepada suami, semoga anda tahu maksud saya. 🙂
      Kami berdoa agar cepat dipulihkan keluarga itu. Thanks. Tuhan memberkati.

      Balas
  • 13/11/2015 pada 04:19
    Permalink

    Syalom…
    Apa kah bisa sya nikah dengan kekasih sya…,soalnya bapatua dri kekasih sya nikah dgn mamatua dri sya…,dan mamatua sya itu adalah ma” sya pnya kk sepupu..
    Sekian dan terima kasih..

    Balas
    • 17/11/2015 pada 12:20
      Permalink

      Syaloom Saudara Ciko
      Soal menikah, yang tidak boleh, atau yang tidak dianjurkan untuk dilakukan adalah menikah dengan saudara dekat, seperti adik-kakak kandung, saudara sepupu, dari mama/papa kandung, karena secara fisik hal ini dinamakan insest, bisa menimbulkan kecacatan pada anaknya. Hal ini yang saya ketahui, saya bukan ahlinya dalam genetis seperti ini. Mungkin nanti ada pembaca lain yang bisa membantu memberikan jawaban.
      Jika saya lihat kasus saudara, secara fisik sih mungkin tidak masalah (menurut saya), karena anda dan kekasih bukan saudara kandung (mamatua dan bapatua dari kekasih anda kan juga bertemu saat sudah dewasa).
      Namun dalam kehidupan pernikahan yang terpenting adalah bagaimana nanti dalam kehidupan sehari-hari kita menjalaninya.

      Terima kasih.

      Balas
  • 17/11/2015 pada 10:56
    Permalink

    Syaloom.
    Slamat siang bapak.
    Di sini saya adalah seorang anak yg berumur 21 tahun sbgai mahasiswa smster 7. Di sini saya mau mnceritakan msalah pergumulan keluarga saya yaitu mama dan papa. Saya mama dan pp tgl bersma d slah satu perumahan selama 3 tahun dri saya kls 1 SMA.setelah tamat sekolah saya lnjut Kulia dan saya kost krn kampus nya jauh dri rumah.dn bbrap bulan kmudian dgr kbar bwah pp saya ketahuan selingkuh sama tetangga kami dan perumpan itu adalh seorang hamba Tuhan yaitu guru sekolah minggu teman baik mama dan suaminya juga tman baik sm pp.terus mreka berdua tdk mau mngakui perbuatan mreka.dn pda akirnya mreka berdua melarikan diri dn mninggalkan kluarga mereka. Dan smpai skrang dari awal kejadiannya thn 2012 aku msuk kulia dan smpai aku sudah smester 7 dan saya pp dn mm blum tgl brsma.papa msih tgl bersma selingkunya itu .mama yg kerja keras buat biayaiin kulia saya kbutuhan sehari2 kami2.dan skrng kami hnya numpang di rumah keluarga mm saya.jujur saya sakit hati dgn perbuatan pp saya.krn tdk mmbetikan ttgjwabnya kpd saya anaknya ,tapi mm sbgai srorang istri fia sabar trhdap pp saya dan dia tdk mau mnceraikan pp saya.saya terus berdoa kiranya Tuhan Yesus mmbuka hati pp saya agar mau kmbali pd saya dan mama.
    Mohon bantuan doanya Syaloom.Damai Di Hati
    Gbu

    Balas
    • 17/11/2015 pada 12:32
      Permalink

      Selamat siang Cynthia
      Saya sangat prihatin dengan masalah yang menimpa keluarga anda, dan kami akan bantu doa dalam keluarga saya. Tentu berat dalam menjalaninya, tetapi saya suka dengan sikap mama anda dan anda sendiri, anda menutup tulisan anda dengan kata-kata yang menyentuh sekali “Damai Di Hati”. Tetaplah ada damai dalam hati anda, karena ada Roh Kudus dalam hatimu. Buanglah segala macam kepahitan dan rasa dendam. Isilah dengan Firman Tuhan, dan biarkan Firman Tuhan menjadi pegangan, tuntunan dalam hidup anda.
      Didalam Tuhan, tidak ada yang tidak bisa diperbaiki dalam hidup ini, termasuk keluarga.
      Berikut ini adalah saran dan point-point dari kami:
      1. Tetap kasihi Papa anda, dan tetap doakan dia, dengan berdoa untuk beliau, hati anda akan dipenuhi oleh kasih kepadanya.
      2. Tetap dukung dan doakan terus mama anda, dekatlah juga kepadanya agar beliau mendapatkan dukungan moral.
      3. Selesaikan kuliah anda dengan baik dan cemerlang, biarlah masalah ini tidak menghalangi anda untuk menjadi excelent di bidang anda.
      4. Tetaplah menjalin hubungan yang dekat dengan Tuhan, Dia akan bekerja dalam segala sesuatu (termasuk masalah keluarga anda) untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Jadikan Tuhan Yesus Raja dalam hidup anda, Dia akan menuntun anda dalam kasihNya. Amin.
      Salam Damai Di Hati. Tuhan memberkati.

      Balas
  • 19/11/2015 pada 08:48
    Permalink

    Syaloom…
    Saya merasa sangat diberkati dgn artiken & juga sharing2annya.
    Usia pernikahan saya baru 1,5 tahun.. Walaupun tidak diwarnai dengan konflik2 yang berat saya merasa masih ada yang kurang dgn suami & rumah tangga saya.
    Sekedar info, kalo suami saya bekerja di pertambangan, jadi 5 hari dia bekerja setelah itu baru bisa off 2 hari dan berkumpul dg saya dan anak.
    Walaupun secara nyata dan kasat mata, suami saya sangat baik kepada saya dan anak saya.. Dia percayakan saya mengelola semua hasil kerjanya, dia jujur soal keuangan.. Terbuka terhadap semua uang yg ia gunakan untuk apa saja saya merasa sangat bersyukur..lebih2 selama ini dia tidak pernah judi, merokok aplg sampai main perempuan
    Tapi di lain sisi saya merasa galau ya…galaunya krn saya pernah dapati dia nonton film porno. Saya merasa apa saya kurang cukup sama dia?
    Apa saya ini tidak menarik sama dia sampai2 dy mau nonton yg begituan…?
    Padahal saya merasa sudah maksimal untuk melayani dia..walaupun dlm keterbatasan saya yg sebenarnya saya capek, baru selesai melahirkan dan ngurus rumah tangga sendirian.
    Saya jadi merasa dikhianati.
    Saya juga jadi khawatir..kebiasaan dia nonton film porno itu lama2 bisa bikin dy jatuh dalam perzinahan dlm dunia nyata.
    Saya juga agak kesal, dlm beberapa kesempatan yg lalu dia sempat cerita2 soal mantan pacarnya yg terkesan dy masih mengingat2..saya tidak mengerti apa maksudnya menceritakan mantannya.. Saya sudah ngomong ke dy untuk stop ngomongin mantan. Dam oke..dy berhenti.
    Cuma dalam hati saya berkecamuk khawatir..jangan2 dy masih ada rasa sama mantannya…?
    Ato gimana…
    Dan saking khawatirnya kadang hal2 tersebut mempengaruhi sikap saya ke suami.
    Saya sering curiga sama dia.
    Saya sering matah dan ungkit2 dia yg hobby cerita mantan.
    Kalo mau jujur saya marah bukan krn saya gila atau suka mencari kesalahan…
    Semua lebih ke arah saya merasa tidak nyaman..dan saya rasa belum selesai krn saya belum dapat kepastian kalo dia itu betul2 sayang sama saya atau tidak.
    Maklum saja, dia latar belakangnya anak bungsu, tidak romantis, dan cenderung kurang inisyatif
    Sayapun jadi dropp setiap kali saya care, kasih dia surprise, kasih dia perhatian lantas dia cuek aja..biasa aja.. Ga ada sifat yg menunjukan kalo dy senang ato gimana…
    Terus terang saya jd merasa capek nda merasa kalo semua yg saya lakukan tidak ada gunannya
    Saya sudah komunikasikan masalah ini sama dia. Tp dia bilang kalo saya ini terlalu berlebihan, saya ini cengeng. Saya tidak usah capek2 ngomong kedia.. Karena dia sudah tau semua.
    Kadang saya capek ya.. Serasa kalo ada dia ato gak hidup saya sama saja.
    Saya sudah coba…dan sekarang sementara usaha untuk sabar.
    Saya sementara berusaha utk jadi istri yg menarik sama dia, jadi istri yg mensuport, jadi istri yang pengertian, jadi istri yang penuh kasih sayang..
    Harapan saya semoga yg saya lakukan ini bisa terbayar dan berbuah manis.
    Cuma saya g bisa bohong klo dalam hati saya masih merasakan kekhawatiran dan rasa kecewa..
    Saya coba berdoa supaya saya bisa lewati ini semua dan memenangkan perkara ini..
    Saya juga mohon bantuan doa dr bapak vino dan pencerahannya selaku yang sudah lebih lama menikah.
    Gbu

    Balas
    • 20/11/2015 pada 13:05
      Permalink

      Syaloom LP
      Saya sangat tertarik mendengarkan cerita mengenai keluarga anda. Dengan usia pernikahan yang “masih” 1,5 tahun, adalah saat-saat dimana anda dan suami saling mengenal, saling memahami, saling bisa menerima kekurangan masing-masing. Hal ini sangat wajar jika masih banyak terjadi perselisihan, konflik, perang dingin dan lain hal, karena nobody perfect. Disaat inilah anda dan suami membangun pondasi rumah tangga yang kuat dalam Tuhan.
      Beberapa point dan saran yang ingin kami bagikan kepada anda adalah sebagai berikut :
      1. Yang pertama dan utama, libatkan Tuhan dalam keluarga anda, bangun mezbah keluarga dengan suami dan anak anda. Selalu perkarakan keluarga anda dengan Tuhan Yesus, praktisnya adalah seperti ini: taruhlah Tuhan di depan mata anda, apapun yang anda perbuat untuk keluarga ingat selalu bahwa Tuhan ada juga bersama anda, jika anda melihat suami anda, ingatlah bahwa Tuhan Yesus juga mengasihi dia.
      Jika anda kesulitan berdoa bersama sama dengan suami, berdoalah sendiri dulu, bawalah keluarga anda dihadapan Tuhan.
      2. Milikilah sudut pandang yang baru dan benar tentang kehidupan pernikahan anda. Hal Pernikahan dihadapan Tuhan adalah sesuatu yang sakral, sebagai simbol atau gambaran hubungan antara Kristus (mempelai laki-laki) dan Gereja (mempelai perempuan), Gereja harus dipersiapkan dulu sehingga kudus dihadapanNya.
      Pernikahan kita juga seperti itu, meskipun juga berfungsi untuk simbol gereja sebagai mempelai, kehidupan pernikahan juga untuk membentuk karakter kita sebagai anak Tuhan. Kalau saya menyebut salah satu aspeknya, pernikahan adalah sebuah bengkel karakter untuk suami dan istri, karena disinilah tempatnya anda dibentuk, diubahkan karakternya. Tuhan akan membentuk karakter anda didalam kehidupan pernikahan supaya menjadi seperti emas, jadi nikmati saja.
      3. Resapi dan pahami peran anda sebagai istri dalam pernikahan yang sesuai dengan pola dari Alkitab. Anda bisa mempelajarinya disini di artikel kami Peran Istri dalam Keluarga.
      a. Jadilah penolong bagi suami anda, anda harus merubah sudut pandang anda, bahwa Tuhan sedang memberi tanggung jawab kepada anda sebagai penolong suami. Suami anda punya peran dan tanggung jawab sendiri, biar dia nanti bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Anda punya tanggung jawab yang lain, yaitu sebagai penolong.
      Jika suami anda sedang terjerat suatu kebiasaan buruk, jangan merasa rendah diri, justru anda harus kuat dan berusaha untuk menolong suami anda. Bukan menghakimi, tetapi pakailah cara yang halus, misal ketika saat suami libur, habiskan waktu dengannya, libatkan dalam kegiatan anda, buatlah agar dia merasa dibutuhkan oleh anda.
      Soal dia sedang sendirian ditempat kerja pada Senin-Jumat, anda tidak bisa berbuat apa-apa, serahkan saja sama Tuhan, doakan agar Roh Kudus selalu menyertai dan mengingatkan dia. Anda jangan terlalu curiga dan berpikir yang aneh2, itu akan membuat anda semakin stress dan terpuruk, buatlah diri anda bersukacita, sehingga saat dia pulang anda dapat membagi sukacita anda kepadanya.
      b. Respeklah kepada suami, respek adalah jurus yang ampuh buat para lelaki (lelaki yang benar maksud saya, bukan lelaki yang memanfaatkan wanita).
      Respek berarti kagumi dia, kagumi pendapatnya, dengarkan omongannya, hargai nilai-nilai yang dia pegang, jadikan sabtu minggu hari untuk dia.
      Saya senang anda menulis : Saya sementara berusaha utk jadi istri yg menarik sama dia, jadi istri yg mensuport, jadi istri yang pengertian, jadi istri yang penuh kasih sayang, tetapi kenapa anda katakan “sementara”? lakukan terus bu ?, jangan pernah jemu, kasih tidak pernah gagal, percayalah.
      Baik juga anda memberikan surprise, tetapi jangan terlalu harapkan timbal baliknya, lakukan dengan kasih, lakukan dengan perasaan bahwa anda menyayangi suami anda. Saya yakin hati suami juga akan lembut dan mengasihi anda.
      c. Kasihilah / Cintailah suamimu, cinta yang tanpa syarat. Anda sudah tidak dalam masa pacaran, lupakan perasaan jatuh cinta yang dulu ketika berpacaran, sekarang saatnya BANGUN CINTA, ada kata kerja yang aktif dalam BANGUN CINTA. Usahakanlah.
      d. Patuh kepada kepemimpinan suami
      Melihat cerita anda bahwa suami anda anak bungsu, tidak romantic dan kurang berinisiatif, inilah saatnya anda menjadi penolongnya dia. Coba lemparkan kepada dia tanggung jawab seorang laki-laki, missal benerin genteng, benerin kompor rusak, biarlah dia yang mengambil keputusan tentang anak misalnya, dan anda cukup mematuhinya saja. Laki-laki butuh diperlakukan sebagai laki-laki. Mengapa kadang seorang suami pasif dan tidak mengambil inisiatif dalam rumah tangga, karena latar belakang yang nyaman dalam keluarganya dahulu membentuk dia.
      Sekarang ketika dia sudah menjadi kepala keluarga, harusnya dia sebagai suami yang memegang tanggung jawab. Nah jika anda sudah paham akan hal ini, tolonglah suami anda. Ingat anda adalah penolongnya.
      4. Milikilah hubungan yang erat dengan Tuhan, sehingga melalui Firman dan Roh Kudusnya, akan membimbing anda bersikap, berbuat, dan dalam melakukan sesuatu di keluarga. Ingatlah bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi DIA (Roma 8:28)
      Amin semoga anda diberkati, dan kami juga berdoa bagi keluarga anda.
      Saya pun juga sama bu, tetap terus belajar untuk menjadi yang terbaik bagi istri dan keluarga saya.
      Tuhan Yesus memberkati

      Balas
  • 06/12/2015 pada 18:39
    Permalink

    Syaloom pak vino, nama saya dewi sy ingin bertanya kpd bpk. Sy sdh menikah slma 7thn dan 4thn belakangan ini suami sy sering membohongi sy mengenai salary yg dia dpt msl salary suami 10jt tp dia slalu blg klo salarynya hanya 3jt.sy tw krn sy pernah print outkan butabnya dan disitu terlihat jelas klo salary suami bknlah 3jt tetapi 10jt. Sy tdk pernah menanyakan hal ini sm suami krn sy tanyapun ujung-ujungnya pastilah bertengkar.sy hanya ingin kejujuran dr dia. Dan menurut pak vino apa yg hrs sy lakukan apakah selamanya sy hrs diam pak? Sdgkan suami bs beli laptop mahal, hp mahal,dll. Klo ditanya ktnya uang komisi. Sdgkan utk kebutuhan rumah tangga sehari-hari sy msh kurang.apa yg hrs sy lakukan pak? Mohon sy diberikan solusinya pak, sebelum dan sesudahnya sy ucapkan terima kasih dan Tuhan Yesus memberkati pak vino selalu

    Balas
    • 14/12/2015 pada 14:51
      Permalink

      Syaloom Ibu Dewi, saya mohon maaf karena telat balas, karena kesibukan saya jarang memeriksa komentar di web ini. Agak sulit juga ya bu kalau urusan bohong membohongi ini, karena saran dari saya mungkin hanya sebagai berikut bu :
      Catat semua pengeluaran dan usahakan ada bukti/nota semua, dan catatlah dalam sebuah neraca, berapapun itu jumlahnya.
      1. Jika ibu hanya mendapat uang dari suami untuk segala keperluan rumah tangga, buatlah sebuah neraca yang menjelaskan keseimbangan uang yang didapat dari suami dan semua pengeluaran. Bicarakan hasil pencatatan neraca itu dengan suami anda, apapun hasilnya baik surplus atau minus. Jika menurut cerita ibu adalah minus, bicarakan dengan suami bagaimana cara mengatasinya, jika semua pengeluaran adalah memang untuk kebutuhan keluarga, dan ibu sudah berusaha untuk menekan dan hemat, ibu tidak usah kawatir untuk mengeluh kepada suami, karena suamilah yang harus bertanggung jawab penuh dalam keluarga.
      2. Jika Ibu juga bekerja dan mendapatkan penghasilan, masukkan juga dalam neraca, dan buatlah laporan keuangan seperti diatas dan tunjukkan pada suami.

      Intinya adalah, terbukalah dulu kepada suami. Jika ibu mempunyai bukti bahwa untuk keperluan rumah tangga masih kurang, tentu sebagai suami yang baik dan bertanggung jawab pasti malu untuk membeli laptop atau barang2 yang belum diperlukan, dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dahulu.

      Semoga saran saya bisa sedikiti membantu ibu. Mainkan peran dan tanggung jawab ibu sebagai istri dengan baik, doakan suami anda, dan saya yakin Allah akan turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan dalam rumah tangga ibu.
      Tuhan Yesus memberkati.

      Balas
  • 29/12/2015 pada 15:56
    Permalink

    Selamat sore Bapak dan Ibu, saya stella. Saya menikah di Gereja . Usia perkawinan saya berjalan 7 tahun. Anak saya ada 2 orang umur 5 thn dan 8 bln. Setelah menikah suami saya menjadi orang yang tidak mempunyai agama. Dari sebelum menikah Suami saya kerja ditambang batubara kalimantan Timur. Setelah menikah pas hamil saya diperlakukan kasar sering dipukul, ditendang dan ditonjok sehingga saya stress . Saya diajak oleh keluarga ke orang indigo/org pintar . Ternyata suami saya Kena Magic cewe dayak sehingga kasar sering mukul saya dan maupun anak kami yang masih batita, Suami sering kasar dan sering melamun. Cewe dayak tersebut krn sudah berkeluarga jd hanya mau uangnya suami saya saja bukan tubuh suami saya. Setelah 5 tahun menikah akhirnya suami berhenti dari kalimantan pindah kerja di Jakarta. Suami akhirnya kena magic juga sama cewe jawa. Sekarang mereka hidup bersama. Bapak dan Ibu apa yg harus saya lakukan ? Tolong bantu saya dalam doa

    Balas
    • 06/01/2016 pada 22:52
      Permalink

      Selamat Sore Ibu Stella, kami turut prihatin dengan masalah di rumah tangga ibu. Terus terang kami tidak terlalu paham dengan hal-hal magic yang mempengaruhi kelakuan seseorang. Yang bisa kami sarankan mungkin hanya ajak suami ibu untuk tinggal dekat dengan keluarganya sendiri, dalam arti kerja dekat dengan keluarga, satu kota dengan keluarganya sehingga ibu dan suami bisa menikmati hidup sebagai satu keluarga yang utuh.
      Mengenai magic mungkin ibu bisa meminta pertolongan kepada pendeta atau hamba Tuhan yang ibu percayai, agar bisa didoakan. Kami dan sahabat artikel kristen yang lain juga akan mendoakan ibu, semoga masalah rumah tangga ini menemui jalan keluar. Tetap jalin hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus.
      Tuhan memberkati.

      Balas
  • 07/01/2016 pada 11:20
    Permalink

    Selamat sore
    Saya menikah dengan istri saya sudah 3 thn. Akhir2 ini sikap makin berubah dingin terhadap saya. Dan dia akhirnya mengatakan bahwa dia sudah mati rasa, cape dgn perilaku saya yg tidak sesuai dgn standar dia. Saya mengetahui setahun terakhir ini dia sedang dekat dgn seorang pria, bahkan chat tiap hari via sosmed. Saya mencoba mengubah perilaku saya sesusai dgn yang dia inginkan namun tetap saja saya melakukan kesalahan2 di mata dia. Apakah yang harus saya lakukan? Saya mengasihi istri saya dan sudah mengampuni kesalahannya. Namun dia tidak mau mengampuni kesalahan saya krn sudah merasa kecewa. Dan saya tahu diam2 dia masi berhubungan dgn pria lain itu. Saya mohon masukkannya. Terima kasih.

    Balas
    • 19/02/2016 pada 10:34
      Permalink

      Salom..
      Sy menikah 8th,anak 1 sekarang mengandung anak 2 ,setelah 2 thn suami sy ketahuan selingkuh dengan rekan kerja pengerjaan suatu gereja sy benar2 sakit hati kecewa hancur krn sikap nya yg tdk peduli kepada sy ,kata cerai selalu terlontar dr bibir mulutnya,krn sy terluka sy memilih pergi melanjutkan hidup ke pulau lain .tetapi dlm perjalanan sy mulai bangkit untuk melupakannya perselingkuhannya,akhirnya suami minta maaf tetapi tdk jujur akan dosa pernikahannya,tetapi sy tetap menerima dan menghampirinya ,dia mulai bekerja dan pelayanan gereja,ternyata akhir2 ni sy mengetahui ada yg aneh sikapnya suka keluar malam,telepon sibuk terus ditanya tdk mau ngaku marah2 ternyata kecurigaan sy benar klu dia msh berhubungan dgn selingkuhnya dan selama sy plg ketempat aslinya sy sedang mendampingi persalinan buah selingkuhan sakit hancur rasanya luka yg belum sembuh disayat lbh dlm lagi saat diajak bicara marah2 minta digerakkan,sekarang tdk mau tidur dikamar plg malam hrg ngomong tdk perhatian ma anak ma sy sama seperti 2th yg lalu ,apa yg harus sy lakukan?

      Balas
      • 09/04/2016 pada 21:08
        Permalink

        Shaloom Indri, saya turut prihatin dengan keadaan keluarga anda. Saya berdoa supaya anda diberikan damai sejahtera dan sukacita dalam Tuhan. Hanya hal tersebut yang tidak bisa diambil dari diri anda.
        Mengenai suami yang mempunyai anak lagi dengan orang lain, terus terang saya tidak tahu harus bilang apa bu Indri. Saya hanya menyarankan agar anda buang segala kekecewaan, biarlah Tuhan Yesus yang menjadi KESUKAAN anda sendiri, jalinlah hubungan dengan Tuhan lebih erat, Dia akan mengobati luka hati anda.
        Rawatlah anak anda dengan baik, jadikan mereka anak-anak hebat yang dipakai oleh Tuhan.
        Tentu memang bukan hal yang mudah menghadapi ini. Ambilah hikmah dalam permasalahan ini, tetaplah yakin bahwa Tuhan Yesus tetap mengasihi anda. Dan saya juga yakin Tuhan mengasihi anak-anakNya.

        Balas
    • 09/04/2016 pada 21:00
      Permalink

      Selamat sore Paul. Saya mohon maaf karena saya tidak membalas cukup lama, dikarenakan saya banyak kesibukan dan web ini tidak saya urus. Namun saya berharap sekarang keadaan keluarga anda sudah lebih baik.
      Tetaplah mengasihi istri anda apa adanya, libatkan Tuhan dalam keluarga anda, jalin hubungan yang erat dengan Tuhan. Dengarkanlah Dia, Dia akan selalu menuntun apa yang harus anda perbuat dalam keluarga Anda.
      Satu hal yang harus kita yakini bahwa tidak ada yang tidak bisa dirubah oleh Tuhan. Amin.

      Balas
  • 18/02/2016 pada 14:56
    Permalink

    Halo semua nama saya Lewis, berkat orang besar dari semua orang dia adalah manusia terbesar yang pernah saya lihat sejak saya datang ke dunia ini saya frustrasi tapi satu hari yang baik saya hanya mengatakan biarkan aku pergi ke internet sehingga saya datang di pekerjaan yang baik dari orang besar ini besar Dr. Malaikat jadi saya menghubungi dia untuk dia untuk membantu saya membawa kembali mantan kekasih dan dia berkata apakah ini masalah Anda dan saya mengatakan ya maka dia mengatakan kepada saya untuk membebaskan diri sendiri bahwa itu hanya akan membawanya 3 hari untuk membawa kembali setelah saya memberinya semua yang diperlukan saya menunggu sampai 3 hari datang dan hari setia saya melihat beberapa mengetuk pintu saya yang tidak saya temukan, mantan kekasih dia mulai memohon maaf yang bagaimana saya punya saya ex kembali melalui Dr. Malaikat besar, saya saran Anda untuk menghubungi dia dalam setiap jenis masalah seperti:

    1) jika Anda ingin mantan kekasih Anda kembali
    2) Anda ingin menjadi kaya
    3) jika Anda selalu memiliki mimpi buruk
    4) Anda ingin mengikat suami / istri menjadi milik Anda selamanya
    5) perawatan herbal
    6) Bantuan keuangan
    7) Anda ingin dipromosikan di kantor Anda.
    8) anda telah scammed dan Anda ingin kembali uang Anda hilang

    Dan masalah lain yang Anda temui dalam kehidupan Anda.
    Hubungi Dr Malaikat melalui: theangelsofsolution@outlook.com

    Balas
  • 19/02/2016 pada 10:39
    Permalink

    Maksudnya suami sy plg kekampung halamannya mendampingi janda selingkuhan.melahirkan anak mereka,sementara suami masih tinggal serumah dengan saya dan masih melayani digereja

    Balas
    • 09/04/2016 pada 21:10
      Permalink

      Saya dan istri berdoa bagi anda dan keluarga. Tuhan Yesus memberikan tuntunanNya, saran saya yang pasti, tetaplah bergaul erat dengan Tuhan.

      Balas
  • 21/03/2016 pada 19:39
    Permalink

    Malam pak,Saya telah menikah telah 4th,saya mempunyai 2 putri malaikat saya.Saya merasa istri saya banyak kekurangan yg membuat saya jenuh di pernikahan saya,tapi demi anak saya akan selalu mempertahankan pernikahan saya.2 bulan lamanya istri saya meninggalkan rumah,dan tinggal ditempat mertua saya,hany karna cekcok sedikit dirumah.Saya akui saya kurang respect kepad keluarga istri saya,tapi bkn karna keinginan saya,hanya karna saya terlalu sibuk.akhirnya istri saya lebih cuek lagi dan anti trhdp keluarga saya.banyak kekesalan saya kpd istri saya pak.Tapi saya terus berjuang demi anak dan pernikahan kami.apalagi pihak mertua saya (broken home),keras kepala,yg membuat keluarga saya kurang respect.Saya takut pengaruh dari keluarga mertua saya,akhir2 bulan ini,kami berencana utk tinggal jauh dari keluarga saya dan mertua.tpi saya ragu pengaruh dari mertua saya terhadap istri saya.tolong pak beri solusi buat rumah tangga kami k jalan Tuhan yg kehendaki,syaloom!

    Balas
    • 09/04/2016 pada 21:42
      Permalink

      Selamat malam Pak Hansen. Saya sangat tertarik dengan cerita bapak. Saran saya sederhana saja pak, begini :
      Membentuk sebuah keluarga, selain kita menggenapi rencana Allah, melahirkan anak-anak yang diberkati Tuhan dan akan dipakai Dia sebagai alat kerajaanNya, sebuah keluarga sebenarnya adalah BENGKEL KARAKTER masing-masing anggotanya.
      Ada hamba Tuhan yang berbicara seperti ini:
      1. Jika anda salah masak makanan, anda akan kelaparan 1 hari (jika anda adalah orang yang pas-pasan),
      2. Jika anda salah potong rambut, anda akan malu sebulan,
      3. Jika anda salah kontrak rumah, anda akan sengsara selama 1 tahun,
      4. Tetapi jika anda salah memilih pasangan hidup, anda akan sengsara seumur hidup.
      Sepertinya memang ungkapan diatas benar, tetapi tidak mutlak benar bagi saya.
      Saya tidak mengatakan bahwa anda salah memilih pasangan, sehingga anda akan sengsara dan tidak bahagia seumur hidup. Justru saya ingin menantang bapak, bahwa jadikan keadaan ini sebagai bengkel karakter bapak. Temukan maksud Tuhan dalam hal ini.
      Roma 8:28 mengatakan “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
      Tuhan pasti turut bekerja dalam segala sesuatu, baik itu hal-hal yang tidak enak, untuk mendatangkan kebaikan. Lihatlah dan rasakan betapa Allah sangat mengasihi kita bukan? Dia tetap menggarap kita untuk menjadi anak-anakNya yang baik dimataNya.
      Mungkin Allah ingin membuat anda lebih sabar lagi, mungkin Allah ingin membuat anda lebih mengasihi orang lain lebih lagi, terutama bagi istri Anda. Pasti Dia punya rencana yang besar bagi anda, bagi istri anda dan bagi anak-anak anda.
      Sikap anda untuk tetap mempertahankan pernikahan anda sudah sangat benar Pak. Tetaplah kuat, berpeganglah pada Firman Tuhan, bergaulah erat dengan Tuhan, Roh Kudus akan membantu kita untuk melihat sesuatu hal dan keadaan dari sudut pandang yang benar, jika kita menghayati hal ini, apapun akan jadi berkat buat kita. Roh Kudus ada didalam diri kita sebagai penolong, penghibur, penuntun kita, Dia adalah Roh Allah sendiri. Anda akan terkagum-kagum jika anda memahami banyak hal yang terjadi dalam hidup anda dengan bantuan Roh Kudus. Saya percaya anda akan lebih mengasihi istri anda, dan akan berjuang sekuat tenaga untuk keutuhan keluarga anda.
      Saran saya buat bapak, mungkin untuk saat ini, dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada keluarga kita yang lain, ajak istri untuk hidup ditempat yang jauh dari pengaruh keluarga yang lain, bawa keluarga anda untuk hidup mandiri, tidak terlalu terpengaruh dengan keluarga, baik keluarga anda maupun keluarga pasangan anda.
      Tidak mengurangi perhatian anda terhadap orang tua dan mertua anda, tetapi biarlah mereka tidak ikut campur dengan keluarga anda.
      Fokuskan perhatian anda terhadap keluarga anda, dengan tidak mengurangi semangat dalam bekerja, tetapi berilah perhatian yang banyak untuk keluarga. Saya terlalu percaya, jika anda bergaul erat dengan Tuhan setiap hari, Dia akan memberikan tuntunanNya dalam keluarga Anda.
      Selamat Pak. semoga semuanya menjadi baik karena Allah turut bekerja dalam keluarga Bapak. Dia akan selalu menggarap kita sebagai anak-anakNya menjadi sempurna seperti Bapak.
      Matius 5:48
      Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
      Tuhan punya urusan sendiri dengan istri anda, Dia pasti akan bekerja juga untuk karakter istri anda.
      Nikmatilah dan jalanilah proses anda sendiri bersama Tuhan.
      Amin.

      Balas
  • 02/04/2016 pada 18:34
    Permalink

    Saya bingung apa yg harus saya lakukan. Tahun 2012 bln september krn ada masalah ibu mertua mengusir saya. Sejak saat itu Hingga saat ini saya dan istri sdh pisah rumah. Sejak januari th 2016 sy tdk bisa ketemu istri dan anak saya krn istri saya mengancam akan minggat jika sy datang ke rumahnya. Istri saya selalu menuntut minta cerai namun saya tidak mau menceraikan, saya dianggap menggantung. Kami punya anak 1 usia 6 thn. Apa yg harus saya lakukan? Tetqp setia atau bercerai? Pdhl jelas cerai dibenci Tuhan Yesus.

    Balas
    • 09/04/2016 pada 21:50
      Permalink

      Selamat malam Abu.
      Saran saya anda tetap pertahankan pernikahan Anda. Berdoa dan datang kepada Tuhan Yesus, mohon ampun dan minta tuntunanNya apa yang harus anda lakukan. Saya tidak mengetahui apa permasalah dalam keluarga anda, tetapi jika mungkin anda bersalah, datanglah kepada istri anda sebagai seorang suami dan sebagai laki-laki. Tidak ada yang tidak bisa diperbaiki dalam Tuhan. Kejar terus istri anda, tunjukkan keseriusan anda dalam menjalani pernikahan ini. Tuhan mengetahui hati masing-masing kita, jika anda tulus pasti Tuhan akan membimbing anda. Amin.

      Balas
  • 07/04/2016 pada 16:00
    Permalink

    Saya sangat terberkati dengan artikel ini.
    Sangat mengena di hati.
    Terlepas dari permasalahan yang beragam dan karakter masing-masing, saya setuju dengan penulis artikel bahwa PENGAMPUNAN dan KASIH yang TULUS adalah dasar pernikahan yang rukun dan diberkati.
    Permasalahan boleh berbeda, tetapi solusi tetap hanya satu : YESUS.
    Ketika kita mampu meneladani YESUS di setiap segi kehidupan kita, kita pasti disanggupkan untuk mempraktekkan KASIH SAYANG yang TULUS dan PENGAMPUNAN yang keluar dengan lancar dari HATI kita yang penuh DAMAI SEJAHTERA.

    Akhir kata, apa yang TELAH DIPERSATUKAN oleh ALLAH, TIDAK BOLEH diceraikan oleh manusia…
    BERTAHAN dan PENGAMPUNAN selalu lebih baik dari pada bercerai dan memendam rasa pahit di hati.
    Lepaskan pengampunan dengan limpahnya maka kita pun akan sanggup mengatasi setiap persoalan dalam Rumah Tangga kita.

    Belajar MENGALAH adalah sangat baik untuk kehidupan pasangan, karena sebagian besar cenderung pasangan ingin menang sendiri. Karena itu dibutuhkan ketulusan KASIH dari salah satunya yang mau mengalah demi kepentingan bersama (keluarga) dan bukan masing-masing mempertahankan ego-nya sendiri.
    Betapapun menyakitkan kenyataan yang harus kita tanggung, tetapi beranilah memikul salib kita dan menyangkali ke-aku-an kita yang menuntut pasangan kita untuk mengalah. Mengalah lebih dulu lebih baik daripada menuntut pasangan untuk mengalah, tunjukkanlah KASIH SAYANG yang TULUS tanpa memendam kepahitan sekalipun HATI kita telah disakiti begitu dalam.
    Luka itu akan sembuh ketika kita MAU MENGAMPUNI dengan KASIH … karena KASIH tak pernah gagal…
    Biarkan TUHAN YESUS senantiasa TERLIBAT di dalam segi kehidupan kita sekalian.
    TUHAN YESUS Memberkati. AMIN.

    Balas
    • 09/04/2016 pada 21:52
      Permalink

      Terima kasih saudari Elizabeth. Benar sekali apa yang anda tulis.
      Salam. Tuhan Yesus memberkati anda dan keluarga Anda. Amin.

      Balas
  • 23/07/2016 pada 21:05
    Permalink

    Sungguh artikel yang memberi kekuatan..
    Sy ingin share sekaligus jg meminta masukan dr bpk Vino.
    Saat ini rmh tangga sy di ambang perceraian. Suami sy ingin menceraikan sy krn hub sy dan mertua sy krg baik. Hampir setiap pertengkaran di rmh tangga kami penyebabnya adalah krn keluarga suami yg selalu ikut campur dlm sgala hal bahkan urusan keuangan dan yg paling kecil pun mrk slalu mengatur. Seringkali sy sbg istri mengingatkan dan mengeluhkan namun suami sy selalu menutupi dan tdk pernah mengakui kesalahan orgtuanya sekalipu n bukti nyata jelas di depan mata dan ada saksi. Sy srg diperlakukan tdk adil oleh suami dan keluarganya. Di pertengkaran kami yg terakhir, sy mengalami kekerasan fisik dan psikis. Saat ini sy tdk tgl 1 rmh. Sy tdk ingin rmh tangga kami hancur, krn sy tetap memegang teguh firman Tuhan yg mengatakan bahwa apa yg telah dipersatukan Allah tdk dpt diceraikan oleh manusia. Mertua sy dgn terus terang ingin kami bercerai. Sejak dulu pun bila sy dan suami sdg bermasalah, selalu mrk mengatakan bahwa sy adalah sumber masalah. Suami sy meminta utk bercerai. Bbrp kali sy mencoba mengalah utk trus meminta pengampunan dr suami sy. Pd akhirnya dia mengatakan bila ingin bersatu kembali dgnnya maka sy harus dtg seorang diri ke rmh mertua utk meminta maaf. Respon dr mertua sy yg akan menentukan apakah kami bs bersatu kembali atau tdk.
    Saat sy tdk tahu, apakah sy hrs mengorbankan harga diri sy dan orgtua sy (setelah sy berulang kali dipukul, dicekik, ditendang, dll) ataukan sy hrs mengorbankan rmh tangga sy.
    Mohon masukan dr Bpk Vino.
    Terima kasih sebelumnya
    TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA
    Amin

    Balas
    • 29/07/2016 pada 09:10
      Permalink

      Syalooom Ny. Gultom
      Pertama saya mohon maaf karena telat membalas, dikarenakan kesibukan saya. Terima kasih karena sudah mau share disini, menceritakan masalah ibu.
      Saya sungguh sangat merasakan beban ibu, meskipun saya tidak tahu seluruh cerita dan akar masalah di dalam rumah tangga ibu selama ini. Tetapi hal itu tidaklah penting, yang penting adalah bagaimana kita menata kehidupan kita kedepan.
      Saya berdiskusi dengan istri saya Carla untuk memberi masukkan kepada Ibu, dan kami berdoa Roh Kudus mengilhami kami dalam menulis komentar ini, dan terlebih penting Roh Kudus menerangi batin dan nurani Ibu Gultom.
      Saya akan mencoba memberikan saran dan masukkan point per point, mohon ibu dapat merenungkan dan tentu saja kita harus kembali kepada dasar pengertian dan kehidupan kita yaitu Alkitab yang adalah Firman Allah.

      1. Rumah Tangga yang kita miliki dan jalani, semuanya adalah under control pasangan suami istri, bukan orang tua, mertua, saudara kita atau siapapun. Rumah tangga adalah tanggung jawab berdua suami istri, karena anda yang menjalani. Tentu saja seorang suami / istri yang takut Tuhan dan mengabdi kepada Tuhan, akan membangun keluarganya dengan lebih baik, mereka berdasarkan Firman Tuhan dalam membangun rumah tangganya. Mazmur 127:1 “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya”; Tentu Ibu Gultom bisa membayangkan kebalikannya, bagaimana orang yang tidak takut Tuhan membangun keluarganya.

      2. Orang lain baik itu orang tua, mertua, saudara, teman bisa memberikan saran, masukan, sikap atau respon, tetapi itu tidak boleh dijadikan dasar. Semua keputusan adalah keputusan suami istri, “dua yang adalah satu”. Dalam kasus anda, tidak bisa sikap mertua (orang tua suami) dijadikan dasar kelangsungan rumah tangga anda.

      3. Sebagai anak/menantu, kita memang wajib untuk menghormati orang tua, sangat wajib/harus. Sehingga saya sarankan anda datang meminta maaf kepada mertua jika memang itu dibutuhkan, saya rasa memang dibutuhkan. Terlepas siapa yang salah, anda atau mertua, anda wajib menghargai dia, mengasihi dia bagaimanapun keadaannya. Tetapi sikapnya jangan dijadikan dasar kelangsungan anda, anda dan suami yang harus memutuskannya sendiri. Jika memang suami bersikap seperti itu, biarkan, biar Tuhan yang bekerja dalam dia. Anda hanya bisa mengendalikan diri anda sendiri, menata dulu diri anda sendiri agar dapat berpikiran jernih dan tidak dikuasai emosi. Saya berikan satu kunci lagi dalam Firman Tuhan didalam Amsal 16:32 : Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota. Saya jelaskan sedikit ayat ini, jika anda bisa menguasai diri anda, anda melebihi orang yang merebut kota, artinya merebut kota adalah merebut suasana, atmosfir, bahkan bukan tidak mungkin anda akan merebut atmosfir keluarga anda. Orang yang marah dan emosi tidak akan bisa merebut suasana.

      4. Sekarang saya akan menulis mengenai peran-peran suami istri yang selengkapnya bisa anda baca di link ini : Peran suami dan Peran Istri. Yang saya tekankan disini, karena yang memberikan komentar disini adalah ibu Gultom sebagai seorang istri, maka lakukannya peran sebagai istri dengan baik, yaitu :
      A. Jadilah penolong bagi suamimu, jika suamimu jahat, jadilah penolong bagi dia agar menjadi baik, jika suamimu keras kepala, jadilah penolong agar dia menjadi lemah lembut. Jika dia tidak mengenal Tuhan dengan baik, jadilah penolong baginya untuk menemukan Tuhan. Jika anda mempunyai keinginan tulus untuk melakukan hal ini berdasarkan kasih, percayalah Tuhan akan menolong anda dan memampukan anda bagaimana melakukannya.
      B. Hormati dan RESPEK kepada suamimu, ini juga termasuk kunci dalam rumah tangga. Karena saya seorang laki-laki, maka saya bagikan rahasia laki-laki, yaitu seorang laki-laki akan menjadi baik, lemah lembut, bahasa jawanya “klepek-klepek” jika dia mendapat respek dan hormat dari lawan jenisnya. Maka tak heran banyak suami-suami yang berselingkuh, karena dia mendapat hal itu dari wanita lain, sedangkan dia tidak mendapatkannya dari istrinya. Tentu ini kembali juga kepada kekuatan iman dan keteguhan hati dari seorang laki-laki. Maka Firman Tuhan juga mengatakan kepada suami-suami : Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri. Efesus 5:22-30. Adalah adalah perintah kasih Agape yang tanpa batas, tanpa melihat bagaimana kondisi istrinya. Berdasarkan hal ini, wajib bagi suami untuk mengasihi istrinya tanpa batas, bagaimanapun kondisi istrinya, entah istrinya respek kepadanya atau tidak. Dalam hal ini karena anda seorang istri, anda harus respek kepada suami anda. Apakah suami merespon respek anda atau sebaliknya? Itu urusannya dengan Tuhan, biar Tuhan sendiri yang akan berurusan dengan dia, anda hanya lakukan bagian anda.
      C. Kasihilah Suamimu, ini saya rasa tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar, anda pasti tahu maksudnya.
      D. Patuh kepada suamimu, untuk penjelasan hal ini coba anda baca di artikel yang saya sebutkan diatas, tetapi ayatnya sudah jelas dalam Kolose 3:18-19 : “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.”
      Lalu anda tentu bertanya, bagaimana kalau suami saya yang tidak menjalankan perannya dengan baik? Biarkan saja, biarlah itu menjadi urusannya pribadi dengan Tuhan. Saya sangat yakin jika anda mengasihi Tuhan, mengasihi suami dan anak-anak anda, dan anda menjalankan peran anda sebagai istri dengan baik, meskipun mungkin berat bagi anda, saya yakin Tuhan akan bekerja secara luar biasa dalam rumah tangga anda, bekerja dengan caraNya dan KuasaNya.

      Sikap anda untuk tidak mau rumah tangga anda hancur sudah sangat benar, maka mulailah bangun lagi keluarga anda, jalankan peran anda sebagai istri dengan baik, berdoa dan minta bantuan Tuhan untuk memampukan anda melakukan ini. Bangun hubungan terus dengan Tuhan setiap saat, anda akan peka dengan bimbingan Roh Kudus dalam hati anda dan memberikan arahanNya untuk setiap respon dan sikap yang anda tunjukan. Bibit motivasi yang kecil ini, bahwa anda hanya tidak ingin rumah tangga anda hancur, seperti biji sesawi yang akan tumbuh dengan besar jika anda bawa kepada Tuhan.
      Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
      Amin, kami akan berdoa bagi anda dan keluarga anda, dan saya yakin Tuhan punya rencana yang indah buat anda.
      Tuhan memberkati.

      Balas
  • 01/08/2016 pada 12:36
    Permalink

    Selamat Siang Bapak,

    Saya mau minta nasehat atas masalah yang saya hadapi. Saya sudah menikah Desember 2014 alasan pernikahan saya yang utama karena saya ingin menyenangkan orang tua, sehubungan dengan usia saya yang sudah dewasa. Saya memilih pasangan saya karena pasangan saya baik, polos, sayang sama saya dan sudah mapan. Tetapi secara jujur dari awal saya memaksakan perasaan saya untuk cocok sama dia padahal saya tidak ada cinta, mungkin hanya sayang sebagai teman. Tetapi karena hanya dia yang sudah mapan maka saya memilih dia untuk menikah dengan alasan yang saya sebut di atas. Beberapa bulan sebelum pernikahan saya bertemu dengan seseorang yang lain dan orang tersebut saya cinta tetapi karena waktu itu rencana persiapan nikah sudah 70% berlangsung saya Takut bilang kalo saya sebenarnya tidak menginginkan pernikahan itu.

    Akhirnya saya terpaksa menikah karena saya tidak mau buat masalah dengan membatalkan pernikahan tersebut. Sejak awal pernikahan saya merasa sangat terpaksa apalagi jika saya harus berhubungan intim dengan pasangan saya. Saya selalu menangis sesudahnya ( pasangan saya tidak tahu ) karena saya merasa terpaksa hanya ingin dia tidak kecewa. Jujur saya masih mencintai seseorang yang pernah saya cintai itu, dan saya menikah karena alasan untuk orang tua.

    Sekarang saya merasa hidup saya hampa walaupun pasangan saya sangat baik dan sabar, saya mencoba untuk memaksa hati saya mencintai tapi saya tidak bisa. Saya berencana untuk berpisah baik” karena saya tidak mau memaksa diri dan hati saya lagi menjalani pernikahan saya. Dan saya ingin pasangan saya menemukan seseorang yang tepat yang bisa membuat dia bahagia ( seijin Tuhan ). Alasan Saya berpisah karena saya merasa sangat terpaksa sehingga seolah olah saya seperti bersandiwara menjalani pernikahan saya, sama sekali ngga ada rasa.

    Bagaimana saran Bapak untuk masalah yang saya hadapi. Mohon nasehat.

    Terima Kasih

    Balas
    • 06/08/2016 pada 23:25
      Permalink

      Selamat Malam Mel
      Terima kasih karena sudah sharing di artikelkristen.com ini.
      Saya merasa anda mempunyai keraguan untuk bertindak saat ini, terbukti anda menanyakan saran dari saya untuk langkah apa yang akan anda ambil buat pernikahan anda. Dan menurut saya hal ini bagus sekali, berarti anda masih mendengarkan suara hati anda dan tidak bertindak ceroboh. Bukan tidak mungkin ini adalah pekerjaan Roh Kudus didalam hati anda.
      Saudari Mel, hal pertama yang saya mau katakan; pernikahan itu sangat kompleks, karena melibatkan dua manusia yang mempunyai perbedaan dalam banyak hal, satu pribadi saja sudah sangat kompleks (dia bisa mempunyai beberapa keinginan yang berbeda dan saling bertentangan dalam hatinya) apalagi dua pribadi jadi satu dalam pernikahan.
      Buat saya pribadi, pernikahan bukan soal cocok atau tidak, karena manusia mudah berubah. Boleh jadi hari ini cocok, belum tentu sebulan lagi bisa cocok. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang.
      Kalau boleh saya menebak, anda mungkin belum kenal lama dengan orang lain yang anda “jatuh cinta” sebelum anda menikah dengan suami anda saat ini. Mungkin anda tertarik dengan penampilannya, atau anda suka dengan kepribadiannya, atau mungkin dia lebih pintar membuat anda tersanjung mungkin sehingga anda jatuh cinta kepada orang lain itu. Tetapi apakah anda sudah kenal dia sampai dalam sekali? Kalau saya menangkap dari cerita anda, anda baru saja kenal dengan orang itu.
      Di lain sisi, saya juga menangkap makna dari cerita anda, bahwa sebelum menikah anda sudah kenal cukup lama dengan suami anda saat ini, terbukti anda katakan dia baik, polos, sayang sama anda dan sudah mapan. Sejujurnya kalau boleh saya katakan, anda sudah tepat caranya dalam memilih suami. Selain perasaan, anda juga berpikir logis, tidak membabi buta.
      Memang benar, manusia bisa berubah-ubah, bisa jadi suami anda nanti jadi tidak baik, tidak sayang anda lagi, tidak mapan lagi mungkin; tetapi ingat anda pun bisa juga berubah lho, anda mungkin jadi sayang dengan suami, jadi punya rasa dengan dia. Kita harus berpikir luas dan seimbang.
      Bukan tidak mungkin, jika saat ini anda cinta dengan orang lain itu, dan merasa cocok, tetapi dengan berjalannya waktu semua bisa berubah terbalik lho, bukan hal yang tidak mungkin kan? Namanya juga manusia. Apakah anda bisa menjamin berdasarkan rasa cinta anda diawal, anda bisa merasakannya terus beberapa tahun kemudian??
      Maka pernikahan itu bukan hanya soal perasaan jatuh cinta diawal, tetapi juga soal keputusan dan tanggung jawab.
      Satu hal lagi Saudari Mel, jangan selalu menggunakan kata “jatuh cinta”, ketika saat ini anda sudah menikah, lupakan “jatuh cinta”, yang perlu Saudara lakukan adalah “BANGUN CINTA” dengan pasangan Anda. Kata “Jatuh” berarti pasif, Anda tidak perlu melakukan apa-apa, anda sudah jatuh sendiri. Tetapi kata “BANGUN” adalah kata yang aktif, Anda harus aktif melakukan sesuatu agar tercipta Cinta didalam pernikahan Anda.

      Saran praktis dari saya :
      1. Tetaplah bersama suami anda saat ini. Anda katakan pasangan anda baik dan sabar lho, meskipun anda mungkin mulai menunjukkan sikap kurang enak kepadanya, tetapi dia tetap baik dan sabar. Sulit sekali mencari orang seperti itu.
      2. Mulailah membangun cinta dengan dia, kasihi dia, hormati dia, respek kepadanya sebagai seorang istri kepada suami.
      3. Berbahagialah dari dalam diri anda sendiri, bukan karena hal luar. Yang bisa membuat anda berbahagia adalah diri anda sendiri.
      4. Karena anda sudah menikah dan bersuami, lupakan orang lain, fokus kepada suami anda saja.
      5. Bangun hubungan lebih dekat lagi dengan Tuhan untuk diri anda, milikilah saat-saat teduh bersama Tuhan.
      6. Milikilah waktu berdoa bersama dengan suami anda.
      7. Segeralah punya anak. 🙂

      Bagaimanapun perasaan anda saat ini, Roma 8:28 ; Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

      Coba anda juga baca artikel-artikel ini :
      Apakah Pasangan Anda membuat Anda BAHAGIA?
      8 Hal Yang Perlu Anda Lakukan untuk Membuat Pernikahan Anda Lebih Menggairahkan

      Amin, Tuhan memberkati keluarga anda.

      Balas
  • 14/08/2016 pada 13:59
    Permalink

    Siang pak… nama saya amel.. sya sngat terberkati dng artikel ini. Sya mau share tntg pernikahan sya. Semoga bpk bisa bantu .Usia pernikahan saya hampir 5 tahun.. selama berumah tangga,kami sering bertengkar..karena sifat kami yg sangat amat berbeda..dia tdak rohani.. peminum..sering tidak tidur rumah..lebih mementingkan teman2nya.. dia tidak punya penghasilan tetap..dia suka berbohong dlm hal apapun(uang,hutang,dll),dia sering membuat kasus( beberapa kali menggadaikan motor & mobil yg nukan hakny)..semua hutang saya yg bayar..kasus2nya sya yg menghadapi dan selesaikan..beberapa kali dia kabur dr rumah..melarikan diri. Terakhir pas saya hamil anak ke dua..dia minggat sebulan karna kasus gadai mobil ilegal… selama ini sya selalu bersabar.. lalu ini dia skrg pergi lagi tnpa pamit.dan 2 hari tdk pulang..hpnya sengaka dia tgl drumah.. Saya ini skrg tgl di rumah mertua,yg sdh tua2.. sya dikaruniai 2 anak. 3thun dan satunya msh 6 bulan.. sy tdk punya pembantu.. apa2 saya kerjakan sendiri…tpi sya mengajar d sekolah.. Saya capek dengan semua ini pak. Kok dia tdak berubah2 dan bertobat. Seolah dia itu tdk peduli dngan istri dan anak2nya.. saya sbnarnya pengen cerai. Tpi saya urungkan niat itu demi anak2. Semua sdh sya berikan buat dia. Bhkan skrg sya tdk pubya apa2. Gaji slalu hbis buat byar hutangnya. Motor sudah hilang dia jual buat judi. Saya harus bgmana y pak??? Apalagi anak sya yg pertama sering tanya papanya dimana. Mohon didoakan. Terimakasih pak. GBU

    Balas
    • 19/08/2016 pada 14:27
      Permalink

      Syaloom Ibu Amel
      Kami turut prihatin dengan kondisi keluarga ibu, memang tidak mudah, tapi selalu ada harapan Bu. Saya sangat kagum bahwa ibu bisa bertahan sampai sekarang. Rasa cinta pada anak anak kita memang selalu kuat dan bisa kita jadikan pegangan dalam menjalani bahtera keluarga. Tetapi saya mau katakan yang terutama adalah rasa cinta kita kepada Tuhan, itu harus menjadi dasar dalam keseluruhan jalan hidup kita. Roma 8:28 dikatakan bahwa, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
      Saran saya untuk ibu dalam hal rohani atau untuk membentuk iman dan hati Ibu Amel:
      1. Mendekatlah kepada Tuhan, bangun hubungan yang intim dengan Dia, carilah apa maksud Tuhan bagi diri Ibu dan Keluarga melalui masalah dalam keluarga anda. Bangunlah kasih dengan Tuhan. Jangan marah dengan DIA, bagaimanapun DIA selalu baik dan tetap baik. God is Good. All the time. Membangun hubungan dengan Tuhan kebanyakan berupa Doa kepadaNYA. Memang benar. Kita harus berdoa, tetapi doa yang bukan hanya minta (minta untuk dipulihkan, minta untuk diberkati, dll). Tetapi esensinya adalah kita membangun dialog dengan Tuhan, sembari anda berbicara kepadaNya, cobalah untuk merenungkan FirmanNya, bacalah Firman Tuhan dan renungkan. Bacalah injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, dimana ada kisah tentang pelayanan Tuhan Yesus di dunia ini. Bacalah juga surat-surat Paulus dalam perjanjian baru. Membaca alkitab bukan dengan maksud untuk mendapatkan hal pertolongan Tuhan secara mistis. Tetapi lambat laun pengertian anda akan dirubah, itu yang dinamakan Rhema. Anda akan menjadi penuh kasih dan berhikmat sehingga dapat menentukan sikap dalam hidup anda. Bahkan sikap menghadapi suami anda sekalipun. Percayalah Roh Kudus akan menolong anda.

      2. Tetaplah mengasihi suami anda, doakan juga suami anda, harapkan Tuhan menolong suami anda, bagaimanapun cara Dia. Lakukan tugas anda sebagai istri. Soal dia tidak melakukan tugas sebagai suami dengan baik, itu jangan dijadikan beban, itu urusannya sendiri dengan Tuhan. Allah yang akan bekerja secara pribadi kepadanya.

      Hal selain rohani yang bisa anda lakukan :
      1. Jika suami anda kena masalah atas perbuatannya sendiri, jangan ambil konsekuensinya. Jangan dibayar hutangnya. Biar dia sendiri yang bertanggung jawab. Misal sampai masuk penjarapun biarlah dulu. Anda harus kuat. Seandainya suami mengancam dengan tindakan kasar, mintalah perlindungan kepada Tuhan. Serahkan hati anda kepada Tuhan, Dia akan melindungi ibu. Hanya renungkan dulu arti menyerahkan hidup ibu kepada Tuhan, bagaimana sikap yang sungguh sungguh berserah kepada Tuhan itu. Saya yakin dan percaya, jika Tuhan berkenan melindungi ibu, tidak akan terjadi apa apa dengan Ibu.
      2. Tetap lindungi anak-anak dan berikan penghidupan kepada mereka. Bawa mereka kepada perlindungan Tuhan. Kebetulan istri saya juga seorang guru SD, yang jika saya lihat dia adalah seorang guru yang baik, sangat berdedikasi dalam hal mendidik anak-anak. Saya katakan kepada istri saya, mungkin kamu tidak dapat memperhatikan anak anak kita sendiri secara penuh waktu, tetapi dengan berbagi hidup kepada anak-anak orang lain, kamu tidak akan kehilangan upah, upahmu besar. Anak-anak kita tidak akan terbengkalai karena dipelihara oleh Tuhan.

      Semoga apa yang saya sarankan dapat menguatkan Ibu Amel. Terima kasih Tuhan memberkati dan memulihkan keluarga ibu.

      Balas
  • 06/10/2016 pada 09:23
    Permalink

    Shalom bapak, saya sangat terbantu dengan artikel ini, saya seorang istri yg pernah berselingkuh dari suami saya, saya menyesal dan memohon pengampunan pada Tuhan, suami dan semua orang yang sudah saya sakit, walaupun saya sudah memohon berkali kali kepada suami saya dan menunjukkan perubahan saya, diri saya yang baru, suami tetap membenci saya dan ingin berpisah( saat ini belum sih), tp saya akan tetap setia pada suami saya, menjaga tubuh saya agar tetap suci dan menunggu suami saya kembali, seumur hidup saya. Terima kasih, ternyata masih ada pengampunan untuk saya. Mohon doa untuk suami saya, agar Tuhan lembutkan hatinya. Amin. Terima kasih

    Balas
    • 30/10/2016 pada 19:07
      Permalink

      Shalooom Ibu Galuh. Terima kasih sudah berkenan bercerita di Artikel Kristen ini.
      Apa yang ibu lakukan saat ini terhadap keluarga ibu sudah benar. Ibu meminta ampun kepada Tuhan, ibu berubah, ibu meminta maaf kepada suami dan keluarga itu sudah sangat benar. Memang tidak mudah bagi seseorang untuk mengampuni orang yang sudah menghianati dia, apalagi pasangan hidupnya. Tetapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, hati yang luka bisa Tuhan sembuhkan.
      Yang terpenting saat ini, ibu tetap dalam hadirat Tuhan, bangun hubungan dengan Tuhan lebih intim lagi. Carilah apa maksud Tuhan dengan semua yang ibu alami saat ini. Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Bangun hubungan dengan Tuhan, bangun rasa cinta kepada Tuhan, cari apa rencana Tuhan bagi hidup Anda. Serahkanlah hubungan suami istri anda kepada Tuhan. DIA akan memberikan yang terbaik bagi anda dan keluarga anda, “apapun itu” yang terjadi. Itu adalah yang terbaik bagi Anda.
      Semoga keluarga anda bisa dipersatukan lagi. Amin… Tuhan memberkati.

      Balas
  • 22/10/2016 pada 21:14
    Permalink

    Shallom bapak.. saat ini saya sedang dalam pergumulan dalam rmhtgg dan penyakit saya… Rmhtgg saya bru mw jln 3 tahun nanti tgl 1 november bsk, tp suami saya sudah pergi tinggalkan saya dan mau menceraikan saya krn alasan kami tidak cocok, dia sudah tidak ada rasa lagi sama saya dan bagi dia sudah tidak bisa lagi di lanjutkan,.. lalu disaat saya larut dalam kesedihan baru tersadar ada benjolan di payudara kanan saya. Saya berusaha mencari suami saya, saya ceritakan penyakit saya ini, lalu dia pulang tapi hanya bertahan 3 minggu di rumah dan dia pergi lagi.. kata terakhir saat berantem sebelum dia pergi dia katakan biar saya mati pun dia tak perduli lagi. lalu lewat sms dia katakan kita harus bercerai. Jujur dalam hati kecil saya, saya tidak ingin bercerai.. saya ingin mempertahankan rmhtgg saya, sebelumnya saya slalu berdoa Tuhan saya mau bahagia, punya suami punya anak tapi saya selalu dapat cobaan sudah tidak bekerja, suami saya tinggalkan saya dan ada sakit di payudara saya…. Saya selalu berdoa Tuhan tlg ubah suami saya, saya mau mempertahankan pernikahan saya.. tapi dari keluarga saya mau saya pisah saja dari suami saya karna mereka sudah sangat geram melihat kelakuan suami saya yg pergi tinggalkan saya… Saya terkadang bingung harus bagaimana ?apakah saya harus mengiyakan keputusan suami saya utk bercerai ? Say mohon bimbingannya.. terimakasih

    Balas
    • 30/10/2016 pada 20:15
      Permalink

      Shaloom Ibu Evona, terima kasih sudah bercerita mengenai masalah ibu di Artikel Kristen ini. Kami turut prihatin dengan keadaan ibu dan penyakit ibu, semoga Tuhan memberikan kesembuhan dn kekuatan kepada Ibu.
      Mengenai permasalahan ibu dengan suami ibu, kami akan memberikan beberapa point yang mungkin bisa dipikirkan, direnungkan dan dilakukan. Sebelumnya kami berdoa dahulu agar apa yang kami sampaikan kepada Ibu adalah bimbingan Roh Kudus, bukan dari pemikiran kami sendiri, dan agar dapat memberikan ibu pencerahan, kekuatan dan bimbingan. Tetap Ibu harus berdoa sendiri, membangun hubungan dengan Tuhan agar Tuhan memberikan bimbinganNya.

      1. Sikap ibu tidak menginginkan perceraian sudah baik Bu. Biarlah ini menjadi dasar yang baik dalam kelangsungan rumah tangga ibu. Tetapi semuanya harus berdasarkan kasih.
      2. Kami tidak tahu kondisi rumah tangga ibu yang sebenarnya, namun dari cerita yang ibu sampaikan kami melihat cukup banyak terjadi pertengkaran disana, dan itu menjadi kendala bagi sebuah rumah tangga. Perbedaan pendapat, konflik antara suami istri tidak selalu buruk, ada yang baik untuk mendewasakan hubungan. Konflik adalah suatu bentuk kemajuan dalam suatu hubungan, tetapi bukan konflik yang berlarut larut dan terus menerus atau sering terjadi.
      Ibu bercerita bahwa suami berniat menceraikan ibu dengan alasan tidak cocok. Hal ini cukup penting untuk dicari penyebabnya, mengapa tidak cocok. Ibu renungkan mengapa suamiku berkata demikian? Apa yang membuat dia merasa tidak cocok? Apakah ada yang salah dengan sikap saya? Ini harus kita renungkan sendiri. Kita harus bisa melihat kedalam diri kita sendiri. Jangan melihat kepada sikap suami ibu, biarlah itu urusannya sendiri dengan Tuhan, Tuhan akan bekerja sendiri secara pribadi kepada suami. Ibu coba lihat diri ibu sendiri, apakah aku sudah berperan sebagai seorang istri yang baik? Dalam hal ini, Kami bukan bermaksud menghakimi ibu, kami ingin ibu bisa melihat permasalahann ini dengan sudut pandang yang lebih luas.
      Kami menilai suami ibu (memang penilaian kami ini didasarkan hal yang sangat minim sekali yaitu cerita ibu), bahwa suami ibu telah berbesar hati untuk kembali, meskipun hal itu berlangsung selama 3 minggu. Kepergiannya pasti juga beralasan dan ada penyebabnya. Hubungan Ibu akan dapat diselesaikan jika kedua belah pihak memiliki kedewasaan untuk menyikapi masalah yang kerap kali berujung pada perceraian.
      3. Berkaitan dengan point sebelumnya, kebutuhan dasar yang dibutuhkan seorang suami adalah “RESPEK” dari istrinya. Kolose 3:18-19 : “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Pepatah mengatakan jika anda ingin menjadi seorang ratu maka perlakukanlah suamimu sebagai seorang raja. Mungkin Anda merasa bahwa suamiku tidak berperan sebagai suami yang baik, menurut saya sebaiknya hal tersebut dikesampingkan dimana waktu ini Ibu dapat merenungkan dan mendoakan perguulan ibu sebagai seorang istri yang baik. Saya yakin dalam hal ini suami ibu juga menggumuli masalah dalam pernikahan kalian. Jika Ibu tidak merubah sikap atau masih sama maka masalah yang sama akan terus datang. Berubah untuk mengubah orang lain/suami dan menuai hasil yang berbeda dimasa mendatang. Aminnn, Tuhan memberkati Ibu dan keuarga, Saya sangat bersyukur dapat mendengarkan sharng dari Ibu dan yakin bahwa selalu ada jaan keluar bersama dengan Tuhan.

      Balas
  • 25/10/2016 pada 15:20
    Permalink

    Shalom….pak saya menikah diusia syg yg baru menginjak 21 thn. Sy menikah dgn seseorg yg tidak pernah sy cintai. Dlu ketika pacaran sudah bbrpa x sy mnta putus karna sy tidak merasa suka. Tapi ibu sy memarahi sy dan sampai masuk rumah sakit. Ibu sy ingin sekali anak2nya dapat menaikkan derajat orgtua. Jujur sy tertekan krna sy tidak bisa menikah dengan pilihan saya…sy sudah menikah selama 4 tahun lebih tapi sy tidak pernah melayani maaf ( hub seksual) sy bersikeras untuk tidak mau melakukannya. Krna saya tidak merasa nyaman dan tidak sama skali mencintai suami sy. Entah apa yg ada dipkiran suami sy tentang ini. Sy juga tidak tau bhkan merasa tidak mau tau dia berfikir apa. Sy harus berbuat apa? Sedangkan sy sudah tidak kuat lg… sy lelah hidup dengan seseorang yg tidak sy cintai…apakah bisa sy bercerai? Terimakasih

    Balas
    • 30/10/2016 pada 22:19
      Permalink

      Shalooom. Kami berterima kasih karena anda mau bercerita di media ini. Memang tidak mudah jika kita menjalani apa yang tidak sesuai dengan hati kita. Namun jika anda renungkan, sebenarnya anda sudah menceraikan suami anda meskipun tidak secara resmi. Ketika anda tidak berhubungan sebagai layaknya sebuah keluarga/suami istri, ini sudah menghilangkan hakekat hubungan suami istri. Dan selama 4 tahun tentu adalah waktu yang sangat lama. Tentu hal ini adalah hal yang tidak baik dalam pernikahan Kristen.
      Cinta yang benar bukanlah sebuah perasaan yang datang tiba-tiba, yang tidak punya dasar yang kuat. Cinta harus dibangun terus diatas pondasi yang benar dan dilakukan dengan komitmen yang kuat. Anda bisa saja jatuh cinta kepada seseorang pada suatu saat dalam hidup anda, tetapi jika anda tidak membangun atau mengusahakan terus cinta anda, lama-lama perasaan cinta anda akan pudar, dingin dan akhirnya mati. Saya lebih percaya bahwa cinta itu diBANGUN terus. Cinta itu aktif, bukan pasif.
      Saran kami untuk Anda:
      1. Bangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Berdoalah, siapkan waktu khusus untuk berhubungan dengan DIA. Curahkan semua perasaan anda kepada Tuhan secara jujur, karena didepan DIA tidak ada sesuatupun yang tertutupi. Bertanyalah kepada Tuhan, apa maksud semuanya ini. Saya sangat percaya jika kita dengan tulus mencari TUHAN, DIA akan menyatakan DiriNya kepada kita. Anda akan merasakan kasih Tuhan mengalir dalam hati anda.
      2. Pertahankan pernikahan Anda, selama 4 tahun anda bisa mempertahankan pernikahan Anda, sebenarnya anda adalah orang yang kuat. Sikap anda untuk mempertahankan sudah benar. Perceraian tentu tidak diperbolehkan dalam Kekristenan.
      3. Mulailah cintailah suami anda, tidak ada cara lain. Mulailah untuk menjadi istri yang baik, istri yang berperan sebagai sesungguhnya istri dalam sebuah rumah tangga. Anda akan dibantu oleh Roh Kudus yang ada dalam hati anda untuk memberikan kekuatan kepada Anda.
      4. Segeralah punya anak dalam rumah tangga anda, karena anak bisa menjadi pengikat dalam rumah tangga. Anda akan utuh menjadi seorang wanita.
      Hidup bukan hanya soal menikah atau tidak menikah, punya anak atau tidak punya anak, hidup adalah mengerti rencana Tuhan dalam kehidupan kita dan kita dengan tulus, kasih dan hormat kepada Bapa, mengerjakan rencana itu dalam hidup kita.
      Jika anda sudah dalam posisi berumah tangga, lakukanlah dengan baik dan bertanggung jawab. Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
      Amin, kami berdoa Tuhan mengalirkan kasihNya dalam kehidupan anda sehingga keluarga anda dan hubungan anda dengan suami diberkati, Amin.

      Balas
  • 09/11/2016 pada 09:43
    Permalink

    Hanya dekat dengan TUHAN semua persoalan hidup dapat terselesaikan.

    Balas
  • 30/11/2016 pada 10:15
    Permalink

    Shalom, saya tidak tau harus bercerita kepada siapa,saya mohon sarannya
    Saya berpacaran sudah satu tahun, latar belakang pacar saya memang tidak baik, dia sudah jatuh dalam dosa seks
    dia sdh berhubungan dengan pacar sblmnya, bahkan dia sudah sering “jajan” dulu sebelum bertemu dengan saya.
    Namun saya mau menerima dia apa adanya dengan berharap pertobatan dlm dirinya,kita mulai menjalin komitmen serius dia memang sudah bertekad untuk bertobat, saya rasakan perubahannya, dia tidak pernah selingkuh, dia baik, dia peduli dengan kesulitan keluarga saya, dia percayakan semua keuangan di tangan saya, karena tujuan kami pacaran untuk menikah. Saya sendiri belum pernah berhubungan badan dg siapapun, awalnya saya termasuk orang yang teguh dan saya terus menjaga kekudusan smpai terakhir saya pacaran dg mantan sampai pada akhirnya saya terjatuh dengan dia, dia tidak bisa menahan hasratnya karena sudah menjadi kebutuhan buat dirinya dan bodohnya saya berikan smua. Karena saya tidak tahan dengan sikapnya ketika dia sedang menahan, dia berubah menjadi dingin seolah tidak ada sukacita bersama saya, dia pun bilang dia berusaha untuk berubah menjadi lebih baik. Tapi nyatanya kami tetap jatuh dalam dosa itu. Dia tidak tahan dengan nafsunya dan saya tidak tahan dengan sikapnya. Saat ini saya berpikir apa saya harus menikah dengannya agar tidak menyakiti hati Tuhan terlebih dia yang sudah mengambil smuanya, atau saya harus tegas dan berpisah dengannya? tapi bagaimana dengan kondisi saya saat ini yang sudah tidak perawan.

    Balas
    • 03/12/2016 pada 11:38
      Permalink

      Shaloom Clairine
      Kami sungguh menyesal dengan keadaan anda. Namun tetap dalam kasih Tuhan Yesus, kami akan berikan saran untuk memperbaikinya. Kami sarankan anda untuk berpisah dengan pacar anda, dengan pertimbangan sebagai berikut:
      1. Anda masih berpacaran dengan dia baru satu tahun. Anda belum mengenal dia sepenuhnya. Ketika kita jatuh cinta, kadang semuanya kelihatan baik. Namun ingat bahwa dalam pernikahan nantinya, anda akan menjalaninya selamanya baik dalam keadaan baik atau buruk.
      2. Anda tidak bisa mengharapkan pertobatan seseorang, dengan cara anda berkorban untuk menerima orang itu. Kita memang harus menerima semua orang apa adanya dalam kasih. Tapi jangan berharap orang akan bertobat dengan kita berkorban menerima mereka. Apalagi dalam posisi anda belum menikah. Kecuali kalau anda sudah menikah, anda harus menerima pasangan anda apa adanya.
      3. Dalam 1 Korintus 15:33, berkata : “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Banyak orang berpikir bahwa dia bisa merubah orang lain yang buruk dengan kebiasaan baik mereka, tapi ternyata banyak juga yang malah terseret ke kebiasaan yang buruk.
      4. Memang Tuhan mampu untuk merubah seseorang yang tidak baik menjadi baik, Tetapi Dia adalah Allah yang memberikan kita juga kebebasan dalam hidup ini. Kita bisa melihat peta kehidupan seseorang dengan perbuatannya saat ini. Kita bisa memperkirakan akan menjadi apa orang itu nanti dengan melihat perbuatannya pada masa sekarang. Apakah anda tidak kawatir jika anda nanti menikah dengannya, dia akan berbuat yang sama dengan orang lain? Kita tidak pernah tahu memang, tapi kita bisa melihat peta kehidupan seseorang atau paling tidak kita bisa memperkirakannya dengan melihat apa yang diperbuatnya masa sekarang.
      5. Saran kami, lepaskan dia, apapun yang sudah dia perbuat kepada anda. Mohon ampun kepada Tuhan, dan lepaskan pengampunan, dan sebaiknya jangan berhubungan dengan dia lagi.
      6. Bangun hubungan dengan Tuhan, carilah kehendak Tuhan dalam hidup anda.
      7. Dua hal yang mutlak ada sebagai syarat dalam mencari pasangan hidup sebagai orang yang hidup dalam iman Kekristenan adalah : 1. Seiman (harus) dan 2. Dewasa Rohani (harus). Soal mapan, sudah kerja, ganteng, cantik, dll adalah relatif dan bisa kita usahakan dengan kerja keras saat sudah menikah. Seiman harus, dan dewasa rohani sangat penting. Orang yang dewasa rohani, meskipun mungkin belum mapan karena dia masih muda, tapi pasti dia akan bekerja keras dan bertanggung jawab untuk keluarganya. Tetapi tentu akan lebih baik lagi jika, sudah seiman, sudah dewasa rohani, baik , ganteng dan mapan finansial lagi. he he.

      Ayo Clairine, anda harus tegas!! Soal iman, kekudusan dan prinsip kita harus tegas dan teguh, dengan dasar kita mengasihi Tuhan Yesus, menghormati dan menghargai DIA lebih dari yang lain.
      Masih banyak laki-laki yang lain, buka mata disekeliling anda. Carilah pergaulan yang baik. Saya dan Istri sangat bersimpati kepada anda. Pergunakan masa mudamu dengan baik, melangkahlah dengan berpegang teguh pada Tuhan Yesus, perbanyaklah waktu bersekutu dengan Tuhan, DIA dengan kasihNya yang tidak ada batas akan membimbing anda. AMIN Tuhan memberkati.

      Balas
  • 06/12/2016 pada 14:20
    Permalink

    Shalom. Terimakasih Pak Vino untuk sarannya sangat membantu
    Saya sadari dari awal saya menerima dia sudah sebuah kesalahan, saya kesampingkan logika saya dan hanya mengandalkan perasaan yang akhirnya menutupi smua dan berakhir spt ini walaupun saat itu saya berdoa terlebih dahulu sblm menerimanya.
    Sudah lebih dari 3x rasanya saya meminta berpisah dengannya karena hati ini seolah mengingatkan utnk berpisah dari dia,tapi selalu tidak bisa, karena dia akan memohon dan tidak segan menyakiti diri nya ketika saya berusaha tegas untuk berpisah dgnnya, dan akhirnya hal itu membuat saya kembali mengalah.
    Keadaan saya saat ini merupakan titik terdalam kekecewaan saya terhadap diri saya dan hidup saya, mungkin sudah tidak terhitung berapa byk air mata penyesalan yang saya keluarkan setiap malamnya, berapa lama saya tidak bisa tertidur dengan nyenyak setiap mlmnya krn penyesalan terdalam yang tidak bisa saya ungkapkan kepada siapapun. Disatu sisi saya ingin sudahi smua, namun jika berhadapan dengan kenyataannya saya selalu tidak bisa dan gagal.Saya kecewa karena saya merasa saya sudah jauh dr Nya. Perasaan bersalah dan tidak layak yang sering membuat saya tidak tenang.
    Bahkan saya tidak tau bagaimana saya bisa lepas darinya. Sering rasanya saya berjanji untuk lepas darinya dan dari dosa yang mengikat di setiap doa namun saya gagal, bahkan di doa saya..saya berpikir Dia lebih baik memanggil saya pulang. daripada saya harus hidup tapi terus mendukakan hati Nya. Hingga saat ini saya menulis hal ini, saya belum berani kembali membangun hubungan dengan Tuhan, kembali berdoa kepadaNya, kembali meminta pengampunan dari Nya. Karena saya takut saya mengingkari dan tidak bisa menepatinya lagi, hingga akhirnya kembali menyakiti hati Dia.saya tidak ingin menjadi orang munafik. Tapi terimakasih pak untuk sarannya. Saya mohon bantu doa.Tuhan berkati Bapak &keluarga.

    Balas
    • 28/03/2017 pada 18:04
      Permalink

      Saudari Clairine, anda harus datang kepada Tuhan dengan hati yang tulus, Dia pasti akan menerima anda.

      Balas
  • 29/01/2017 pada 01:23
    Permalink

    Shalom..sy kezia
    Umur pernikahan sy 5th,bln 3 akan genap 6th..sy memiliki 2 anak laki” yg msh kecil.
    Sy sdh menghianati pernikahan sy dg berselingkuh dg laki” yg jg pux istri..dn laki” itu org sebrang.sy jenuh dg suami sy yg tdk beri perhatian lg dn wkt buat kelg tdk ada yg buat sy pd akhir’a berselingkuh dg pria lain.suami sy sll sibuk dg tmn”a diluar sna,ngmpul sm tmn’a smpe subu..sll pulg pagi.
    Suami mngetahui perselingkuhan sy..dn saat ini suami sy tdk prnh utk tdr dirumh,hubgan qmi renggang..dy tdk peduli lg dg sy dn anak”.sy mengaku bersalah dn sy sdh berulang kali mnt maaf dg suami sy..dy blank sdh memaafkn sy tp smpai saat ini dy msh blom mau utk tdr dirumh.sy sngat menyesal dg perbuatan sy..bgaimna cra’a sy berbicara lg kpd suami sy..sy sll ajak dy utk ngmg,tp respon’a tdk ada sma sx..klo dy sdh diluar rumh sulit sy utk menghubungi dy.
    Sy sngat ingin memperbaiki rumh tgga sy..sy tdk mau bercerai dg suami sy..sy sedih melihat anak” sy yg msh kcil,tdk mengerti apapun.
    Sy sndr hmpir ptus asa krna sikap suami sy yg sll cuek..ketika sy mau berubah dy tdk ada respon..sy tkud suami sy akan menceraikn sy.sy syg dg kelg sy,tdk mau khilngan kelg kcil sy..sy rindu hubgan sy dn suami kembali spt dlu..saat ini sy bngung apa yg hrs sy lakukan..

    Balas
    • 28/03/2017 pada 18:33
      Permalink

      Shaloom Kezia, saya mohon maaf karena lambat membalas karena web artikelkristen ini kena hack.
      Terima kasih karena sudah sharing dengan kami disini. Dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus, kami akan mencoba memberikan saran kepada anda, sebagai berikut :
      1. Sikap anda untuk mempertahankan rumah tangga anda sudah benar. Yang paling utama adalah, bangun hubungan dengan Tuhan, milikilah jam-jam doa didalam rumah, jika memungkinkan ajak anak-anak anda untuk berdoa bersama. Minta Roh Kudus agar selalu membimbing anda untuk melakukan hal yang benar. Baca Firman Tuhan dan milikilah hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Memang sepertinya kelihatan klasik saran kami ini, tetapi percayalah, hal ini akan memberikan anda kekuatan untuk menghadapi semua.
      2. Tetap jagai dan pelihara anak2 anda dengan baik. Mereka berhak mendapatkan yang terbaik.
      3. Jika anda bertemu dengan suami anda, ungkapkan bahwa anda ingin bersama sama dengan dia lagi. Bersikaplah sebagai istri yang baik. Jangan kecewa jika dia belum menunjukkan penerimaan, tetaplah berbuat yang baik dan terus berdoalah. Yang penting adalah anda berubah dahulu. Perubahan dari suami anda adalah urusan Tuhan dengan dia.
      Semoga keluarga anda menjadi lebih baik.

      Balas
  • 17/02/2017 pada 21:40
    Permalink

    adik saya tidak dinafkahi suaminya sudah hampir setahun, saat dihubungi adik saya dan ibu saya suaminya cuek saja sehingga adik saya membenci suaminya dan berpacaran lagi dengan seseorang. suaminya pun marah2 karena tindakan tersebut. apakah salah adik saya seperti itu. karena merasa diacuhkan. disaat anak adik saya sakit pun suaminya acuh tak menghiraukan. adik saya ingin cerai dari suaminya dan meneruskan dengan pacarnya yg lebih penuh perhatian terhadap adik saya dan anak2 adik saya. mohon pencerahannya

    Balas
    • 29/03/2017 pada 14:59
      Permalink

      Dear Rendi
      Terima kasih atas sharing di artikelkristen.com ini. Saya mohon maaf mungkin tidak bisa tepat memberikan saran, karena saya tidak terlalu tahu situasinya di keluarga adik anda.
      Kalau kami menyarankan, sebaiknya adik anda tidak usah berpacaran dengan orang lain lagi, mengingat bahwa adik anda dan suaminya sudah mempunyai anak-anak. Karena hal ini akan memperburuk situasi, suami adik anda juga akan punya alasan untuk menyalahkan adik anda.
      Memang tidak mudah, dan saya tahu hal tersebut. Tetaplah berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Tuhan akan selalu menghibur dan memberikan jalan yang terbaik. Kami selalu menyarankan hal-hal yang rohani untuk setiap keluarga, memang terkesan kuno dan sepertinya tidak akan merubah suasana, tetapi kami masih yakin bahwa ini adalah sikap yang terbaik. Carilah seorang pembimbing rohani yang terpercaya, untuk membimbing adik anda. Tetap jalankan peran sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anak. Soal suami yang belum berubah, biarlah itu menjadi urusan Tuhan dan dia sendiri. Tetapi biarlah kita menjalankan peran kita sendiri dengan sebaik-baiknya.
      Semoga anda sekeluarga diberikan hikmat dan jalan yang terbaik oleh Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

      Balas
  • 02/03/2017 pada 16:49
    Permalink

    Dear Pak Vino, mohon inputannya. ini tahun kedua saya berpacaran dengannya, kami seringkali bertengkar karena masalah yang bhkan spele, dia slalu menuntut dimngerti dan didengarkan. Hubungan dia dan keluarganya pun tidak baik, krn sbnernya orang tuanya sudah berpisah namun hanya tetap tinggal bersama. membuat dia tumbuh menjadi pribadi yang keras. ketika berantem dia selalu bilang kata2 kasar, dia selalu menagih smua pemberiannya, dan saat ini dia malah mau menyudahi hubungan nya dg saya. Saya memang pernah bilang pisah dg nya namun ketika dia minta maaf dan membujuk saya kembali lg kepadanya. saya benar2 tidak tau apa yang harus saya perbuat karena begitu berat bagi saya untuk melepasnya, saya merasa tidak sanggup krn hubungan kami sudah serius, dan karena bujuk rayu nya saya jatuh dlm dosa seks dengan dia wlwpun dia mau saya ajak untuk hidup benar sesuai KehendakNya, namun seringkali dia lemah dan tidak sanggup melawannya hawa nafsunya. saya benar2 buntu, saya merasa tidak layak dtg kepada Tuhan dan saya juga tidak sanggup melepas dia. apa yang harus saya lakukan?

    Balas
    • 29/03/2017 pada 15:30
      Permalink

      Dear Erny
      Mohon maaf karena telat banget untuk membalas, karena web ini beberapa waktu yang lalu kena hacked orang-orang yang tidak bertanggung jawab :), sehingga kami harus memperbaiki dahulu, dan cukup membutuhkan waktu.
      Saya dan istri selalu prihatin jika ada yang sharing tentang pacarnya. Saya ingat pernah memberikan saran kepada Clairine, jika anda scroll keatas halaman ini, anda akan menemukan saran-saran kami. Kami akan menyarankan hal yang sama kepada anda. Ini adalah beberapa point yang juga saya tulis diatas :

      Kami sarankan anda untuk berpisah dengan pacar anda, dengan pertimbangan sebagai berikut:
      1. Anda masih berpacaran dengan dia baru dua tahun. Anda belum mengenal dia sepenuhnya. Ketika kita jatuh cinta, kadang semuanya kelihatan baik. Namun ingat bahwa dalam pernikahan nantinya, anda akan menjalaninya selamanya baik dalam keadaan baik atau buruk.
      2. Anda tidak bisa mengharapkan pertobatan seseorang, dengan cara anda berkorban untuk menerima orang itu. Kita memang harus menerima semua orang apa adanya dalam kasih. Tapi jangan berharap orang akan bertobat dengan kita berkorban menerima mereka. Apalagi dalam posisi anda belum menikah. Kecuali kalau anda sudah menikah, anda harus menerima pasangan anda apa adanya.
      3. Dalam 1 Korintus 15:33, berkata : “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Banyak orang berpikir bahwa dia bisa merubah orang lain yang buruk dengan kebiasaan baik mereka, tapi ternyata banyak juga yang malah terseret ke kebiasaan yang buruk.
      4. Memang Tuhan mampu untuk merubah seseorang yang tidak baik menjadi baik, Tetapi Dia adalah Allah yang memberikan kita juga kebebasan dalam hidup ini. Kita bisa melihat peta kehidupan seseorang dengan perbuatannya saat ini. Kita bisa memperkirakan akan menjadi apa orang itu nanti dengan melihat perbuatannya pada masa sekarang. Apakah anda tidak kawatir jika anda nanti menikah dengannya, dia akan berbuat yang sama dengan orang lain? Kita tidak pernah tahu memang, tapi kita bisa melihat peta kehidupan seseorang atau paling tidak kita bisa memperkirakannya dengan melihat apa yang diperbuatnya masa sekarang.
      5. Saran kami, lepaskan dia, apapun yang sudah dia perbuat kepada anda. Mohon ampun kepada Tuhan, dan lepaskan pengampunan, dan sebaiknya jangan berhubungan dengan dia lagi.
      6. Bangun hubungan dengan Tuhan, carilah kehendak Tuhan dalam hidup anda. Ikutlah dalam kegiatan-kegiatan kerohanian, agar anda sibuk dengan hal hal kerohanian, untuk saat ini.
      7. Dua hal yang mutlak ada sebagai syarat dalam mencari pasangan hidup sebagai orang yang hidup dalam iman Kekristenan adalah : 1. Seiman (harus) dan 2. Dewasa Rohani (harus). Soal mapan, sudah kerja, ganteng, cantik, dll adalah relatif dan bisa kita usahakan dengan kerja keras saat sudah menikah. Seiman harus, dan dewasa rohani sangat penting. Orang yang dewasa rohani, meskipun mungkin belum mapan karena dia masih muda, tapi pasti dia akan bekerja keras dan bertanggung jawab untuk keluarganya. Tetapi tentu akan lebih baik lagi jika, sudah seiman, sudah dewasa rohani, baik , ganteng dan mapan finansial lagi. he he.

      Ayo Erny, anda harus tegas!! Soal iman, kekudusan dan prinsip kita harus tegas dan teguh, dengan dasar kita mengasihi Tuhan Yesus, menghormati dan menghargai DIA lebih dari yang lain.
      Masih banyak laki-laki yang lain, buka mata disekeliling anda. Carilah pergaulan yang baik. Saya dan Istri sangat bersimpati kepada anda. Pergunakan masa mudamu dengan baik, melangkahlah dengan berpegang teguh pada Tuhan Yesus, perbanyaklah waktu bersekutu dengan Tuhan, DIA dengan kasihNya yang tidak ada batas akan membimbing anda. AMIN Tuhan memberkati.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *