Peran Suami Dalam Pernikahan, Bagaimana Seharusnya?

Peran Suami dalam pernikahan dan rumah tangga

Syalooomm, kami berdoa agar artikel ini menjadi konsep berpikir yang akan membantu Anda memahami peran suami dalam pernikahan dan rumah tangga sehingga menjadi lebih jelas daripada sebelumnya sesuai dengan nilai-nilai Firman Tuhan tentunya.

Ada sebuah kisah tentang seorang suami yang baru meninggal dan pergi ke surga, disana dia menemukan dua barisan pria-pria dengan tanda pada setiap barisan itu. Kalimat dalam tanda pertama berbunyi: “Semua Pria yang semasa hidupnya didominasi oleh Istrinya, berdiri di barisan ini!” Barisan ini tampak barisan yang penuh, panjang barisannya.

Sedangkan tanda yang kedua berbunyi: “Semua Pria yang semasa hidupnya TIDAK didominasi oleh Istrinya, berdiri di barisan ini!” Dibarisan ini hanya ada satu orang saja.

Pria yang baru meninggal ini pergi ke pria yang berada dalam barisan kedua, dan dia bertanya, “Wah hebat, apa rahasianya? Bagaimana anda bisa tidak didominasi oleh istri anda, apa rahasianya?

Pria yang berdiri seorang diri itu, melihat sekeliling dengan ekspresi bingung, “Mengapa? Saya juga tidak tahu. Saya hanya disuruh oleh istri saya untuk berdiri disini.”

Kita mungkin tertawa mendengar humor ini, tapi persoalan kepemimpinan dalam rumah tangga dan pernikahan adalah bukan lelucon, ini adalah hal yang serius.

Peran suami dalam pernikahan adalah hal yang sangat serius pada jaman ini

Selama beberapa puluh tahun belakangan ini, kita tahu perubahan jaman membuat makna tanggung jawab atau peran pria dan wanita menjadi bergeser. Dari dulunya seorang pria atau suami menjadi sangat berkuasa di keluarganya, namun hari-hari ini banyak pria atau suami yang bingung perannya dalam pernikahan atau rumah tangga. Banyak pria menjadi bingung dalam perannya di pernikahan, banyak yang tidak tahu bagaimana bertindak di rumah. Dalam perkembangannya, generasi-generasi berganti, para pria tidak memiliki model yang baik dalam hal kepemimpinannya di rumah tangga, mereka tidak memiliki gambaran mental dari apa yang disebut memimpin di keluarga, karena mereka kurang mendapatkan contoh dari generasi atasnya. Akibatnya mereka tidak memimpin secara efektif dalam keluarga dan pernikahannya. (Berhati-hatilah kita sebagai pria, karena kita memberi contoh pada anak laki-laki kita).

Semakin banyak pria pasif di rumahnya. Mereka berpikir bahwa hal termudah adalah “tidak melakukan apa-apa”. Mereka tidak berani mengambil resiko, dan membiarkan istri mereka yang menggantikannya. Ketika seorang pria menikah dengan istri yang kuat dan dominan yang mengambil alih peran suami dalam rumah tangga, para pria lebih sering membiarkan hal itu terjadi.

Untungnya ada jawaban akan hal ini. Sama seperti artikel “Peran Istri Dalam Pernikahan dan Rumah Tangga”, kita harus kembali kepada dasar dari nilai-nilai kehidupan Kristen yaitu Firman Tuhan. Alkitab dengan jelas memberikan kita model untuk menjadi seorang pria, seorang suami dan ayah. Saya sebut model tersebut “hamba yang pemimpin”.

Ketika ditafsirkan dengan benar dan diterapkan, konsep ini tidak hanya menghasilkan kebebasan untuk suami dan istri, tetapi juga membantu Anda bekerja lebih baik sebagai sebuah tim untuk memerangi perseteruan dan konflik dalam pernikahan Anda.

Apa saja peran suami dalam pernikahan / rumah tangga?

  1. Jadilah PEMIMPIN.

Alkitab menyatakan dengan jelas sebuah susunan organisasi dalam pernikahan.

1 Korintus 11:3

Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

Efesus 5:22-30

Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri

  1. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

  2. karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

  3. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

  4. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

  5. untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,

  6. supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

  7. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.

  8. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

  9. karena kita adalah anggota tubuh-Nya.

  10. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

  11. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

  12. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Kita lihat dalam dua paket ayat alkitab diatas, bahwa Allah menempatkan tanggung jawab utama di pundak suami. Tuhan juga telah menetapkan tugas seorang istri yaitu menaati/mematuhi suaminya. Ketaatan ini harusnya sebuah sikap yang sukarela, dan hanya kepada suaminya sendiri, bukan pada setiap pria.

Menjadi “Kepala” tidak berarti semuanya harus didominasi laki-laki, dimana mereka menuntut para istri untuk mematuhi semua perintahnya dan kebijakannya. Tuhan tidak pernah melihat perempuan sebagai warga negara kelas dua. Firman-Nya dengan jelas menyatakan bahwa kita semua sama-sama anak-anak-Nya dan memiliki nilai yang sama dan layak di hadapan-Nya.

Galatia 3:28

Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.

Pengajaran dalam Perjanjian Baru dengan jelas menunjukkan bahwa perempuan harus dihormati, dihormati, dan diperlakukan setara dengan laki-laki. Sayangnya, banyak suami belum mendapatkan arti dari ayat ini. Para suami menurunkan derajat istri dengan cara tidak memperdulikan mereka, memperlakukan mereka dengan tidak manusiawi. Mungkin salah satu penyebab dari gerakan feminis atau emansipasi yang berlebihan dari para wanita adalah karena para laki-laki tidak seturut dengan rancangan Allah bagi manusia.

Ketika Allah memberikan Hawa kepada Adam di taman Eden, Adam menerimanya sebagai hadiah yang sangat bernilai bagi dia. Ketika para suami, terutama suami-suami Kristen, tidak memperlakukan istri mereka sebagai hadiah yang berharga dari Allah dan sebagai penolong mereka, hal ini menyebabkan mereka (para istri) mencari cara untuk menemukan makna dan nilai sendiri bagi mereka sebagai manusia, dan seringnya cara mereka diluar kehendak Allah.

Apakah Anda seorang pemimpin?

Bagi para pria yang “alami”nya biasa memimpin, pasti tidak kesulitan menjawab pertanyaan ini, jawaban mereka pasti YA. Mereka tahu bagaimana caranya untuk mengambil alih, mengontrol, membimbing, dan menyelesaikan sesuatu masalah. Namun beberapa orang bukan seorang pemimpin yang kuat atau alami. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan jika mereka dihadapkan dengan situasi yang menuntut sebuah sikap kepemimpinan. Lalu bagaimana mereka bisa memimpin di rumah?

Paulus mengatakan hal yang sama untuk semua orang pada surat-suratnya. Allah telah menempatkan suami dalam posisi penanggung jawab atau pemimpin. Tidak peduli apa jenis kepribadian yang mungkin dimiliki seorang suami, Andalah sang pemimpin dalam rumah tangga, Andalah yang bertanggung jawab. Istri Anda mungkin menolak Anda, memerangi Anda ketika anda mulai memimpin, dan berusaha melawan upaya Anda untuk memimpin, tapi hal itu tidak ada bedanya, tidak membuat Anda jadi berubah peran sebagai “yang dipimpin”. Secara defakto mungkin anda kalah, tetapi secara dejure (hokum) andalah sang pemimpin.

Saya sangat percaya istri kita ingin kita dan perlu kita untuk memimpin dia, mungkin Anda tidak menuntut posisi itu, tapi faktanya Tuhan menempatkan Anda di posisi itu.

Mungkin Anda berkata kalau Anda tidak akan sempurna kalau memimpin istri Anda, tidak masalah, kita semua para pria tidak sempurna, semua butuh proses, tapi Anda harus mulai memahami hal ini, bawa pemahaman dan kesadaran dalam pikiran Anda bahwa Anda adalah sang pemimpin di pernikahan dan rumah tangga, mulailah peduli dengan istri Anda dan keluarga Anda dengan melayani mereka sebagai seorang pemimpin. Ingat pemimpin adalah pelayan.

Ayat Firman Tuhan diatas tidak hanya sekedar menyuruh Anda menjadi pemimpin dalam pernikahan. Tetapi di pasal yang sama juga memberikan sebuah model kepemimpinan yang benar. Paulus berkata bahwa suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Inilah perbandingan suami dengan Kristus, menggambarkan bahwa suami harus menjadi kepala istri. Sebagai kepala, suami seharusnya ingin agar istrinya sebagai tubuhnya sejahtera. Suami sebagai pelindungnya. Sama seperti Kristus, sebagai kepalanya gereja, yang menyelamatkan gereja.

Mari kita lihat dua tanggung jawab seorang suami yang mengalir keluar dari pola kepemimpinan yang tepat.

  1. Cintailah Istri Anda Tanpa Syarat

Efesus 5:25

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”

Penerimaan tanpa syarat Anda akan istri Anda tidak didasarkan pada penampilannya, tidak diukur dari seberapa dia berkontribusi dalam keluarga, tidak dinilai dari apa yang sudah dilakukannya didalam pernikahan, tapi cintailah istri anda karena dia memang layak, sebagai karunia Allah untuk Anda.

Jika Anda ingin mencintai istri Anda tanpa syarat, selalu pastikan tangki emosionalnya penuh. Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan menegaskan keberadaan dirinya terus-menerus. Biarkan dia tahu secara lisan bahwa Anda menghargai dia, Anda menghormati dia, dan mencintainya. Dan Anda akan merasakan bahwa hal ini tidak akan pernah cukup, sehingga Anda harus melakukannya setiap hari, setiap waktu.

Kita semua tahu bahwa kata-kata bisa menyatakan cinta, tapi yang membuktikan cinta adalah tindakan. Anda perlu melakukan keduanya pada istri Anda.

1 Yohanes 3:18

Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Salah satu hal yang mungkin sudah hilang dalam kepemimpinan suami dalam pernikahan adalah pengorbanan. Coba Anda ingat kapan terakhir kali Anda menyerahkan sesuatu untuk kepentingan istri Anda, sesuatu yang sangat Anda hargai, seperti hobby Anda, Anda tidak jadi main golf karena istri Anda membutuhkan Anda dirumah, Anda tidak jadi memancing hari sabtu, karena Istri Anda kelelahan dan Anda harus menemani anak-anak dirumah.

Kadang-kadang Anda harus melepaskan sesuatu yang Anda nikmati atau sukai, sehingga istri Anda dapat memiliki waktu-waktu istirahat atau waktu-waktu bersama Anda dan dia akan melihat cinta Anda untuknya.

  1. Jadilah Pelayan Bagi Istri Anda

Menurut Perjanjian Baru, menjadi kepala istri, Anda tidak berarti menjadi tuannya, tetapi menjadi pelayannya. Sekali lagi, Kristus adalah model kita untuk jenis kepemimpinan. Yesus tidak hanya berbicara tentang melayani; Dia menunjukkan itu ketika ia membasuh kaki murid-murid-Nya “(Yoh 13: 1-17).

Kristus, sebagai kepala Gereja, mengambil sifat seorang hamba ketika Ia dibuat sama dengan manusia.

Filipi 2: 7

Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Salah satu cara terbaik untuk melayani istri Anda adalah untuk memahami kebutuhan dan berusaha untuk memenuhinya.

Apakah Anda tahu apa tiga kebutuhan teratas dari istri Anda? Apa yang dia kawatirkan sekarang. Apa masalahnya sekarang? Tekanan apa yang dihadapinya sekarang? Belajarlah untuk mengetahui hal-hal yang ditanyakan diatas, dan carilah cara untuk paling tidak mengurangi kekawatirannya, masalahnya atau tekanan yang dihadapinya.

Apa yang Anda ketahui tentang harapan dan impian istri Anda? Anda harus mengetahuinya, dan seharusnya Anda juga harus membantunya untuk meraihnya.

Cara lain untuk melayani istri Anda adalah menyediakan apa yang dia perlukan. Penjelasan akan hal ini, mungkin yang pertama adalah memenuhi kebutuhan material keluarga.

1 Timotius 5:8

Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Menjadi “penyedia” bagi istri Anda juga berarti mengambil inisiatif dalam membantu memenuhi kebutuhan spiritualnya. Lakukan hal ini sebagai model yang menggambarkan karakter ilahi dalam diri Anda sebagai seorang suami, cara yang simple adalah berdoa bersama dengan istri Anda, bersama-sama membaca Firman Tuhan, membahas ayat-ayat alkitab, dan berusaha mencari cara agar pertumbuhan rohaninya bisa naik.

Untuk menjadi pemimpin, seorang kekasih, dan seorang hamba adalah memberikan hidup anda sebagai seorang suami yang utuh bagi istri Anda, seorang suami yang sesuai dengan perintah Alkitab, seorang suami yang takut akan Tuhan yang sudah mengaruniakan istri Anda kepada Anda.

Terima kasih telah membaca Artikel kami ini, semoga Anda diberkati, dan dapat memberikan sudut pandang yang baru bagi peran Anda di dalam sebuah pernikahan Kristen. Sehingga ketika Anda nanti berhadapan dengan tahta pengadilan Kristus, Dia akan berkata, “Well done, engkau hamba yang baik dan setia.”

Amin.

10 tanggapan untuk “Peran Suami Dalam Pernikahan, Bagaimana Seharusnya?

  • 04/10/2015 pada 09:58
    Permalink

    bgm dg suami yg ingin menguasai. gaji istri dan harta yg dimiliki istri sebelum mereka menikah? suka menteror dan mengintimidasi istri karena uang…pelaku kdrt terhadap istri….suami yg jd bendahara dlm keluarga krn tak mau uangnya dipakai oleh istri tapi uang istri ingin dia kuasai….ini yg saya alami saat ini….apa solusinya please…

    Balas
    • 08/10/2015 pada 12:25
      Permalink

      Terima kasih Bu Aster atas kesediaan Ibu share dengan kami semua.
      1 Timotius: 6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
      Uang menjadi hal yang utama di dalam benak suami Ibu sehingga tak lagi memikirkan tindakan kejahatan yang telah ia lakukan terhadap Ibu dan keluarga. Sebagai penolong yang Allah ciptakan bagi suami Ibu, mari terus menDOAkan suami Ibu, memohon perlindungan dari Allah agar tak lagi ada KDRT karena Allah sendiri yang melindungi Ibu, tiada hal yang mustahil. Percayakanlah diri dan nyawa Ibu kepada Allah, Dia akan melindungi Ibu.
      Mazmur 62:8. (62-9) Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.
      Jangan melihat suami sebagai seorang musuh, tetapi lihatlah suami sebagai seorang dari Tuhan yang butuh ditolong dalam kondisinya saat ini. Anda sebagai istri yang menjadi penolong. Memang tidak mudah, butuh KASIH yang besar didalam hati Ibu. Cobalah memulai peran sebagai istri yang menjadi penolong bagi suami, ibu bisa baca artikelnya disini : https://artikelkristen.com/peran-istri-dalam-pernikahan.html

      Mari terus menjadi penolong bagi suami Ibu, saat ia tak sabar jadilah istri sabar, saat dia memaksa jadilah istri yang murah hati dan pemaaf, saya yakin ini menjadi satu masa dimana suami Ibu dimurnikan kembali dan akan menjadi suami yang terbaik seperti yang ibu rindukan, Amin. Tuhan memberkati dan memulihkan keluarga Ibu.

      Balas
  • 05/10/2015 pada 14:22
    Permalink

    Suami saya tidak bisa meminpin rumah tangga. Kerjaan nya main game saja. Kami tinggal di rumah mertua saya. Ramai sekali d sni. Suami saya juga cerewet makan nya mau enak terus. Tanpa berpikir untuk hemat. Kerja berantakan. Bangun siang bolong.pagi2 mertua saya yang atur karyawan.saya menyiapkan makan karyawan dan keluarga.kalau di nasehati selalu saja marah.di bilang cerewet dan tidak mau dengar.apa yang harus saya lakukan? Saya sungguh tidak tahan dengan suami saya. Dia enggan berkomitmen untuk hidup kami di masa depan.pikiran nya jangka pendek hidup kami tidak ada rencana. Apa salah kalau saya jenuh untuk bertahan?

    Balas
    • 08/10/2015 pada 12:27
      Permalink

      Terima kasih atas sharing yang dibagikan Ibu Lie Fenny bagi kami semua. Suatu pergumulan yang beralasan jika Ibu jenuh ketika berpikiran bahwa hal ini akan terus berlanjut setiap hari. Pernikahan merupakan sebuah komitmen yang harus dipertahankan hingga maut memisahkan. Budaya seseorang dalam keluarga membentuk kebiasaan-kebiasaan yang mungkin telah dilakukan bertahun-tahun, sehingga hal tersebut nampak wajar bagi suami Ibu, sehingga nasehat yang Ibu berikan berkesan cerewet dan mengatur. Situasi ini akan bisa berubah ketika ia berada di tempat yang berbeda. Misalnya saja jika Ibu mengontrak rumah bersama suami, maka akan ada perubahan gaya hidup dan tanggung jawab lebih yang harus dipenuhi dan tak akan bisa diabaikan. Ada beberapa prinsip dalam pernikahan yang mungkin belum diketahui oleh suami Ibu sehingga perlu sekali beliau mendapat dukungan nasehat/bantuan dari orang yang dekat dengannya seperti sahabat atau teman pria lain yang juga telah berkeluarga. Bersabar ya Bu, coba rubah sudut pandang Ibu kepada suami, bahwa dia adalah orang dari Tuhan yang perlu ditolong, dan Ibu adalah penolong baginya, mari setia melakukan komitmen pernikahan ini dan bersabar pasti suami Ibu bisa berubah, terus berdoa agar Ibu dan suami bisa mandiri dan memiliki rumah dan kehidupan yang bahagia. Aminn.

      Balas
  • 08/10/2015 pada 19:19
    Permalink

    syalom.
    mohon sarannya. bagaimana jika suami tidak pernah mendengarkan pendapat istri, tidak pernah menghargai istri. tidak menghormati orang tua sy. hingga kami menghadap konselor pernikahanpun tidak menghasilkan apa”. karena rekonsiliasi yg diajukan oleh pihak konselor gereja tidak mau dilakukan. hasil yg didapat hanya ingin apapun yg dia inginkan dilakukan dan dilaksanakan oleh istri. tanpa memikirkan perasaan istri.
    pengelolaan uang smua juga suami yg pegang. segala sesuatu dia yg ambil keputusan tanpa meminta pertimbangan istri krn istri tidak dianggap sama sekali.
    terkadang sy cape dan hampir menyerah jika sy tidak ingat akan 2 anak yg sdh dianugerahkan kepada saya.

    Balas
    • 12/10/2015 pada 12:29
      Permalink

      Syaloom Ibu Wanda, terima kasih telah memberikan share di halaman ini. Kami mengerti apa yang bu rasakan, tentu tidak mengenakkan jika tidak dihargai oleh suami dan didengarkan pendapat ibu oleh suami.
      Saat ini yang terlintas dalam pikiran dan hati kami untuk memberi saran kepada ibu adalah, ibu harus memandang suami ibu sebagai pribadi yang harus ditolong dan ibu sebagai penolongnya. Saya sebagai seorang suami kadang tidak tahu apa yang saya lakukan terkadang membuat sakit hati istri saya, tetapi hal ini tidak merubah posisi ibu sebagai sang penolong bagi suami.
      Kami tahu bukan hal yang mudah, tetapi mulailah memiliki pola pandang yang berbeda untuk suami ibu.
      Yang pertama, doakanlah dia, bagaimanapun doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan, dan Tuhan PASTI mendengar hambanya yang memperkarakan masalahnya dengan Tuhan, apapun yang Tuhan jawab, sekalipun Tuhan sepertinya tidak merubah situasi, percayalah Dia turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan. Tetap doakan suami ibu.
      Yang kedua, tanyakan kepada Tuhan, apa maksud Tuhan memberikan masalah ini kepada Anda, jika anda percaya kepada Tuhan Yesus dan yakin bahwa anda adalah termasuk anak-anak yang dikasihiNya, Tuhan pasti bekerja dalam hidup Anda, DIA memberikan permasalahan (apapun itu) adalah untuk mendewasakan kita. Jika anda sudah sabar terhadap suami, lebih lagi sabar kepadanya, jika anda sudah berdoa untuk suami anda, teruslah berdoa, bangun komunikasi dengan Tuhan. Berserahlah kepada Tuhan, yakinlah segala sesuatu adalah dalam kuasa Tuhan, tetapi tetap kerjakan bagian Anda, tanggung jawab anda sebagai seorang istri.
      Yang ketiga, ambilah posisi sebagai istri yang sesuai dengan Firman Tuhan, Mohon ibu baca dan renungkan kembali artikel ini : https://artikelkristen.com/peran-istri-dalam-pernikahan.html , tetaplah mengasihi suami anda apapun kondisinya, tetaplah hormat dan respek kepada suami anda, layanilah dia sebagai suami anda. Jangan melihat dia sebagai seorang musuh.
      Kami yakin Tuhan akan memulihkan kehidupan keluarga Ibu. Mintalah hal itu terjadi, dan Dia pasti akan memberikannya, karena kehidupan keluarga yang baik adalah yang Tuhan inginkan juga dalam kehidupan masing-masing, hal ini bukanlah hal yang Tuhan tidak mau berikan, jikalau Tuhan masih belum memulihkan keluarga kita, introspeksi diri dan tanyakan mengapa masalah ini terjadi, mungkin Tuhan ingin memperbaiki karakter kita. Kehidupan keluarga yang baik sangat dibutuhkan oleh anak-anak kita, karena anak yang bertumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik, akan menjadi anak-anak yang baik yang dapat dipakai Tuhan untuk kemuliaan KerajaanNya di bumi ini.
      Tuhan memberkati.

      Balas
  • 19/10/2015 pada 12:31
    Permalink

    Hmm…Sangat menarik.. Sangatlah tepat Suami adalah Pemimpin. Ketika suami tidak bisa “Mengambil keputusan” dalam suatu kondisi bukan berarti istri tidak dapat mengambil keputusan. “Pengorbanan “, tampaknya ini masih sulit dilakukan oleh “pria” terutama ketika baru memiliki anak. Pria masih selalu mengandalkan orang tuanya (bila dekat), namun wajarnya pria belajar tuk mengurus “anak dan istrinya”. Artikel ini menarik mengingatkan peran Suami dan Istri. Terima kasih

    Balas
    • 08/11/2015 pada 12:44
      Permalink

      Terima kasih saudari Meda untuk komentarnya. Tuhan memberkati keluarga Saudari meda.

      Balas
  • 04/11/2015 pada 00:12
    Permalink

    Suami saya (ngakunya) dulu pelayan Tuhan yang sangat dipandang dan berpengaruh di gerejanya, sejak awal hanya teman-teman sepelayanan dan pembimbing PAnya yang dia perkenalkan.
    4,5 tahun pernikahan kami terlihat baik-baik saja (walaupun hub sex suami istri kami sangat jarang padahal ia selalu kembali ke rumah setiap hari).
    Setelah 4,5 thn itu saya mulai merasa depresi krn seolah2 saya tidak diinginkan suami saya dan ketika itu saya baru beberapa bulan melahirkan anak kedua kami.
    Diperparah tiba-tiba suami saya mengemukakan kesalahan-kesalahan saya dari A-Z kepada adik perempuan dan ibunya dan ingin menceraikan saya. Jujur saya merasa sangat tersudut ketika itu. Laki-laki yang harusnya mengcover semua kelemahan saya justru menjadikan semua kelemahan saya untuk menyudutkan saya. Ketika itu ia sudah jarang pulang, pulang 2 hari sekali (dan polosnya saya tidak curiga krn pekerjaannya biasa lembur).
    Tapi Tuhan baik, kira-kira 2 bln setelah ia ingin menceraikan saya, saya pap smear dan disitulah dokter kandungan menyatakan saya tertular penyakit kelamin dari suami saya (krn saya tidak pernah berhub dengan laki-laki lain selain suami saya). Kenapa saya blg Tuhan baik pdhl saya sudah tertular?
    Ya karena semua pernyataan dia tentang kesalahan saya akhirnya menjadi bumerang kepada dirinya sendiri. No wonder ia ingin menceraikan saya, no wonder ia sering tidak pulang..ternyata sudah belasan tahun hidupnya dalam dosa seksual dan perzinahan (dengan PSK, wanita di tmp karaoke, wanita di spa ++, bahkan istri orang).
    Saya sungguh bersyukur Tuhan bukakan semua, dan sejujurnya hati saya sangat hancur krn kepercayaan yang saya berikan ke dia disalahgunakan. Terlebih lagi dari sejak awal pencitraan dirinya tentang pelayanannya di gereja sungguh menggugah hati saya (karena saya juga pelayan gereja).
    Sekarang saya serahkan semua kepada Tuhan, saya percaya semua akan mendatangkan kebaikan..apapun itu nantinya.
    Anak kami sudah 2 jadi dia (sebagai anak broken home) mudah-mudahan tidak lagi silly berpikir untuk bercerai.
    Saya trauma karena dia pernah bakar baju-baju saya dan setelah it saya ajak ke psikolog malah dia ngamuk karena tidak ingin dianggap orang gila. Terima kasih Tuhan sudah memberikan suami yang sangat menguji kesetiaan saya sama Tuhan.
    It’s all about me and you, God..thank you for everything You’ve done in my life#faith
    God bless you all

    Balas
    • 08/11/2015 pada 12:59
      Permalink

      Shaloom Ibu Daya, terima kasih karena sudah bersedia sharing di web artikel Kristen ini. Saya yakin tidak mudah buat ibu dan keluarga dalam menghadapi persoalan ini.
      Saya juga melihat bahwa Ibu dan Suami sama-sama pelayanan, saya berpikir bahwa hal ini bisa menjadi mudah untuk diselesaikan ketika anda bersatu hati dengan suami untuk merendahkan diri dihadapan Tuhan dan membawa segala permasalahan kepada Tuhan. Sekali lagi dibutuhkan kerendahan hati yang sangat untuk bisa membawa masalah ini.
      Tidak ada yang tidak bisa diperbaiki dalam tangan kuasa Tuhan, tidak ada yang mustahil dihadapanNya. Bagi manusia mungkin terasa mustahil, tapi tidak BagiNya.
      Ini bukan masalah bahwa suami anda terbuka segala kesalahannya mungkin, ini bukan masalah bahwa anda bersyukur anda mengetahui belangnya suami, tetapi ini soal kerendahan hati, termasuk buat ibu sendiri.
      Saya tidak mengetahui kehidupan keseharian dalam rumah tangga Ibu, tetapi ibu harus menyadari bahwa Ibu adalah penolong bagi suami ibu. Ibu Daya harus melihat suami ibu sebagai orang yang harus ditolong, dihadapan Tuhan ibu mempunyai peran itu. Sebagai pandangan Ibu, bisa membaca artikel kami : https://artikelkristen.com/peran-istri-dalam-pernikahan.html
      Dihadapan Tuhan ibu menikah dengan suami, dihadapan Tuhan dua-duanya dituntut bertanggung jawab dalam kehidupan rumah tangganya.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *