UNTUK APA SEBENARNYA HIDUP INI?

Pernahkah anda bertanya; Untuk apa sih hidup saya ini? Mengapa saya dilahirkan di dunia ini? Apakah anda pernah memikirkan, adanya diri anda di dunia ini atas permintaan siapa? Diri anda sendiri? Atau orang tua anda? Pernahkah anda meminta kepada Sang Pencipta agar menciptakan anda dengan cara dilahirkan di dunia ini? Apakah sebelum dilahirkan dulu anda bisa memilih orang tua anda? Dilahirkan di negara tertentu? Mohon renungkan sejenak pertanyaan-pertanyaan di atas.

Untuk apa saya hidup di dalam dunia ini?

Lalu siapakah yang menghendaki agar kita mengalami kehidupan di dunia ini? Setelah merenungkan pertanyaan-pertanyaan diatas, saya hampir yakin sebagian besar saudara pasti menjawabnya, “Tuhanlah yang menghendaki saya hidup di dunia ini. Tuhanlah yang menciptakan saya.” Sebagai orang Kristen kita semua pasti yakin bahwa Tuhanlah yang menciptakan kita, yang menghendaki agar kita hidup di dunia ini.

Di dalam Mazmur 139:13-16 dikatakan :

139:13 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
139:14 Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
139:15 Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
139:16 mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

Ayat 13 – 16a mengatakan bahwa Tuhanlah yang membentuk atau menciptakan kita, Dia melihat kejadian kita mulai awal sampai kita dilahirkan. Lalu ayat 16b mengatakan bahwa hari-hari yang akan kita lalui sudah ditulis atau ditentukan oleh Pencipta kita.

Disaat kita menyadari hal ini, sesungguhnya kita tidak boleh merasa BERHAK apapun atas kehidupan kita, sebab kita tidak menciptakan hidup ini. Keberadaan kitapun juga bukan karena kita mau, tetapi Tuhan yang menghendakinya.

Atas dasar ini, patut bagi kita mempersoalkan apa yang dikehendaki Dia yang menciptakan dan memberikan kehidupan ini, bukan apa yang kita kehendaki. Patut bagi kita untuk menanyakan kepada Sang Pencipta kita, apa yang Dia mau didalam kehidupan kita. Tuhan menghendaki agar manusia hidup HANYA untuk melakukan keinginan-Nya.

Banyak orang merasa berhak memiliki hidup ini, mereka merasa berhak menjalani hidup ini sesuai dengan keinginan dan pemahamannya sendiri. Bahkan dalam kesesatannya ia merasa bahwa Tuhan berkewajiban menyukakan hatinya. Tak terkecuali orang kristen, bahkan banyak orang yang menamakan dirinya orang percaya berdoa kepada Tuhan untuk memenuhi keinginan duniawi mereka.

Lalu bagaimana kita mengetahui kehendak Tuhan atas hidup kita? Untuk ini kita harus belajar mengenal siapa diri Tuhan dan apa yang disukai-Nya. Sebagai makhluk ciptaan kita harus bisa menempatkan diri secara benar. Kita harus mengerti apa yang dikehendaki oleh Pemilik kehidupan ini. Memahami apa yang dikehendaki Pemilik kehidupan ini adalah hal paling utama dan penting dalam hidup ini. Kiranya kita dijauhkan dari sikap seperti Lucifer, ia lupa atau tidak sadar bahwa keberadaannya hanya oleh karena Allah semesta alam yang menciptakannya. Tentu ia diadakan hanya untuk Penciptanya. Seharusnya ia tidak boleh memiliki agendanya sendiri. Ia harus tunduk kepada agenda Tuhan. Rupanya ia mau memuaskan keinginannya sendiri. Dalam Alkitab dikatakan didapati kecurangan dalam dirinya. Ia merasa bahwa Allah tidak berhak atas dirinya.

Pribadi yang berpikir bahwa Allah tidak berhak atas hidupnya akan nampak dari sikap hidupnya yang mengingini segala sesuatu untuk kepuasan dirinya (Yakobus 4:1-4). Orang-orang seperti ini berarti bersahabat dengan dunia. Mereka adalah orang-orang yang berkhianat kepada Tuhan. Menjadi musuh Allah.

Yakobus 4:1-4

4:1 Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
4:4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.

Dunia adalah umpan yang digunakan Iblis untuk menjerat manusia agar tidak berbakti kepada Allah. Memang kita hidup di dunia, tapi hendaklah kita tidak terikat dengan dunia ini.

Dalam Lukas 4:5-8, dikatakan dunia ini sudah milik iblis, dan iblis akan memakainya untuk menjauhkan umat manusia dari rencana Allah yang semula. Sangat bersyukur kita mengenal teladan seperti Tuhan Yesus yang taat dan setia akan panggilan Allah untukNya selama masa pelayanannya di dunia.

4:5 Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia.
4:6 Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.
4:7 Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.”
4:8 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Dalam kenyataannya hari ini banyak orang merasa berhak memiliki hidupnya dan menaruh berbagai keinginan dalam dirinya tanpa memedulikan Tuhan yang memiliki hidup ini.

Dalam penciptaan atas kita masing-masing Allah pasti memiliki agenda yang spesifik untuk diri kita sendiri. Agenda Tuhan itulah yang seharusnya kita perdulikan dengan serius, dan kita tidak boleh memiliki agenda sendiri. Orang yang mengumbar segala keinginan dalam dirinya adalah orang yang merasa berhak memiliki agenda sendiri. Orang seperti ini sebenarnya berstatus pemberontak. Mereka hidup di dunia hanya memenuhi dengan segala kegiatan yang berasal dari agendanya sendiri. Ini adalah kesalahan, kesia-siaan dan kesesatan.

Seharusnya hidup kita ini hanya untuk agenda Tuhan semata-mata. Kalau Tuhan mengadakan seseorang atau menciptakan seorang individu sejatinya Tuhan ingin memiliki anak. Anak yang dengan rela mengabdi kepada Bapa dan bersekutu dengan Bapa dalam kerelaan. Melalui proses mengukir kesadaran dalam nurani, bahwa kita adalah makhluk yang diciptakan untuk melayani kehendak-Nya, seseorang akan memiliki irama sebagai pelayan Tuhan. Irama ini akan dibawa sampai pada kekekalan.

Tuhan menghendaki agar manusia hidup HANYA untuk melakukan keinginan-Nya.

Perlu diperhatikan bahwa kita bukan dipanggil sekadar menjadi orang beragama yang mengerti hukum dan melakukan hukum-hukum itu. Tetapi kita dipanggil sebagai makhluk -yang dalam kesadaran tinggi- bahwa kita hidup dalam semesta dimana ada Sang Penguasa yang aktif memerintah, dimana kita harus menundukkan diri sepenuh tanpa syarat kepada-Nya.

Inilah gairah hidup Tuhan Yesus:

“Makananku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

Orang yang menyadari bahwa dirinya makhluk ciptaan pasti berusaha hidup hanya untuk kesukaan hati Penciptanya. Kesempatan di bumi untuk menyukakan hati Tuhan tidak lama. Tidak menghargai kesempatan ini sama dengan tidak menghargai Tuhan yang memberi kesempatan. Tetapi banyak orang tidak memedulikannya. Hal ini mirip dengan anak-anak yang tidak mengerti betapa tinggi resiko kehidupan seorang anak yang tidak mau belajar dengan giat mempersiapkan hari esoknya. Kegiatan hidupnya ditujukan kepada kegiatan yang lain, tidak mempersiapkan hari esok.

Semoga kita semua sadar apa kehendak Tuhan dalam hidup kita ini.

Tuhan memberkati saudara semua.

Syaloom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *