THE LAST SUPPER / Perjamuan Terakhir (1)

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” (Matius 26:21)

 

Ucapan di atas diucapkan Yesus dalam kesempatan Perjamuan Malam dengan murid-murid-Nya dimana Ia menubuatkan bahwa salah seorang muridnya akan menyerahkan-Nya untuk di salib. Berbagai reaksi dinyatakan oleh para murid Yesus menghadapi pernyataan Yesus yang mengejutkan itu, mungkinkah murid-Nya sendiri yang akan menyerahkan Dia? Ada murid yang merasa bersalah, ada yang hanya merenung dan ada juga yang bereaksi keras, sedangkan yang lain termenung memikirkannya.

Drama Perjamuan Malam inilah yang kemudian dikanvaskan oleh Leonardo da Vinci yang terkenal sebagai sosok musikus, pelukis, pemahat, arsitek, ahli tehnik, dan ahli sains itu. Ia melukis lukisan yang sangat terkenal berjudul ‘Last Supper’ (1495-1497). Lukisan ini kemudian menjadi master-piece lukisan yang terbaik dari sekian banyak lukisan tentang perjamuan malam yang pernah dilukis orang.

Lukisan didinding yang besar ini dilukis di dinding biara gereja Santa Maria delle Grazie di Milan, Italia, dan lukisan itu mengambarkan Yesus sebagai pusat titik hilang pemandangan perspektif yang duduk ditengah meja dan ruangan dikelilingi ke-12 murid-Nya, 6 di kanan-Nya dan 6 di kiri-Nya.

Sayang lukisan ini dilukis dengan cat minyak tempera yang kurang bersahabat dengan dinding yang dilukis sehingga kurang tahan lama dan pada tahun 1980, setelah berkali-kali direstorasi, dilakukan restorasi besar-besaran dengan cara mengiliminir cat-cat restorasi sebelumnya agar lukisan dapat diperjelas mendekati aslinya, restorasi diselesaikan pada tahun 1999. Sekalipun usaha restorasi ini begitu intens, sebagian para ahli menyayangkannya karena restorasi ini dianggap telah mengubah penampilan aslinya.

Sayang maksud baik dan ide Leonardo da Vinci yang begitu indah diabadikan di atas dinding biara itu sering di salah artikan dan dilecehkan oleh orang-orang tertentu. Dalam buku laris terbaru Novel ‘The Da Vinci Code’ karya Dan Brown, lukisan Last Supper itu dilecehkan dan diberi pengertian simbolis yang merendahkan keagungan lukisan itu.

Pelecehan yang dilakukan Dan Brown penulis ‘The Da Vinci Code’ itu membuat marah orang-orang di kota Vinci, Italia, dimana Leonardo dialhirkan. Mereka baru-baru ini membuat pengadilan atas pelecehan buku itu terhadap salah satu mantan warga kota karena dalam novel itu lukisan-lukisan Leonardo banyak disalah artikan secara simbolis dan dilecehkan. Pertemuan pengadilan warga itu dibuka dengan pidato pembukaan oleh Allesandro Vezzusi, direktur museum Leonardo Da Vinci di kota itu. Allesandro menyebut: “Leonardo direpresentasikan secara keliru dan dilecehkan.”

Lukisan ‘Last Supper’ itu dalam buku novel ‘The Da Vinci Code’ telah digambarkan seakan-akan Leonardo menyimpan olok-olokan yang ditujukan kepada agama Kristen dan gereja Roma Katolik dan menyembunyikan olokan itu dalam lambang-lambang dalam lukisannya itu. Dan Brown menulis bahwa sebenarnya lukisan Last Supper menjelaskan mengenai rahasia Biarawan Sion dimana dikatanan Leonardo pernah menjadi pemimpinnya, rahasia mana mengenai kepemimpinan rohani wanita sebagai suksesi Yesus.

Dalam lukisan Last Supper, Dan Brown menyebut bahwa murid yang berada di kanannya yang mukanya mulus, rambutnya panjang berwarna pirang itu sebenarnya adalah lukisan figur Maria Magdalena. Sebagai bukti dikatakan adanya beberapa simbol dalam lukisan itu. Pakaiannya yang berwarna biru dengan selendang merah berlawanan dengan pakaian Yesus yang merah berselendang biru, demikian juga dada figur Maria itu dada perempuan.

Bukti lain katanya ada lambang huruf V ceper di jendela di atas kepala Maria yang melambangkan cawan perjamuan (grail) dan juga melambangkan rahim wanita, yaitu Maria yang menjadi ibu keturunan Yesus. Dibagian tengah lukisan, di depan meja perjamuan dikatakan ada simbul huruf M yang besar yang dianggap menunjuk pada Maria Magdalena.

Disebelah Maria yang kepalanya sangat dekat dengannya adalah Petrus yang dengan muka marah seakan-akan ingin melawan Maria yang dianggap merebut kedudukan primatnya agar bisa menjadi rasul para rasul. Tangan kanan Petrus memegang pisau seakan-akan mengancam Maria.

Benarkah arti lukisan itu begitu? Kelihatannya Leonardo sendiri akan bangun dari tidurnya kalau ia belum mati bila ia mendengar lukisan karya akbarnya itu diberi arti yang dia sendiri tidak mengerti. Dari sumber-sumber seni termasuk Ensiklopedia Encarta dan Britannica kita dapat melihat bahwa leonardo da Vonci justru ingin menghadirkan suasana perjamuan malam dengan reaksi para rasul yang berbeda-beda.

Ensiklopedia Encarta menyebut bahwa Yesus yang berada di pusat lukisan dengan apik dikelilingi ke-12 murid-Nya, 6 di sebelah kirinya dan 6 di sebelah kanannya. Ke-12 murid-murid-Nya masing-masing menunjukkan mimik reaksi mereka pada nubuatan Yesus itu. Yesus dalam situasi yang menegangkan itu digambarkan sendirian, sadar akan misi penebusan ilahi—Nya duduk dalam keheningan dikelilingi para murid yang teragitasi. Ruangan dengan barisan permadani di dinding, garis-garis lantai, dan garis-garis plafond memusat di wajah Yesus yang cerah dikelilingi rambut gelap sebagai titik hilang perspektif.

Beberapa sumber seni termasuk buku ‘The History of World Art’ (Upjohn-Wingert-Mahler, Oxford University Press, New York, 1958, p.289-292) mengungkapkan maksud Leonardo dengan lukisannya itu. Yesus ditempatkan dipusat lukisan dengan empat kelompok murid terdiri dari tiga orang, 2 kelompok disebelah kirinya dan 2 kelompok di sebelah kanannya. Yesus dipisahkan oleh Yohanes di sebelah kanannya dan Yakobus disebelah kirinya dari para murid yang saling tumpang tindih menggambarkan bahwa murid-murid dekatnya tak lama lagi akan meninggalkan dia.

Pada kelompok 3 murid di sebelah kiri dekat Yesus berdiri Thomas yang mengacungkan tangannya dan meragukan ucapan Yesus, kedua disamping Thomas adalah Yakobus yang merentangkan tangannya seakan-akan menolak nubuatan itu. Dibelakang Yakobus berdiri Filipus yang meletakkan kedua tangannya di dadanya menunjukkan devosinya pada Yesus.

Pada kelompok 3 murid yang dekat di sebelah kanan Yesus ada Yohanes yang digambarkan sebagai pribadi yang halus karena ia terkenal sebagai rasul kasih. Yohanes agak tersentak ketika mendengar kabar ada yang mau menyerahkan Yesus, dibelakangnya yang dekat dengannya, ada Petrus yang menunjukkan muka marah dan ingin melawan mereka yang berani menyerahkan Yesus. Petrus bahkan memegang pisau yang siap digunakan melawan sipenghianat. Murid ketiga di sebelah kanan Yesus adalah Yudas yang mukanya berada dalam kegelapan setelah mendengar ucapan Yesus kemudian duduk tersentak ke belakang sambil mendekap pundi-pundi berisi uang suap yang telah diterimanya karena ia berjanji kepada pemuka agama Yahudi akan menyerahkan Yesus. Enam murid lainnya tiga disebelah kanan jauh dan tiga disebelah kiri jauh dari tempat Yesus semua teragitas dan duduk mempertanyakan ucapan Yesus.

Sungguh sayang bahwa lukisan yang begitu agung dengan pelukis yang sangat mengabdi itu dijadikan tokoh khayal yang punya misi terselubung untuk mempermalukan ke’Tuhan’an Yesus dan mengolok-olok gereja Roma Katolik, tetapi lebih sayang lagi masih ada saja orang yang tertarik dan terpengaruh isu pelecehan mengenai Yesus yang mengawini Maria Magdalena dan menjadikannya Rasul kepala untuk memimpin gereja-Nya, suatu isu fiktif, padahal Dan Brown sendiri dalam wawancara dengan stasiun TV ABC mengungkapkan bahwa:

“The Da Vinci Code is a novel and therefore a work of fiction. While the book’s characters and their actions are obviously not real, the artwork, architecture, documents, and secret rituals depicted in this novel all exist. These real elements are interpretted and debated by fictional characters.”

Pintarnya Dan Brown sebagai novelis adalah membuat cerita fiktif yang dimasukkan ke dalam kerangka sejarah, arsitektur, dan terutama kebesaran lukisan dan pelukis Leonardo Dan Vinci yang nyata. Semoga kita tidak terkecoh, Amin!

Disalin dari Herlianto http://www.yabina.org

Satu tanggapan untuk “THE LAST SUPPER / Perjamuan Terakhir (1)

  • 06/03/2012 pada 18:01
    Permalink

    Kita mesti telanjang dan benar-benar bsierh suci lahir dan di dalam batin, tengoklah ke dalam [pesan rohani dari lagunya Bung Ebiet G Ade] untuk mereka yang enggan melepaskan pakaian duniawinya Salam bentoelisanMas Ben[]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *