Mengapa Target Duniawi itu adalah Suatu Kesia-siaan?

Yohanes 15 ;2 ” Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah”.

Setiap hari seseorang harus memeriksa diri apakah sudah mencapai level yang dikehendaki oleh Allah atau belum, sebab kalau Tuhan memberikan satu hari yang baru, Tuhan memiliki rancangan agar kita terus mengalami peningkatan pertumbuhan kedewasaan, harus progresif. Perumpamaan mengenai pokok anggur dalam Yohanes 15:1-7 mengisyaratkan dengan jelas bahwa Tuhan menuntut agar carang dari pokok anggur harus berbuah. Jika tidak berbuah, maka harus dipotong dan dibakar.

Hal ini yang seharusnya paling penting untuk diperkarakan setiap hari, bukan hal yang lain. Bukan hal-hal duniawi. Sayang sekali banyak orang menggantikan hal yang demikian penting ini dengan banyak perkara yang tidak membawa akibat positif di kekekalan nanti. Mereka tidak membiasakan untuk menyediakan waktu dalam mempertanggungjawabkan setiap lembar harinya di hadapan Tuhan sebab mereka merasa tidak perlu melakukan hal itu. Mereka merasa bahwa waktu yang tersedia dengan segala berkat fasilitas adalah miliknya sendiri.

Inilah orang-orang yang tergolong pemberontak. Mereka adalah orang-orang yang memang tidak bersedia diungsikan ke dunia akan datang yang lebih baik. Biasanya orang-orang seperti ini tidak memiliki target rohani. Target mereka adalah target-target duniawi. Orang- orang seperti ini akan pulang ke rumah abadi dalam kemiskinan seperti orang kaya dalam Lukas 12:14-21. Orang seperti ini tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Sorga. Orang kaya dalam Lukas 12:14-21 setiap hari tenggelam oleh ambisinya memiliki kekayaan lebih besar. Ia juga hanya mencari kesenangan bagi dirinya sendiri, hal mana dilakukan pula oleh orang kaya dalam Lukas 16:19, ia setiap hari selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

Orang-orang ini tidak waspada bahwa setiap saat nyawanya bisa tercabut. Semua kekayaan yang dimiliki harus dilepaskannya. Mereka pulang ke kekekalan dalam kemiskinan yang tidak dapat tertolong lagi. Penyesalannya digambarkan Alkitab sebagai ratap tangis dan kertak gigi. Ketika seseorang menghadap Tuhan guna mempertanggungjawabkan hidupnya setiap hari, maka banyak perbaikan yang Tuhan akan lakukan.

Selalu saja ada kesalahan atau kekurangan yang harus dibenahi. Selama kita masih hidup di dunia Tuhan berkenan menggarap kita selama kita menyediakan diri untuk digarap. Oleh sebab itu selama masih ada kesempatan untuk berubah kita harus terus berubah menuju kesempurnaan.

God Bless you.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *