ORANG-ORANG KRISTEN YANG TERHILANG

Amos 5:4 ” Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup!

Kalau kita berbicara mengenai orang yang terhilang didalam kekristenan, sebenarnya bukan hanya karena orang tersebut tidak ke gereja atau tidak dekat dengan Tuhan dalam liturgi kebaktian, tetapi yang utama adalah soal hati yang telah diserahkan kepada dunia ini.

Berkenaan dengan hal ini Yohanes dalam suratnya berkata: “Kalau seseorang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada pada orang tersebut (1Yoh. 2:15-17).

Dalam surat Yakobus, orang yang mengasihi dunia berarti menjadikan dirinya musuh Allah, ia tidak setia, ia selingkuh (Yak. 4:4).

Hal ini bisa juga berarti bahwa orang yang terhilang bukan saja mereka yang ada di luar gereja tetapi juga bisa mereka-mereka yang ada di dalam gereja. Seperti anak sulung yang tidak seperasaan dan tidak sepikiran dengan ayahnya adalah juga anak terhilang. Hati si sulung tidak diserahkan kepada ayahnya (Luk.15:28-31). Si sulung tidak mengerti pikiran dan perasaan ayahnya. Ia tidak sealiran dengan ayahnya. Ia selalu bersama-sama dengan ayahnya tetapi hati dan perasaannya tidak menyatu dengan sang ayah.

Ini menjadi gambaran kehidupan orang Kristen yang bergereja tetapi hatinya mencintai dunia, sehingga tidak bisa sepikiran dan seperasaan dengan Bapa. Ketika Tuhan berkata biarlah orang mati menguburkan orang mati (Luk. 9:60), kalimat ini bisa berarti orang-orang yang tidak diperhitungkan Tuhan karena tidak sepikiran dan tidak seperasaan dengan Tuhan. Mereka dipandang Tuhan sebagai pribadi tidak dapat dipercayai untuk mengawal pekerjaan Tuhan. Amat mengerikan sekali jika Tuhan sampai memandang kita seperti itu, yang notabene kita merasa bahwa kita sudah menjadi orang benar.

Sebaliknya yang dianggap sebagai “ORANG-ORANG HIDUP” adalah mereka yang diperhitungkan Tuhan untuk dapat menyelamatkan jiwa-jiwa masuk ke dalam kerajaan Surga. Mereka adalah orang-orang yang menguburkan orang hidup ke dalam kerajaan Surga. Orang mati yang dimaksud Tuhan adalah orang yang tidak bisa diajak Tuhan sepenanggungan. Ia memikirkan dirinya sendiri dan hanya mau menyelamatkan dirinya sendiri. Ia tidak menyerahkan hatinya kepada Tuhan dengan sepenuhnya.

Ketika Tuhan bertanya kepada Petrus, apakah ia mengasihi-Nya, pertanyaan itu sebenarnya juga bisa berarti apakah Petrus mau menyerahkan hatinya kepada Tuhan. Kedekatan Petrus kepada Tuhan dan janji kesediaannya ikut Tuhan ternyata hanya sebuah hiasan bibir. Hati Petrus belum diserahkan kepada Tuhan. Ketika hati Petrus sudah diserahkan kepada Tuhan, maka ia rela menyerahkan tangannya dan dibawa ke mana ia tidak suka. Dengan demikian ia benar-benar memuliakan Tuhan (Yoh. 21:15-19)

Semoga kita semua dapat mengerti apa maksud dan rencana Tuhan dalam kehidupan kita, dan menyerahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan. Kita bisa menjadi rekan sekerja Allah untuk dapat membawa jiwa-jiwa kedalam kerajaan Surga.

God Bless you

(disarikan dari berbagai sumber : Truth, khotbah, dll)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *