Loper Koran

Malam itu, jam sudah bergerak mendekati pukul 23.00. Lima belas menit yang lalu, saya baru saja pulang dari gereja. Saya merasa lelah, tetapi masih perlu melakukan persiapan untuk mengisi satu sesi di kamp anak Sekolah Minggu.

Keesokan harinya saya sudah harus berangkat ke kamp tersebut. Saya sedang mempersiapkan alat-alat peraga ketika tiba-tiba telepon di lantai bawah berdering.

Rekan sepelayanan saya mengangkat telepon itu. Sayup-sayup saya mendengar pembicaraan tentang pelayanan yang tampaknya ada perubahan jadwal secara mendadak. Kelihatannya rekan saya tidak menyanggupi pelayanan mendadak tersebut. Terlebih lagi, rekan saya meminta pelayanan itu diberikan ke saya saja. Ketika mendengar hal itu, saya semakin merasa kesal. Saya tahu sebentar lagi pelayanan mendadak tersebut akan ditawarkan kepada saya.

Ternyata benar. Pengurus menghubungi dan meminta saya untuk menggantikan jadwal doa pagi esok hari karena ada pembicara yang sakit. Saya sedang dalam keadaan lelah dan harus mengerjakan persiapan untuk kamp, dan sekarang masih ditambah lagi dengan doa pagi?

Saya terdiam sesaat ketika harus menjawab apakah saya bersedia untuk melayani doa pagi atau tidak. Saya tahu apabila saya menyatakan kesediaan, maka malam itu pekerjaan saya bertambah dan saya juga harus bangun lebih pagi dari biasanya. Akhirnya, dengan rasa terpaksa bercampur kekesalan saya menyatakan kesediaan, karena saya tahu bagaimanapun saya harus melakukannya karena rekan hamba Tuhan yang lain tidak bersedia.

Malam itu dengan rasa enggan dan kesal saya melakukan persiapan untuk kamp dan doa pagi. Persiapan selesai pukul 00.30. Itu berarti saya hanya mempunyai waktu sekitar 4 jam untuk tidur, karena pukul 5.10 saya sudah harus berangkat ke gereja.

Ketika saya bangun pukul 4.45, ternyata hujan sedang turun dengan cukup lebat. Saya tersenyum sendiri sambil berpikir bahwa doa pagi pasti tidak akan ada yang datang dalam cuaca seperti itu. Ternyata sepuluh menit kemudian hujan reda.

Dengan rasa malas dan kesal saya mandi dan berganti pakaian. Ketika membuka pintu depan, saya mendapati ternyata hujan masih turun rintik-rintik. Segera saya mengambil kunci sedan tahun 1996 saya. Karena langit masih cukup gelap dan hujan masih turun, saya mengemudikan sedan tersebut pelan-pelan, dengan diliputi rasa kesal dan malas di dalam hati, dan juga penyesalan mengapa saya menerima pelayanan itu kemarin malam.

Pada pagi hari yang dingin itu jalan di perumahan saya terasa sepi sekali. Tidak tampak aktivitas apa pun. Ketika berbelok akan keluar dari kompleks perumahan, saya melihat seseorang sedang mengayuh sepedanya. Gila, ngapain bersepeda di pagi yang dingin dan gelap seperti ini, ucap saya dalam batin. Setelah saya amati, ternyata orang tua itu mengenakan jas hujan dan seluruh sepedanya ditutup dengan plastik seadanya karena ia membawa banyak koran.

Oh, loper koran, ujar saya lagi dalam hati. Beberapa saat kemudian, muncul suara dalam hati saya, Lihat loper koran itu! Saya memperlambat laju mobil dan memperhatikan loper itu. Ia tetap setia mengerjakan tugasnya meskipun hari hujan dan masih gelap, dan untuk itu pun ia harus bersepeda. Ia bisa saja menunda beberapa jam untuk mengirim koran-koran itu dan pelanggan pasti memahaminya. Tetapi hal itu tidak dilakukannya, ia memilih untuk tetap setia. Saya terdiam dan memperlambat mobil saya.

Suara itu terus berkata, Lihatlah dirimu. Engkau menyebut dirimu sebagai hamba Tuhan. Engkau membawa berita yang kekal dan bukan berita yang dengan cepat menjadi basi. Engkau mengemudi sedan, dan bukan mengayuh sepeda. Tetapi, apakah engkau setia seperti loper koran itu? Di dalam keheningan pagi itu, air mata mulai mengalir sementara saya mengemudikan mobil.

Saya merasakan adanya sesuatu yang kudus hadir dalam peristiwa tersebut. Saya merasa Tuhan sedang berbicara kepada saya. Saya menepi dan menghentikan mobil dan saya berkata, Maafkan saya, Tuhan! Air mata itu terus mengalir, tak tertahankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *