Peran Istri Dalam Pernikahan, Bagaimana Seharusnya?

Peran Istri dalam pernikahan, untuk memahaminya kita harus kembali kepada Alkitab sebagai dasar dari kehidupan kekristenan.

Melihat perkembangan dunia dan ketidakpastiannya pada akhir zaman ini membuat banyak sekali kebingungan tentang peran masing-masing pihak (suami/istri) dalam sebuah pernikahan. Tidak sedikit hal ini menimbulkan tragedi dalam rumah tangga yang berakhir dengan perceraian. Situasi ini memaksa kita untuk kembali lagi melihat apa yang Alkitab katakan sebagai dasar nilai-nilai yang masih sangat relevan pada masa sekarang.

Tuhan memberikan tanggung jawab “unik” pada masing-masing pihak dalam perannya di pernikahan. Pada artikel ini akan dibahas tanggung jawab dan peran seorang istri dalam pernikahan berdasarkan Alkitab, dan pada artikel yang lain juga dibahas Tanggung Jawab dan Peran Seorang Suami dalam pernikahan.

Peran Istri dalam Pernikahan dan Rumah Tangga sangatlah Unik

  1. Jadilah penolong Bagi Suamimu

Memang benar kita semua sebagai umat percaya dipanggil untuk menjadi penolong bagi orang lain, tetapi Alkitab memberikan penekanan khusus pada tanggung jawab ini untuk seorang istri. Kitab Kejadian mengatakan bahwa Allah menyadari tidak baik bagi manusia untuk sendiri, dan Dia memutuskan untuk membuat “penolong yang cocok untuk manusia itu.

Penciptaan Hawa dari Rusuk Adam
Penciptaan Hawa dari Rusuk Adam

Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman:

“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Sangat menarik untuk diketahui bahwa bahasa Ibrani yang dipakai pada ayat diatas untuk kata “penolong” adalah kata “EZER”, EZER adalah kata yang biasanya dipakai dalam ayat-ayat yang lain yang merujuk hanya kepada ALLAH sebagaimana DIA menolong kita. Dibawah ini beberapa contoh ayat yang lain yang memakai kata EZER adalah:

Mazmur 33 : 10

Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah PENOLONGKU (EZER)!

Referensi di http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=Mzm&chapter=30&verse=10

Mazmur 118 : 3

Aku ditolak dengan hebat sampai jatuh, tetapi TUHAN MENOLONG aku. (AZAR = kata kerja dari EZER)

Referensi di http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=Mzm&chapter=118&verse=13

Fakta bahwa kata yang sama ini (penolong = Ezer) diterapkan untuk istri menandakan bahwa kita perempuan telah diberikan kekuatan yang luar biasa yaitu kekuatan Tuhan sendiri sebagai penolong suami untuk kebaikan dalam kehidupan pernikahan. Apakah saudara merasakan maknanya ayat ini dalam hati saudara, bahwa Tuhan telah merancang istri untuk membantu suami mereka menjadi apa yang Allah inginkan bagi mereka, seperti Tuhan sendiri yang menolong manusia menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan. Istri menjadi penolong bagi suami untuk mewujudkan apa yang Allah rencanakan dalam kehidupan Suami. Betapa luar biasanya peran istri dalam pernikahan itu.

  1. Hormati suamimu, RESPEK.

Dalam Efesus 5:33, Paulus mengatakan, “… istri harus menghormati suaminya.” Bila Anda menghormati suami Anda, Anda respek kepada dia,melihat dia, menganggap dia dan menghormatinya, lebih suka bersama sama dia, menghargai dirinya; ini berarti menghargai pendapatnya, mengagumi kebijaksanaan dan karakternya, menghargai komitmennya untuk Anda dan mempertimbangkan kebutuhan dan nilai-nilai yang dipegangnya.

Para suami mempunyai banyak kebutuhan. Lupakan tentang mereka yang ingin menjadi seorang macho yang mandiri, merdeka dan kebal atas apapun, lupakan semua itu, itu hanya mitos saja. Suatu hari suami saya pernah memberi saya daftar apa saja yang dianggap sebagai kebutuhan utama kebanyakan pria:

  • Percaya diri dalam kepribadiannya sebagai seorang pria.
  • Ingin didengar
  • Persahabatan
  • Ingin selalu merasa dibutuhkan.

Bagi saya, memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu adalah sebuah bentuk penghormatan bagi suami. Misal untuk meningkatkan kepercayaan dirinya, saya akan terus berusaha menjadi fans beratnya setiap hari.

  1. Kasihilah / Cintailah Suamimu

Titus 2 : 4

dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya .

Sebuah penjelasan yang baik dari jenis kasih atau cinta yang suami Anda butuhkan adalah “penerimaan tanpa syarat.” Dengan kata lain, menerima suami Anda seperti apa adanya dia – orang yang tidak sempurna.

Cinta juga berarti berkomitmen untuk hubungan seksual yang saling memuaskan. Saya menyadari bahwa ada banyak cara untuk mewujudkan cinta daripada hanya soal seks, tapi kita sebagai seorang istri wajib mencari segala cara untuk memenuhi perintah Allah untuk mengasihi suami kita. Oleh karena itu, kita harus melihat cinta dari sudut pandang mereka (suami), bukan hanya dari sudut pandang kita sendiri.

Survei menunjukkan bahwa seks merupakan salah satu kebutuhan yang cukup penting bagi pria (jika tidak boleh disebut yang paling penting). Ketika seorang istri menolak keintiman, tidak tertarik pada pasangannya, atau hanya tertarik yang pura-pura, suaminya mungkin akan merasa ditolak. Ini akan merusak citra dirinya, bahkan bisa membuat dia mundur dari diri anda.

Hal ini bukan berarti kita harus memikirkan seks terus sepanjang hari untuk suami kita, tetapi pertimbangkan dalam agenda anda bahwa seks itu cukup penting untuk suami anda. Anda bisa ciptakan sendiri bentuk-bentuk keintiman yang lain. Jangan kita berpikir bahwa ini adalah juga tanggung jawab dia sebagai suami, memang benar, menjadi pribadi yang menarik dan menyenangkan bagi istrinya adalah juga tanggung jawab suami. Tapi Anda harus berusaha mulai dahulu intim bagi suami anda. Jangan saling menunggu, dia punya peran dan tanggung jawab sendiri, Anda sebagai istri kerjakan tanggung jawab anda sendiri.

  1. Patuh kepada Kepemimpinan Suami

Point ini bisa jadi sangat sensitive terhadap beberapa orang, hanya mendengar kata “patuhilah suamimu” bisa membuat beberapa istri menjadi marah. Konsep patuh ini memang sudah sering sekali dibahas dan rasanya memang kelihatan seperti sebuah hal yang sudah kuno, tetapi tidak sedikit juga orang yang salah paham, salah mengerti mengenai hal ini.

Beberapa suami dan istri benar-benar percaya bahwa “patuh” menunjukkan bahwa perempuan lebih rendah dari pria dalam berbagai hal. Saya kenal seorang wanita terkenal yang berpikir bahwa jika mereka “patuh” mereka akan kehilangan identitas mereka dan menjadi “orang lain.” Sedangkan beberapa orang lainnya takut (alasannya baik), “kepatuhan” bisa mengarah kepada perlakuan yang tidak layak, tidak manusiawi, abused.

Kesalahpahaman yang lain adalah bahwa sebuah “kepatuhan” berarti adalah kepatuhan penuh yang buta. Seorang wanita tidak bisa memberi masukan kepada suaminya, tidak boleh menanyakan apa-apa, dan hanya patuh saja, mereka berpikir tugasnya hanya sekedar di dapur dan hamil saja.

Supaya kita tidak salah paham, kita kembali saja mengacu pada dasarnya kehidupan Kristen yaitu Firman Tuhan. Ada 2 referensi ayat acuan yaitu :

Kolose 3:18-19

Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.

Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

Efesus 5 :22-33

Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri

  1. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

  2. karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

  3. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

  4. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

  5. untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,

  6. supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

  7. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.

  8. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

  9. karena kita adalah anggota tubuh-Nya.

  10. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

  11. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

  12. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Ayat-ayat diatas berkata jelas bahwa istri harus menyerahkan secara sukarela hal-hal yang menjadi tanggung jawab suami yaitu mengasihi dan memimpin keluarga. Oleh karena itu, seperti yang saya sudah secara sukarela menyerahkan kepemimpinan kepada suami saya, saya menyelesaikan urusan ini kepada suami saya. Saya membantu dia memenuhi tanggung jawabnya, dan saya membantu dia menjadi “seorang pria”, suami, dan pemimpin yang memang Tuhan inginkan.

Membangun sebuah kesatuan dalam pernikahan yang terbaik adalah ketika kedua pasangan memilih untuk memenuhi tanggung jawab mereka sendiri secara sukarela, tanpa tekanan atau paksaan. Untuk menjadi pemimpin yang melayani seperti yang Allah perintahkan, seorang suami perlu kerelaan sang istri untuk dipimpin, perlu respek dari istri. Ada sebuah rahasia bagi para suami juga, bahwa para istri akan lebih mudah untuk tunduk pada kepemimpinan suami, jika suami benar-benar mengasihi istri seperti yang sudah Tuhan perintahkan.

Saya melakukan ini dengan sikap mempercayakan diri saya kepada Allah. Dalam salah satu suratnya, Petrus mengatakan kepada kita bahwa meskipun Yesus menderita sakit yang mengerikan dan penghinaan, Ia tidak membalas “tapi terus mempercayakan diri-Nya kepada-Nya, yang menghakimi dengan adil” (1 Petrus 2:23). Ketika Anda mempercayakan hidup Anda kepada Bapa, itu jauh lebih mudah untuk menjadi istri dari seorang pria yang tidak sempurna, terutama ketika Anda mungkin memiliki perbedaan pendapat atau ketidak setujuan atas sikap suami.

Sebuah catatan khusus: Mungkin ada beberapa dari Anda hidup dalam penindasan atau dalam kondisi yang sangat tidak sehat dan merusak dalam pernikahan Anda. Kadang-kadang, hal itu mungkin sebuah ancaman bagi nyawa Anda ketika menerapkan sikap “patuh sepenuhnya” ini. Misalnya, jika Anda saat ini sedang secara fisik atau verbal ditindas, Anda mungkin perlu mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri sendiri dan anak-anak Anda. Anda mungkin perlu untuk mengatakan kepada suami Anda, “Aku mencintaimu, tapi ini sudah cukup.” Jika Anda berada dalam situasi itu, silakan mencari pendeta Anda atau seseorang yang bijaksana yang telah dilatih untuk membantu masalah spesifik Anda.
Mencintai, memaafkan, dan patuh tidak berarti bahwa Anda menjadi keset atau tanpa batas waktu mentolerir perilaku yang merusak kejam dari suami Anda.

Bagaimana Menerapkannya Dalam Kehidupan Pernikahan Bersama Pasangan Saya?

Gambarannya adalah seperti ini : Anda mungkin pernah menjahit sebuah baju atau gaun (bagi anda yang belum pernah anda dapat memahaminya juga). Anda tahu bagaimana sebuah pola itu bisa menjadi baju. Pola ini terbuat dari banyak potongan-potongan, beberapa besar dan ada yang kecil, tidak ada yang akurat menyerupai produk jadi. Beberapa pola itu seperti berantakan dan tidak menyerupai baju, dan hanya berupa potongan-potongan kain.

Ketika pola-pola itu disatukan, dipasang beberapa kancing, resleting, atau pernak-pernik lainnya, potongan-potongan tadi bisa menjadi sebuah baju yang bagus dan indah.

Setiap pola seperti memiliki pasangan, dua lengan, dua potong korset, bagian depan dan belakang. Bagian-bagian itu seperti berpasangan satu sama lain.

Hal ini mirip sekali dengan sebuah pernikahan. Tuhan telah merancang pola untuk suami dan istri yang jika diikuti dengan baik, maka akan membentuk sebuah baju yang indah, sebuah kehidupan yang indah, dan jika digunakan dengan baik akan membentuk sebuah pernikahan yang indah.

Dengan cara yang sama (dengan pola), gaun dibuat dalam berbagai ukuran, warna dan dan model. Jika modelnya lain, maka polanya juga berbeda. Pernikahan yang satu berbeda dengan pernikahan yang lain. Kita tidak bisa membandingkan pernikahan kita dengan pernikahan teman kita, semua punya pola yang berbeda, dan Tuhan bekerja sangat spesifik untuk masing-masing hidup kita.

Jika kita mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup kita, kita harus mengusahakan pernikahan kita agar sesuai dengan rencana dan pola Tuhan. Kuncinya adalah, bagi para istri adalah mengikuti rencana Tuhan, mengetahui dan memahami perannya sebagai istri, mengusahakan agar semua perannya cocok dan serasi dengan tanggung jawab sang suami.

Ikutilah Pola Tuhan dalam membangun rumah tangga, agar anda dapat menjalani peran istri dalam pernikahan dengan baik

Terima kasih atas perhatian saudara semua, semoga artikel kini menjadi berkat dan pandangan baru untuk anda dalam perannya sebagai seorang istri dalam pernikahan. Kami berdoa agar Tuhan bekerja dalam kehidupan rumah tangga anda.

Temukan juga artikel kami yang lain mengenai kehidupan rumah tangga dan pernikahan di sini : Artikel Pernikahan Kristen.

Tuhan memberkati kehidupan rumah tangga pernikahan saudara semua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *