Apakah Pasangan Anda membuat Anda BAHAGIA?

Syaloom saudara dan sahabat ArtikelKristen.com, semoga kita semua ada dalam kasih dan damai sejahtera oleh Roh Kudus. Kita masih dalam tema tentang Pernikahan untuk bulan ini, dan kali ini kita akan berdiskusi tentang arti BAHAGIA dalam hidup pernikahan. Apa sebenarnya yang dicari oleh sepasang pribadi yang menikah? Banyak orang pasti akan menjawab KEBAHAGIAAN. Saya rasa saudara Anda pasti juga akan menjawab hal yang sama. Lalu apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dalam hidup pernikahan itu sebenarnya. Dan pertanyaan yang terpenting adalah apakah pasangan anda membuat anda bahagia dalam pernikahan ini?

John C Maxwell suatu ketika pernah diundang untuk menjadi seorang pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya, Margaret, diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara, istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya, ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi, suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan.

Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkannya dengan seksama. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Lalu dimulailah sesi tanya jawab dengan peserta.

Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Pertanyaannya adalah seperti ini, “Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda BAHAGIA?”

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, “TIDAK!!”

Seluruh ruangan langsung terkejut. “TIDAK” katanya sekali lagi, “John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia.” Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. (Kebayang malunya Maxwell saat itu.) Dan Maxwell juga
menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar.

Kemudian, lanjut Margaret, “John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia.”

Tiba-tiba ada suara bertanya, “Mengapa?”

“Karena,” jawabnya, “tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri.”

Dengan kata lain, maksud dari Margaret adalah, tidak ada orang lain yang bisa membuat Anda bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, orang tuamu, anakmu kelak mungkin, sahabatmu, uangmu, atau hobimu. Semua itu tidak bisa membuat anda bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah DIRIMU SENDIRI.

Anda bertanggung jawab atas diri Anda sendiri. Kalau anda sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, anda tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang
menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor dari luar.

Termasuk juga dalam hal pernikahan atau hubungan suami istri. Mungkin anda bisa merasa bahagia dalam pernikahan, biasanya di awal-awal pernikahan, anda bahagia akhirnya bisa menikahi orang yang anda idam-idamkan selama ini, anda merasa bahagia disisinya sepanjang hari.

Tetapi bagaimana jika konflik dalam rumah tangga sedang melanda (apapun penyebabnya), rasanya berada disampingnya menjadi tidak menyenangkan lagi. Anda menjadi tidak nyaman berada serumah dengan pasangan Anda. Akhirnya anda mencari kebahagiaan di luar rumah anda. Ini yang berbahaya dan bisa merusak hubungan rumah tangga.

Hal ini menandakan bahwa anda menggantungkan kebahagiaan anda dengan hal-hal yang dari luar diri anda sendiri. Anda menggantungkan kebahagiaan anda dengan kondisi diluar diri anda. Jika kondisi sedang baik, nyaman, sejahtera, anda berbahagia. Tetapi jika kondisi diluar sedang konflik, tidak sejahtera, anda menjadi tidak berbahagia. Bukan berarti kita cuek atau tidak mau tahu dengan keadaan sekitar, tapi hendaklah kita tidak terlalu terpengaruh dengannya, maksudnya adalah sikap hati kita tidak terlalu terpengaruh.

Mengapa saya katakan ini adalah soal sikap hati kita? Berbahagia didalam kekristenan berarti bersukacita. Saya akan memberikan contoh dalam Alkitab yaitu rasul Paulus.

Ketika itu rasul Paulus sedang dihimpit oleh keadaan yang sangat tidak mengenakkan. Ia disiksa dan dipenjara, dia dikejar-kejar dan mau dbunuh oleh karena pelayanannya, ditolak kanan kiri. Saya menilai ini adalah persoalan yang lebih berat dari hanya sekedar persoalan rumah tangga. Saya tidak bermaksud merendahkan persoalan rumah tangga, tapi kita coba lihat inti dari permasalahan ini, semuanya adalah soal sikap hati, sikap kita dari dalam yang tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi diluar.

Meskipun Paulus dalam keadaan seperti itu, coba lihat surat-suratnya yang dituliskan untuk beberapa jemaat di perjanjian baru. Apakah berisi keluh kesah? Justru sebaliknya! Sebagian besar surat-surat Paulus justru berisikan motivasi, berita gembira dan inspirasi. Rasul Paulus berbahagia dia bersukacita. Meskipun keadaan sekelilingnya mungkin merupakan alasan ia tidak bahagia, namun ia bahagia.

Filipi 4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

Arti awalan “Ber”dalam kata “Bersukacitalah” berarti kata yang aktif, bukan pasif, bukan hal yang tergantung dari luar. Anda harus melakukannya, anda sendiri yang memaksa diri anda untuk BERSUKACITA. Anda sendiri yang harus mulai untuk BERBAHAGIA. Ini adalah soal sikap hati.

Bahagia atau tidaknya hidup Saudara bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, seberapa cantik istrimu, seberapa baik suamimu atau sesukses apa hidupmu. Ini masalah pilihan: apakah Saudara memilih untuk bahagia atau tidak.

Konflik Pernikahan Artikel Kristen
Konflik Pernikahan Artikel Kristen

Jika dalam hati anda merasa tidak bahagia dengan kondisi diluar, sikap anda yang akan keluar menjadi perbuatan biasanya adalah hal-hal yang negatif; marah, cuek, tidak peduli, kasar, iri hati, mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan; dan biasanya atau bahkan hal ini pasti tidak akan memperbaiki keadaan. Atau mungkin memang keadaan yang tidak bisa diperbaiki ini yang anda harapkan supaya anda bisa keluar dari kondisi yang tidak menyenangkan didalam rumah tangga anda? Dan anda akhirnya mencari kebahagiaan lagi diluar. Saya mau tanyakan kepada anda, apakah ada jaminan anda akan menemukan kebahagiaan diluar??

Dan dampaknya jika anda bisa memunculkan bahagia dalam diri anda sendiri, adalah anda bisa bersikap positif dalam keadaan yang tidak baik. Anda bisa bersikap sabar, tenang, lebih bijaksana, melihat permasalahan dari kacamata pengertian yang lebih tinggi dan lebih luas, dan anda akan melihat jalan keluar dari permasalahan yang ada. Dan saya yakin sikap yang positif masih lebih bisa menyelesaikan permasalahan daripada sikap yang negatif.

Filipi 4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga , tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci , semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Saya yakin hal ini tidak mudah kita lakukan, tetapi bukan berarti tidak bisa. Kenakanlah kasih kepada Tuhan dan kepada sesama (pasangan anda), maka Dia akan bekerja dalam hidup anda.

Kami berdoa anda mendapatkan berkat dan pengertian dari artikel ini dan dapat merubah sudut pandang anda mengenai Kebahagiaan dalam rumah tangga. Jika anda ingin membaca artikel kami yang lain tentang pernikahan dan kehidupan dalam rumah tangga, anda dapat menemukannya di kategori Pernikahan.

Terima kasih. Tuhan memberkati. Amin.

2 tanggapan untuk “Apakah Pasangan Anda membuat Anda BAHAGIA?

  • 25/09/2015 pada 16:43
    Permalink

    saya ada pertanyaan…bagaimana bila pasangan hidup kita slalu membicarakan atau mengungkit2 masa lalu pasangannya sendiri?padahal kita tahu bahwa kita harus tetap melihat ke depan…karena masa depan kita masih panjang…dan masa depan sedang menunggu kita….tapi bagaimana menyikapi bila hal itu terjadi terus menerus di dalam kehidupan rumah tangga kita…???

    Balas
  • 15/10/2015 pada 01:04
    Permalink

    Selamat Malam Saudari Uthemerry, mohon maaf karena terlewati membalas pertanyaan anda.
    Bagaimana kita bersikap dengan pasangan kita yang masih selalu membicarakan masa lalu kita? Saran saya, anda harus bisa mulai untuk tidak terpengaruh akan hal ini, cara yang saya sarankan adalah sebagai berikut :
    1. Jika masa lalu yang selalu dibicarakan adalah sebuah kesalahan yang anda buat, mintalah maaf kepadanya, katakan bahwa anda menyesal dan berniat untuk memperbaikinya. Dan memang benar anda membuktikan anda memperbaikinya.
    2. Lupakan masa lalu itu, bagi anda sendiri, anda harus move on, mungkin pasangan anda belum move on dan terus mengungkitnya, biarkan saja, sekarang waktunya anda yang move on dan bangkit, tunjukkan sikap bahwa anda tidak terpengaruh akan masa lalu. Masa lalu memang membuat kita belajar dari kesalahan untuk menjalani kehidupan masa depan.
    3. Ketika pasangan anda mulai mengungkit masa lalu yang mungkin sangat membuat anda merasa tidak enak (mungkin masa lalu anda mendakwa anda dan mengingatkan akan kesalahan anda), Anda harus bisa cuek, katakan saja kepadanya bahwa “saya sudah minta maaf kepadamu”. Jangan ikut terbawa emosi. Tetap kerjakan peran anda dalam keluarga dan rumah tangga dengan baik.

    Saya merasakan bahwa orang yang mengungkit kesalahan orang lain sebenarnya adalah orang yang kurang dewasa, ada beberapa motif orang dalam mengungkit masa lalu:
    1. Dia belum bisa mengampuni anda.
    2. Dia memakai kesalahan masa lalu anda untuk men-drive anda, mengintimidasi anda, agar anda tunduk kepadanya, hal ini tentu tidak baik dalam keluarga. Penundukan dalam rumah tangga seharusnya berdasarkan sikap menghormati dan terutama adalah kasih. Penundukan dalam rumah tangga tidak boleh berdasarkan ketakutan.
    3. Mungkin juga dia hanya menutupi kesalahannya dengan menuduh/mendakwa orang lain.

    Karena dalam kasus anda ini adalah pasangan anda, tetap kasihi dia, tetap doakan dia, tetap sabar. Jika anda sudah meminta maaf kepadanya, jangan terpengaruh lagi akan hal-hal ini. Tetapi tetaplah berperan sebagai partner yang baik, sebagai penolong pasangan anda.

    Semoga dapat memberikan inspirasi kepada Anda. Terima kasih. Tuhan memberkati.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *