Bagaimana Anda Memandang Salib Kristus?

Saat-saat Paskah seperti ini, biasanya kita sebagai orang Kristen memandang salib sebagai tema utama saat ini. Gereja – gereja mengisi acara ibadah paskah dengan hal-hal yang memberikan fokus pada salib. Acara – acara tersebut yang dikemas dan dipersiapkan dengan baik, sering membawa umat untuk ber”simpati” dan ber”empati” terhadap Salib yang dijalani Tuhan Yesus. Diiringi dengan perasaan sedih, menunjukkan bahwa umat Kristen sedang berduka.

Namun, pernahkah saudara memikirkan, “Apakah hal ini (perasaan sedih dan simpati) cukup untuk menyenangkan Tuhan?

Apakah benar paskah adalah hanya sekedar sebuah peringatan bahwa Tuhan Yesus sudah mati di kayu salib dan kita hanya “setuju” atau “mengamini” bahwa pengorbananNya sudah menebus dosa-dosa kita dan membawa keselamatan bagi kita?

Hal ini tentu tidak salah, memang benar bahwa pengorbananNya adalah benar-benar membawa keselamatan bagi umat manusia.

Namun disamping hal itu, Didalam Salib Kristus ada PESAN yang benar-benar penting dan besar, dan tentunya lebih memberikan implikasi dalam hidup kita, dalam arti yang lain adalah membawa TANTANGAN yang selanjutnya harus kita tindak lanjuti secara nyata.

Bila kita tidak menangkap pesan dan menghayati arti dari salib Kristus ini, maka kuasa salib bagi pribadi kita menjadi sia-sia. Kuasa Salib yang maksudnya adalah maksud dan tujuan dari peristiwa salib itu dilaksanakan.

Pesan penting apakah yang dibawa oleh Salib Kristus?

Salib membawa pesan bahwa gaya hidup kita yang seperti anak-anak dunia harus diakhiri. Salib membawa makna bahwa kita harus mematikan gaya hidup kita yang lama, yang tidak sesuai dengan gaya hidup anak-anak Allah, dan mengenakan gaya hidup baru.

Salib juga membawa tantangan apakah kita sebagai orang-orang Kristen yang mengaku sudah percaya Tuhan Yesus, menjadi sahabat Allah atau seteru Allah?

Banyak orang Kristen yang mengaku percaya merasa bahwa dia sudah diperdamaikan dengan Allah karena sudah “percaya” kejadian atau peristiwa Salib Kristus. Namun sesungguhnya tidak seperti itu.

Tentu kita sudah tahu perkataan Tuhan Yesus didalam Matius 16:24

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”.

Yang juga tertulis di Markus 8:34 dan Lukas 9:23

Ayat ini sudah sangat terkenal dan tentunya sebagai orang Kristen kita sudah sering mendengarnya. Arti dari kalimat Tuhan Yesus ini pun tidak perlu ditafsirkan macam-macam, karena memang sudah sangat jelas sekali maksudnya. Mari kita perjelas lagi.

SETIAP (semua) orang yang mau MENGIKUT Aku, ia HARUS (tidak bisa tidak) MENYANGKAL DIRInya, MEMIKUL SALIBnya dan mengikut AKU (TUHAN YESUS).

Setiap orang yang tidak mau menyangkal dirinya dan tidak mau memikul salibnya, dia tidak layak mengikut Tuhan Yesus.

Kita bisa lihat disini bahwa Salib Kristus tidak sekejab (seketika) membuat kita diperdamaikan dengan Allah. Memang dengan Salib Tuhan Yesus itu kita mendapat kesempatan untuk diperdamaikan sempurna dengan ALLAH BAPA dengan cara mengikut Tuhan Yesus, dan syarat ikut Tuhan Yesus adalah menyangkal diri dan memikul salib.

Salib Kristus
Salib Kristus

Tidak ada orang Kristen, atau yang mengaku Kristen, bisa tidak menyangkal diri.

Tidak ada orang Kristen, atau yang mengaku Kristen, boleh tidak memikul salib.

Semua orang Kristen, atau yang mengaku Kristen, yang mengikut Tuhan Yesus, HARUS menyangkal diri dan memikul salib.

Kita tidak bisa bersikap netral dalam hal ini. Pilihannya hanya ada dua, menjadi sekutu Allah atau seteru Allah. Menjadi sekutu Salib Kristus atau seteru Salib Kristus. Kita tidak bisa mengabdi kepada dua Tuan.

Roma 6:6

Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.

Sebagai sekutu salib, kita harus menyalibkan manusia lama kita. Kita yang dahulu sebagai hamba dosa, sekarang kita jangan lagi menghambakan diri kepada dosa.

Kata DOSA untuk ayat diatas dalam bahasa Yunani aslinya adalah HAMARTIA, yang artinya “meleset”, “tidak tepat”, “to miss the mark”, tidak tepat sasaran.

Saudara bisa melihat referensi bahasa asli ayat tersebut di link ini: Roma 6:6 SABDA

Dan, pengertian Hamartia di sini: Hamartia, SABDA

Arti meleset bagi orang-orang Kristen saat ini bukan hanya meleset karena tidak melakukan hukum Allah, tetapi meleset dalam hal melakukan kehendak Allah.

Seperti dalam kisah orang kaya dalam Matius 19 : 16 – 22, yang mengatakan bahwa dia dengan sempurna melakukan hukum taurat dan Tuhan Yesus tidak membantahnya, karena memang benar orang bisa saja melakukan hukum dengan tepat dan sempurna. Banyak agama-agama yang mempunyai tatanan hukum yang dengan setia dan sempurna ditaati oleh umatnya.

Namun apa selanjutnya ketika Tuhan Yesus mengatakan kepada orang itu, bahwa dia harus menjual seluruh hartanya dan membagikan kepada orang miskin, dan diajak oleh Tuhan untuk mengikuti Dia; orang kaya itu menolak.

Untuk menjadi orang yang taat menuruti hukum dengan sempurna bisa saja dan sangat mungkin dilakukan, tetapi untuk menuruti kehendak Allah, belum tentu orang mau melakukan.

Dulu orang Israel tidak berhubungan dengan ALLAH secara langsung, mereka berurusan dengan ALLAH ELOHIM melalui imam-imam dan hukum taurat. Mereka dengan tekun melakukan hukum taurat dan ada dari mereka yang tepat sekali dan sempurna melakukan hukum taurat.

Tetapi berbahagialah bagi orang Kristen sekarang, dengan melalui kesempurnaan pengorbanan Kristus diatas Salib, kuasa kebangkitanNya dan kenaikanNya kesorga, serta diutusnya Roh Kudus kedalam diri kita, karena ada tertulis bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus, maka kita sebagai orang Kristen bisa berhubungan langsung dengan ALLAH. Kita bisa mengerti kehendakNya melalui Roh Kudus yang ada dalam diri kita.

Namun yang menjadi masalah adalah;

Bagaimana kita bisa melakukan kehendakNYA, jika kita tidak mengerti kehendakNya?

Bagaimana kita bisa mengerti kehendak ALLAH jika kita tidak memiliki kepekaan mendengar suaraNya?

Bagaimana kita bisa memiliki kepekaan, jika kita tidak TEKUN mempelajari Firman Tuhan?

Bagaimana kita bisa tekun mempelajari Firman Tuhan, jika kita masih mencintai dunia ini?

Ini yang dinamakan menyangkal diri, yaitu bahwa kita meninggalkan kecintaan dengan dunia ini. Menyangkal diri dan menyalibkan daging juga bisa berarti hidup dalam ketertundukan kepada Allah dan mengesampingkan segala keinginan kita sendiri (keinginan daging).

Paulus mengatakan dalam suratnya kepada Jemaat Filipi dalam Filipi 3:1-9, bahwa dia tidak bercacat dalam melakukan hukum taurat.

Filipi 3:1 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan.(3-1b) Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.

3:2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,

3:3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.

3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:

3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,

3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

 

Menyangkal diri juga adalah kesediaan untuk tidak sama dengan dunia ini.

Roma 12 : 2

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Agar tidak serupa dengan dunia ini, harus ada perubahan mindset yang terus menerus dikerjakan oleh pemberitaan kebenaran Firman dalam pikiran, sehingga kita bisa mengetahui kehendak Allah yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.

Pembaharuan budi baru terjadi jika hidup lama kita dimatikan dulu.

Memikul salib adalah kesadaran penuh untuk mematikan keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Dalam perjanjian lama, ada ritual persembahan korban bakaran yang dilakukan oleh umat Israel yang mana, daging hewan itu dipotong-potong dan mati, dan kemudian dibakar sampai habis, sehingga asap korban bakaran itu menjadi harum-haruman yang menyenangkan Allah.

Ini bisa menjadi analogi kita untuk menyenangkan Allah, yaitu kita rela mengorbankan “kehidupan daging” kita, mati, dan dibakar habis untuk persembahan yang menyenangkan Allah.

Roma 12:1

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup , yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Semoga melalui Paskah ini, kita semakin memahami, menghayati dan menghidupi pesan dan tantangan dari Salib pengorbanan yang sudah Tuhan Yesus lakukan di bukit Kalvari.

Dan kita tetap mengerjakan keselamatan kita dengan merespon Salib yang sudah Tuhan kerjakan

Salib adalah jalan kehidupan ketika kita berani membunuh keinginan diri, menyangkal diri.

Salib adalah alat transaksi untuk kemuliaan yang akan kita dapatkan nanti.

Galatia 5: 24-25

Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *